Ancaman Terorisme di Asia Tenggara
Inspektur jenderal kepolisian Malaysia menyatakan sekitar 50 orang warga Malaysia yang bergabung dengan kelompok teroris Daesh di Suriah sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke negaranya.
Khalid Abu Bakar dalam sebuah pertemuan di Universitas Sabah Malaysia (UMS), mengatakan, sebanyak delapan orang telah kembali ke Malaysia, dan 49 orang lainnya sedang bersiap-siap kembali ke negara ini. Menurutnya, saat ini kelompok ekstrem sedang meningkatkan penyebaran ideologinya melalui media sosial. Khalid Abu Bakar menegaskan, anggota kelompok ekstrem menggunakan wilayah Sabah sebagai jalur transit menuju ke negara tetangga.
Pernyataan inspektur jenderal Malaysia tersebut menunjukkan kekhawatiran para pejabat Kuala Lumpur terhadap potensi serangan teroris dengan kembalinya mereka. Aksi pertama serangan teroris Daesh di Malaysia dimulai Juli 2016 yang mengindikasikan terjadinya penguatan jaringan kelompok teroris di Asia Tenggara.
Kini, kekhawatiran terhadap serangan teroris Daesh tidak hanya terjadi di Malaysia tapi juga hampir menimpa seluruh negara kawasan Asia Tenggara.
Potensi kembalinya sebagian warga negara Indonesia dan Filipina yang bergabung dengan kelompok teroris Daesh di Suriah menambah daftar panjang kekhawatiran pejabat dan rakyat di kawasan Asia Tenggara terhadap munculnya ancaman serangan terorisme.
Apalagi, kondisi kelompok teroris di Irak dan Suriah semakin terjepit, dan anggotanya mulai meninggalkan dua negara itu menuju negara asalnya masing-masing.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran lebih besar mengenai dijadikannya kawasan Asia Tenggara sebagai target kelompok teroris Daesh. Menyikapi masalah ini, Perdana menteri Malaysia, Najib Tun Razak, Presiden Indonesia, Joko Widodo dan presiden Filipina, Rodrigo Duterte bertemu untuk membahas aksi bersama kontraterorisme.
Kembalinya milisi-milisi teroris ke negara asalnya di Asia Tenggara dari Suriah dan Irak yang meningkatkan potensi serangan teroris di sana berlangsung di saat Arab Saudi meningkatkan manuver politiknya dalam menyebarkan ajaran radikalisme di kawasan. Kepentingan Riyadh tersebut dibungkus dalam bentuk kunjungan resmi kenegaraan dan liburan raja Salman bersama anggota rombongannya ke Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam.