Perlawanan, 20 Tahun Setelah Perang 33 Hari
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i194988-perlawanan_20_tahun_setelah_perang_33_hari
Rezim Zionis pada tahun 2006 memaksakan perang terhadap Hizbullah Lebanon yang berlangsung selama 33 hari. Tujuannya adalah menghapus perlawanan, baik di Lebanon maupun di kawasan Asia Barat.
(last modified 2026-08-16T04:47:54+00:00 )
Aug 16, 2026 11:15 Asia/Jakarta
  • Perlawanan, 20 Tahun Setelah Perang 33 Hari

Rezim Zionis pada tahun 2006 memaksakan perang terhadap Hizbullah Lebanon yang berlangsung selama 33 hari. Tujuannya adalah menghapus perlawanan, baik di Lebanon maupun di kawasan Asia Barat.

Perang tahun 2006 berakhir dengan kekalahan rezim Zionis. Pada peringatan 20 tahun Perang 33 Hari, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qassem, mengatakan: “Pertempuran bersejarah ini tidak hanya menghasilkan pembebasan para tawanan dan tahanan, tetapi juga menggagalkan sepenuhnya rencana yang diklaim Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Condoleezza Rice, mengenai pembentukan ‘Timur Tengah Raya’ dan penggambarannya sebagai ‘rasa sakit melahirkan tatanan baru’.” Pada peringatan 20 tahun berakhirnya Perang 33 Hari, pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana kondisi perlawanan saat ini?"

Analisis terhadap kondisi politik dan keamanan di Asia Barat menunjukkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, gerakan perlawanan telah berubah menjadi aktor yang terorganisasi, terpadu, dan memiliki keterhubungan regional, sehingga para aktor dalam Poros Perlawanan tidak dapat lagi dianalisis semata-mata dalam kerangka nasional.

Perlawanan telah melampaui karakter yang semata-mata Lebanon dan Palestina, dan juga berkembang di negara-negara lain di kawasan, termasuk Irak dan Yaman. Dua puluh tahun setelah Perang 33 Hari pada 2006, konsep perlawanan telah berubah dari sebuah entitas lokal dan nasional menjadi jaringan regional. Jaringan ini, melalui pembentukan jalur-jalur keterhubungan, mampu mempertahankan daya tangkalnya dalam menghadapi teknologi militer canggih.

Hal penting lainnya adalah bahwa dalam 20 tahun terakhir, perlawanan juga mengalami penguatan dari sisi militer. Kemampuan rudal dan drone mereka meningkat, berkembang dari persenjataan terbatas menjadi persenjataan presisi dan drone kamikaze. Saat ini, Yaman memiliki rudal yang mampu menargetkan infrastruktur rezim Zionis. Hizbullah Lebanon juga memiliki kemampuan di bidang drone yang bahkan lebih kuat dibandingkan sebagian besar angkatan bersenjata negara-negara di kawasan. Kemampuan tersebut membuat musuh Zionis, bahkan dengan bantuan penuh Amerika Serikat, bukan hanya tidak mampu menghancurkan Hizbullah Lebanon dan perlawanan Palestina, tetapi juga gagal menghilangkan kemampuan militer mereka.

Poin ketiga: dalam tiga tahun terakhir, musuh Zionis telah menewaskan banyak pemimpin dan komandan perlawanan, sebagaimana kejahatan serupa juga dilakukan pada periode 2006 hingga 2023. Namun, kejahatan-kejahatan tersebut tidak menyebabkan keruntuhan perlawanan. Sebaliknya, hal itu justru membuktikan dinamika struktural perlawanan.

Dalam konteks ini, Syekh Naim Qassem menyatakan: “Agresi besar-besaran rezim Zionis pada September 2024 dan aksi-aksi teroris seperti ledakan pager, meskipun disertai gugurnya para pemimpin dan komandan penting seperti Sayyed Hassan Nasrallah dan Sayyed Hashem Safieddine serta menimbulkan sejumlah kerugian, tidak mampu melumpuhkan struktur dan kehendak perlawanan.”

Struktur dan kehendak tersebut saat ini bahkan lebih kuat dibandingkan sebelumnya dan telah melewati fase perang eksistensial.

Poin keempat: perlawanan saat ini bukan semata-mata aktor militer, tetapi juga memiliki kehadiran yang kuat dan berpengaruh di ranah politik. Pembentukan pemerintahan di Lebanon dan Irak tidak mungkin dilakukan tanpa mempertimbangkan posisi perlawanan.

Di Sana'a, ibu kota Yaman, Ansarullah dan para sekutunya juga telah membentuk pemerintahan dan menjadi aktor Yaman yang paling terorganisasi dan terpadu. Pada saat yang sama, mereka memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, membela Yaman, serta mendukung perlawanan dengan memanfaatkan kemampuan militer dan geopolitik, termasuk mengendalikan Bab al-Mandab.

Hal ini merupakan salah satu perkembangan paling penting dalam perubahan posisi perlawanan di kawasan Asia Barat.