Imam Shadiq as Pecinta Siapa?
-
imam shadiq as
Ammar bin Hayyan berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Ismail putra saya sangat baik sikapnya kepada saya.”
Imam Shadiq as berkata, “Aku dulu mencintainya, sekarang aku lebih mencintainya.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Rasulullah Saw memiliki saudara perempuan sesusuan. Suatu hari saudarinya ini datang menemui beliau. Begitu Rasulullah Saw melihatnya, beliau merasa gembira dan menghamparkan alas duduknya untuk saudarinya dan mempersilahkannya duduk dan melayaninya dengan ramah dan penghormatan dan tersenyum kepadanya, sampai ketika pamitan kepada beliau dan pergi.
Kebetulan pada hari itu juga saudara lelaki sesusuannya juga datang kepada beliau tapi beliau tidak menyambutnya sebagaimana saat menyambut saudara perempuannya.
Sebagian sahabat berkata, wahai Rasulullah, Anda tidak memperlakukan saudara lelaki Anda sebagaimana yang Anda lakukan kepada saudara perempuan Anda. Padahal dia lelaki.
Rasulullah Saw bersabda, “Sebab aku lebih menghormatinya adalah karena anak perempuan ini lebih banyak berbuat baik kepada ayah dan ibunya.”
Wasiat Imam Shadiq as Terkait Salat dan Silaturrahim
Salah satu budak perempuan Imam Shadiq as mengatakan, “Ketika Imam Shadiq as mendekati syahadahnya, beliau membuka matanya dan berkata, “Hadirkan keluargaku.” Kami menghadirkan mereka semua. Kepada mereka beliau berkata, “Sesungguhnya syafaat kami tidak sampai kepada orang yang meremehkan salat.” Kemudian beliau melanjutkan, “Berikan uang ini kepada fulan dan fulan.”
Saya katakan, “Apakah Anda berpesan bahwa kami harus berikan uang kepada orang yang memusuhi Anda dan bersikap buruk sampai pada batas ingin membunuh Anda?”
Beliau berkata, “Apakah engkau ingin aku tidak tercakup oleh ayat ini? “Dan mereka yang menyambung ikatan yang diperintahkan Allah [yakni mereka yang melakukan silaturrahim] akan mendapatkan akibat yang baik di alam lain.”
Iya Allah telah menciptakan surga. Mensucikannya dan mengharumkannya. Keharumannya tidak sampai pada penciuman orang yang membuat ayah dan ibunya marah dan memutuskan silaturrahim dengan keluarganya.
Bertahan Di Hadapan Tagut
Manshur Dawaniqi pada tahun 147 Hq menunaikan ibadah haji ke Hijaz. Kemudian dari sana dia pergi ke Madinah. Kepada menteri kerajaannya; Rabi’, ia memerintahkan, “Utuslah seseorang untuk menemui Jakfar bin Muhammad dan bawalah dia ke sini! Semoga Allah membunuhku, bila aku tidak membunuhnya.”
Akhirnya secara paksa Imam Shadiq datang kepada Manshur. Sebelum bertemu dengan Manshur, Rabi' berkata kepada Imam, “Semoga Allah menolongmu. Aku mendapati Manshur begitu marah terhadapmu. Tidak ada yang bisa menghalanginya dari gangguannya terhadapmu, selain Allah.”
Imam Shadiq as berkata, “La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.”
Kemudian Rabi’ mengabarkan kedatangan Imam Shadiq as kepada Manshur. Ketika Imam Shadiq as masuk, Manshur bersikap kasar dan congkak seraya berkata, “Masyarakat Irak telah menetapkanmu sebagai imam dan zakat hartanya dikirim kepadamu dan mengancam kerajaanku. Semoga Allah membunuhku, bila aku tidak membunuhmu.”
Imam Shadiq as berkata, “Telah diberikan nikmat yang banyak kepada Sulaiman as, beliau bersyukur dan kepada Ayyub segala penderitaan, beliau bersabar...”
Ucapan Imam Shadiq mengubah Manshur. Dari sejak saat itu Manshur benar-benar menghormati Imam Shadiq as dan dengan penuh penghormatan dia mengiringi Imam Shadiq as saat mau pulang ke rumahnya.
Rabi’ mengatakan, “Saya pergi mengikuti Imam Shadiq as dan berkata, “Ketika Anda masuk menemui Manshur, dia bak menara bisa ular. Tapi ketika Anda keluar, hatinya begitu lembut kepada Anda, sehingga dia mengiringi Anda dengan penuh penghormatan, memangnya Anda berbicara apa?”
Imam Shadiq berkata, “Aku menghadap kepada Allah dan berkata, “Ya Allah! Demi mata-Mu yang tidak tidur, lindungilah aku dan tetapkanlah aku di bawah naungan tiang-Mu yang kokoh dan tidak bisa diganggu!”
Peringatan Keras Terkait Teman Pengumpat
Imam Shadiq as punya seorang teman akrab yang selalu bersamanya. Suatu hari temannya ini berkata kasar kepada budaknya dan mengumpatkan sesuatu kepada ibunya budak ini.
Ketika Imam Shadiq as mendengar umpatan ini darinya, beliau benar-benar tidak suka dan mengangkat tangannya lalu menampar dahinya keras-keras dan berkata, “Subahnallah. Apakah engkau mengaitkan sesuatu yang tidak baik kepada ibunya?”
Aku selama ini melihat engkau sebagai orang yang bertakwa, tapi sekarang aku melihatmu bukan orang yang bertakwa.
Teman Imam Shadiq ini berkata kepada beliau, “Aku sebagai tebusanmu. Ibunya budak ini adalah warga India dan penyembah berhala.”
Imam Shadiq as berkata kepadanya, “Apakah engkau tidak tahu, setiap umat memiliki undang-undang pernikahan di antara mereka sendiri? Menjauhlah dariku!”
Dari saat itu terjadilah perpisahan di antara keduanya, dan sampai akhir hayat perpisahan ini berlanjut. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as