Petualangan AS di Timur Tengah
Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Hossein Dehqan pada hari Rabu (26/4/2017) menghadiri pembukaan Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, Rusia.
Konferensi Keamanan Internasional Moskow dilaksanakan dengan dihadiri oleh perwakilan dari hampir 80 negara dunia pada tingkat menteri pertahanan, kepala staf gabungan angkatan bersenjata, dan komandan tinggi militer.
Partisipasi menlu Iran dalam pertemuan tersebut sangat penting, karena Tehran dan Moskow telah mengambil strategi bersama untuk memerangi terorisme. Dalam konteks ini, perang kontra-terorisme telah menjadi salah satu prioritas kerjasama Iran dan Rusia.
Dengan tindakan bersama dan terkoordinasi, kedua negara mampu mencegah gerakan maju kelompok-kelompok teroris di kawasan. Brigjen Dehqan juga menekankan kerjasama kedua pihak. Ia menjelaskan bahwa perkembangan baru di Timur Tengah dan bagian lain dunia serta isu-isu yang berkaitan dengan dunia maya akan menjadi agenda pertemuan keamanan dua hari di Moskow.
Menurutnya, cara-cara untuk melawan takfirisme dan terorisme di Suriah, Yaman dan di Timur Tengah juga akan dibahas dalam pertemuan Moskow.
Transformasi di Timur Tengah menunjukkan bahwa Amerika Serikat melalui kerjasama dengan sekutunya, berada di balik skenario mengacaukan wilayah ini. Pada dasarnya, AS, rezim Zionis Israel, dan Arab Saudi mendukung kelompok-kelompok teroris di kawasan untuk mengobarkan kekacauan.
Namun, mereka menerima pukulan telak setelah militer Suriah dan sekutunya membebaskan kota strategis Aleppo dan membuat teroris kehilangan banyak basisnya di Suriah.
Pasca peristiwa 11 September 2001, AS melakukan serangan ke Afghanistan dengan janji menumpas Taliban dan menghancurkan Al Qaeda. AS menginvasi Irak tiga tahun kemudian. Tapi, para teroris masih merajalela dan keamanan juga tidak tercipta kembali di kawasan dan dunia.
Daesh – sebagai fenomena baru terorisme – telah menyeret Timur Tengah dalam perang dan perpecahan, dan kawasan sampai sekarang masih menghadapi berbagai tantangan serius. Dalam situasi seperti ini, AS terus melakukan manuver-manuver baru di Timur Tengah.
Dalam hal ini, menhan Iran memperingatkan konsekuensi yang tak terkendali akibat tindakan yang dilakukan di seluruh dunia oleh pemerintahan Donald Trump.
"Keputusan yang dibuat setelah pelantikan Trump, dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak terkendali," tegasnya.
Komentar itu sejatinya untuk mereaksi ancaman dan menuver berbahaya yang dilakukan AS di wilayah Timur Tengah.
Para pejabat Washington tampaknya perlu sedikit melihat ke masa lalu, karena situasi sekarang sudah banyak berubah dan opsi ancaman terhadap negara lain tidak akan membantu menyelesaikan masalah AS. (RM)