Hizbullah: Negosiasi Langsung dengan Zionis Berarti Menyerah pada Keinginan Musuh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i191382-hizbullah_negosiasi_langsung_dengan_zionis_berarti_menyerah_pada_keinginan_musuh
Pars Today - Anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon menyatakan bahwa negosiasi langsung pemerintah negaranya dengan rezim Zionis berarti mendiktekan kondisi dan mewujudkan tuntutan musuh Zionis.
(last modified 2026-06-13T05:19:49+00:00 )
Jun 13, 2026 12:18 Asia/Jakarta
  • Hassan Ezzeddin , anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon
    Hassan Ezzeddin , anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon

Pars Today - Anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon menyatakan bahwa negosiasi langsung pemerintah negaranya dengan rezim Zionis berarti mendiktekan kondisi dan mewujudkan tuntutan musuh Zionis.

Melansir IRNA, 13 Juni 2026, ParsToday melaporkan bahwa Hassan Ezzeddin , anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon, dalam wawancaranya dengan jaringan Al-Mayadeen mengatakan, "Negosiasi langsung dengan rezim penjajah Israel sama sekali tidak penting bagi Hizbullah, dan itu merupakan bentuk pemaksaan kondisi yang menguntungkan musuh Zionis."

Ezzeddin mengatakan, "Hasil apa pun dari negosiasi langsung antara pejabat Lebanon dan pihak Israel, bahkan nilai dari tulisan yang digunakan dalam teks perjanjian itu pun, tidak ada artinya sama sekali."

Anggota Fraksi Loyalitas pada Perlawanan di Parlemen Lebanon meminta para pejabat negaranya untuk menjauhi "dosa" melakukan negosiasi langsung dengan musuh dan menjauhi keputusan-keputusan yang telah diambil sebelumnya.

Hassan Ezzeddin, merujuk pada banyak pertanyaan mengenai tahap pascagencatan senjata, yang pertama adalah penarikan rezim Israel dari Lebanon dan kembalinya para pengungsi, menegaskan bahwa gencatan senjata yang dibarengi dengan masih adanya rezim penjajah Israel di Lebanon selatan tidak akan menghasilkan apa pun.

Pernyataan Ezzeddin ini disampaikan sementara seorang pejabat resmi Lebanon mengatakan kepada koresponden Al-Mayadeen bahwa putaran kelima negosiasi dengan perwakilan rezim Israel akan dimulai pada tanggal 22 Juni (1 Juli) di Washington.

Rezim Israel sejak 2 Maret lalu telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Lebanon. Menurut data hingga Rabu (10/6), serangan ini telah mengakibatkan 3.696 orang gugur (syahid) dan 11.413 orang luka-luka.

Hassan Ezzeddin menggunakan kata "dosa" untuk negosiasi langsung dengan Israel, bukan sekadar "kesalahan strategis" atau "tidak menguntungkan". Ini bahasa teologis. Artinya: ini bukan sekadar perbedaan pendapat, ini pelanggaran prinsip yang tidak bisa ditawar. Catat tanggal 22 Juni di Washington. Jika negosiasi itu gagal (dan Hizbullah akan memastikannya sulit berhasil), siklus serangan-balasan akan dimulai lagi. Pertanyaannya: apakah Lebanon bisa menanggung lebih banyak korban? Apakah Israel bisa menanggung lebih banyak kecaman global? Atau semua pihak hanya sedang "bermain sandiwara" untuk meredakan tekanan domestik masing-masing, sambil tetap bersiap untuk perang berikutnya?(Sail)