Ansarullah: Yaman Bukan Rebutan Mudah, Saudi Akan Menanggung Akibatnya
-
Muhammad al-Farah, anggota terkemuka Dewan Politik Gerakan Ansarullah Yaman
Pars Today - Para pejabat Ansarullah mengatakan bahwa Yaman bukanlah rebutan yang mudah bagi Saudi, dan Arab Saudi akan membayar harga atas kejahatan dan kesombongannya.
Sebagaimana dilaporkan Tasnim News, 23 Juli 2026, menyusul implementasi strategi Yaman terhadap Arab Saudi dengan judul "blokade balas blokade", para pejabat dan petinggi Yaman menekankan bahwa blokade ini akan terus berlanjut sampai kekalahan total musuh.
Muhammad al-Farah, anggota terkemuka Dewan Politik Gerakan Ansarullah Yaman, dalam pernyataannya mengenai hal ini mengatakan bahwa sikap keras kepala dan keinginan terus-menerus Arab Saudi untuk melanjutkan blokade dan agresi 11 tahun terhadap Yaman, akan menjerumuskan Saudi ke dalam nasib Fir'aun. Hukum-hukum Tuhan tentang para penindas tidak berubah; dan memaksakan kezaliman dan kesombongan hanya akan membawa kerugian.
Ia menambahkan, "Ketika Tuhan ingin menghancurkan dan menenggelamkan seorang penindas, Dia menjadikannya sombong dan keras kepala; dan ketika ia menyesal, penyesalannya tidak berguna."
Anggota Ansarullah ini berbicara kepada Saudi, mengatakan bahwa "rebutan ini (Yaman) terlalu besar untuk kalian, dan kalian tidak akan mampu menelannya".
Muhammad al-Farah menyatakan, "Apa yang terjadi hari ini pada rezim Saudi adalah tanda-tanda keruntuhan rezim yang telah merugikan semua orang di kawasan."
Tokoh Yaman ini mengatakan, "Arab Saudi bisa, dengan satu keputusan, mencabut embargo, mengakhiri blokade, dan mengembalikan sumber daya rakyat kita, yang sangat kecil dibandingkan dengan minyak Saudi."
Ia menekankan bahwa Arab Saudi dapat menghentikan agresinya, menarik pasukannya dari Yaman, memberikan kompensasi kepada semua pihak yang menderita kerugian di negara kita, yang hak-haknya telah dipotong dan rumah-rumahnya hancur, serta berhenti campur tangan dalam urusan negara kita.
Al-Farah menambahkan bahwa Arab Saudi memiliki minyak, tanah, laut, pantai yang cukup, dan ambisi ekonomi yang besar, dan tidak perlu menenggelamkan diri dalam rawa Yaman, atau melakukan kejahatan mengerikan, pertumpahan darah, dan bencana yang tak terampuni ini.
Pejabat Ansarullah ini melanjutkan bahwa Arab Saudi, sebagai akibat dari kezaliman dan penindasan yang telah dilakukannya, akan bernasib seperti Fir'aun dan akan membayar harga kesombongannya.
Fadhl Abu Talib, Sekretaris Jenderal Dewan Politik Ansarullah, juga pada gilirannya mengatakan, "Setelah kami mencoba semua opsi politik, musuh Saudi tidak meninggalkan pilihan bagi kami selain menerapkan strategi 'blokade balas blokade'."
Ia menambahkan, "Bagaimana Arab Saudi bisa berhak melakukan blokade total terhadap Yaman, sementara Yaman tidak berhak mencabut blokade yang dipaksakan atasnya?"
Pejabat Ansarullah ini menekankan bahwa kebijakan Arab Saudi terhadap Yaman adalah: rakyat Yaman harus tunduk pada rezim Saudi, atau mati kelaparan, dan itulah inti ceritanya.
Fadhl Abu Talib mengatakan, "Negara-negara yang bergabung dengan koalisi agresor Saudi dalam agresi dan blokade terhadap rakyat Yaman, adalah negara-negara yang sama yang hari ini mengutuk upaya Yaman untuk mencabut blokade. Sebenarnya, ini adalah kebiasaan rezim-rezim Arab: selalu mengutuk korban dan mendorong algojo."
Sekretaris Jenderal Dewan Politik Ansarullah menekankan bahwa rezim Saudi harus mengkaji kembali sikap bermusuhannya terhadap Yaman, dan alih-alih melanjutkan agresi dan ketidakadilan yang dipaksakan pada rakyat Yaman, mencabut blokade.
Pernyataan-pernyataan ini muncul bersamaan dengan implementasi blokade praktis Yaman terhadap Arab Saudi, dan pagi ini juga, pihak Yaman mengumumkan penargetan dua kapal tanker Saudi di Laut Merah.
Brigadir Jenderal Yahya Saree, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, mengumumkan bahwa dalam sebuah operasi militer khusus, dua kapal tanker Saudi bernama "ENCELIA" dan "LAYLA" menjadi sasaran. Kedua kapal tanker ini menjadi sasaran operasi ini karena melanggar keputusan larangan lalu lintas di Laut Merah.
Ia menambahkan, "Operasi ini dilakukan dengan menggunakan beberapa rudal balistik, rudal jelajah, dan drone; dan serangan mengenai sasaran dengan presisi, sehingga kedua kapal tanker tersebut terbakar."
Jubir Angkatan Bersenjata Yaman juga mengumumkan bahwa dalam operasi ini, hampir 10 kapal terpaksa menghentikan perjalanan mereka dan kembali.
Yahya Saree juga mengatakan bahwa pasukan bersenjata Yaman akan terus melanjutkan operasi maritim mereka terhadap Arab Saudi untuk memaksakan strategi "blokade balas blokade".
Ia akhirnya memperingatkan Arab Saudi bahwa setiap "tindakan bodoh" atau serangan terhadap Yaman akan dihadapi dengan operasi-operasi besar-besaran di kedalaman tanah Arab Saudi.(Sail)