Perang Multifront, Dompet Jebol: Tentara Israel Kurangi Pasukan
-
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Pars Today - Perang di beberapa front telah menimbulkan beban berat bagi tentara Zionis, hingga kini media-media Ibrani mulai memberitakan dimulainya pengurangan besar-besaran pasukan cadangan. Keputusan ini, lebih dari sekadar langkah militer, berakar pada krisis anggaran dan tekanan finansial.
Melansir Fars News, 11 Juli 2026, di tengah krisis finansial dan perselisihan mengenai anggaran militer, tentara rezim Zionis memulai proses pengurangan besar-besaran pemanggilan pasukan cadangan. Langkah ini digambarkan oleh media-media Ibrani sebagai indikasi menurunnya intensitas konflik di beberapa front dan kembalinya secara bertahap ke kondisi normal.
Surat kabar Yedioth Ahronoth pada hari Jumat (10/7) melaporkan bahwa tentara Israel memulai operasi besar-besaran untuk mengurangi jumlah pasukan cadangan yang bertugas aktif. Keputusan ini diambil hanya beberapa hari setelah beredarnya laporan-laporan mengenai kesulitan keuangan yang dihadapi militer. Menurut sumber-sumber militer, keputusan ini didasarkan pada penilaian operasional terbaru.
Berdasarkan pengumuman militer, jumlah pasukan cadangan serta jumlah "perintah pemanggilan nomor 8" akan dikurangi. "Perintah nomor 8" adalah mekanisme khusus pengerahan darurat pasukan cadangan dalam kondisi perang atau keadaan darurat, yang telah digunakan secara luas sejak pecahnya perang Gaza pada 7 Oktober 2023.
Tentara Israel menyatakan bahwa pengurangan pasukan ini akan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi setiap front operasional, serta para komandan telah memberitahukan keputusan ini kepada pasukan mereka. Namun, militer mengklaim bahwa mereka tetap akan menjaga keamanan Israel di semua front.
Menurut laporan Yedioth Ahronoth, sejak pekan lalu pasukan cadangan telah diberi tahu bahwa militer akan segera mengurangi secara signifikan jumlah panggilan darurat. Di salah satu unit, pasukan juga diberitahu bahwa mulai pekan depan jumlah pasukan aktif akan berkurang sekitar 50 persen. Selain itu, banyak kegiatan yang tidak diperlukan dan tidak berhubungan langsung dengan misi operasional juga akan dihentikan.
Surat kabar ini menekankan bahwa pengurangan pasukan tidak hanya terbatas pada unit-unit pertahanan regional, tetapi juga mencakup berbagai bagian operasional dan bahkan markas-markas komando militer. Menurut militer, keputusan ini diambil karena berkurangnya kebutuhan operasional terhadap sebagian pasukan cadangan dan penghapusan misi-misi yang secara militer tidak lagi diperlukan untuk dilanjutkan.
Menurut laporan surat kabar ini, langkah ini diambil bersamaan dengan meredanya konflik di beberapa front secara relatif. Setelah perang Gaza dimulai, tentara Israel memanggil ratusan ribu pasukan cadangan, dan dengan meluasnya konflik ke Lebanon, Yaman, dan Iran, jumlah pasukan aktif meningkat secara dramatis.
Sebelumnya, surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa militer berencana untuk membebastugaskan ribuan pasukan cadangan hingga akhir bulan ini. Berdasarkan laporan tersebut, jumlah pasukan cadangan aktif akan berkurang dari sekitar 60 ribu menjadi mendekati 50 ribu orang, langkah yang mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap anggaran lembaga militer Israel.
Keputusan ini diambil di tengah krisis pendanaan yang parah yang dihadapi tentara Israel. Lonjakan biaya perang yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menciptakan defisit anggaran setara puluhan miliar shekel bagi lembaga ini. Media-media Ibrani, termasuk Yedioth Ahronoth dan Calcalist, melaporkan bahwa pengurangan pasukan juga mencakup unit-unit yang bertugas dalam sistem yang disebut "pertahanan regional", pasukan yang bertanggung jawab melindungi permukiman-permukiman Zionis di sekitar Jalur Gaza dan Tepi Barat. Jumlah staf yang ditempatkan di pusat-pusat komando militer juga akan dikurangi.
Perkembangan ini terjadi di tengah perselisihan mendalam antara Kementerian Perang dan Kementerian Keuangan Israel mengenai anggaran pertahanan. Kementerian Perang menuntut peningkatan anggaran militer yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menutupi biaya konflik di beberapa front, tetapi Kementerian Keuangan menolak permintaan tersebut karena dianggap akan memperburuk defisit anggaran.
Berdasarkan laporan media-media Ibrani, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan sementara yang memberikan anggaran tambahan secara bersyarat kepada militer, dengan syarat bahwa ketergantungan pada pasukan cadangan dikurangi dan biaya operasional militer juga dibatasi.(Sail)