Emil Lahoud: Perlawanan Satu-satunya Jalan Hadapi Musuh Zionis
-
Emil Lahoud, mantan Presiden Lebanon
Pars Today - Presiden sebelumnya Lebanon mengatakan bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan menghadapi musuh Zionis, karena Lebanon telah mundur secara sepihak sementara musuh terus melanjutkan agresinya.
Melansir IRNA yang mengutip jaringan Russia Today, Selasa, 08 September 2026, Emil Lahoud dalam surat belasungkawa yang ditujukan kepada keluarga para syuhada di Lebanon selatan menulis, "Sungguh memprihatinkan bahwa kita harus mengulangi kata-kata ini hampir setiap minggu, sementara Barat, khususnya Amerika yang seharusnya menjadi penjamin kesepakatan gencatan senjata, hanya menyaksikan, dan kesepakatan-kesepakatan itu hanya tinggal di atas kertas."
Ia menambahkan, "Sejak kita duduk di meja perundingan dengan musuh ini, ia terus melancarkan serangan dan tidak pernah segan menargetkan warga sipil, apalagi membakar lahan dan menghancurkan desa-desa dengan buldoser."
Presiden sebelumnya Lebanon menambahkan, "Musuh ini tidak menghentikan dan tidak akan menghentikan perluasan serangannya, karena ia hanya percaya pada logika kekuatan."
Ia mengatakan, "Ucapan ini mungkin tidak menyenangkan bagi sebagian orang yang, karena alasan politik internal, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa menyerah di hadapan musuh ini dengan kedok damai adalah satu-satunya jalan keselamatan."
Lahoud menegaskan, "Kami meyakini bahwa perlawanan, disertai dengan pemutusan total semua hubungan dengan musuh Zionis hingga ia melaksanakan apa yang telah disepakati sebelumnya, adalah satu-satunya jalan, karena Lebanon telah memberikan konsesi secara sepihak dan itu adalah hasil terburuk yang mungkin terjadi, dan alasannya adalah apa yang kita saksikan dalam pengungsian, kehancuran, dan kematian."
Ia menambahkan, "Jika sebagian orang telah yakin bahwa kekuatan kita terletak pada kelemahan kita dan pada penerimaan status quo, maka setidaknya biarkan mereka menerima satu hal, yaitu kembali ke status quo gencatan senjata, alih-alih terus menyerah pada kebijakan bumi hangus yang diterapkan oleh Israel."
Mantan Presiden Lebanon menyatakan, "Musuh Zionis berupaya, dalam upaya yang sia-sia, untuk menghilangkan posisi rakyat Lebanon sebagai bangsa yang gigih [berlawanan], yang telah diraih oleh rakyat selatan."
Rezim Zionis sejak 2 Maret telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Lebanon yang, selain mengakibatkan gugur dan terlukanya sejumlah warga Lebanon, juga menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi, dan sebagian wilayah di selatan negara itu masih diduduki rezim tersebut.
Sementara itu, Lebanon dan rezim Zionis bulan lalu menandatangani "kesepakatan kerangka" dengan mediasi Amerika, kesepakatan yang diklaim bertujuan mengakhiri perang antara rezim Israel dan Hizbullah. Kesepakatan ini dicapai setelah beberapa putaran perundingan langsung antara kedua pihak di Washington.
Namun demikian, kesepakatan ini juga menghadapi kritik. Para kritikus merujuk pada ketidakjelasan status hukum kesepakatan dan tidak adanya jadwal waktu yang jelas bagi penarikan pasukan Zionis.
"Emil Lahoud, mantan Presiden Lebanon, dengan tegas menyatakan bahwa perlawanan adalah satu-satunya cara menghadapi Israel, karena Lebanon justru merugi dengan memberi konsesi sepihak sementara Israel terus melakukan agresi, membakar lahan, dan menghancurkan desa. Lahoud mengkritik Amerika yang menjadi penjamin gencatan senjata tetapi hanya 'menyaksikan' tanpa tindakan nyata. Ia juga menyoroti bahwa perundingan justru tidak menghentikan serangan Israel. Di sisi lain, meskipun ada 'kesepakatan kerangka' yang ditandatangani bulan lalu di bawah mediasi AS, kesepakatan itu dinilai ambigu dan tidak memiliki jadwal penarikan pasukan Israel yang jelas."(Sail)