Belajar Menjaga Puasa di Bulan Ramadhan 7
-
Bulan Jamuan Ilahi
Kesabaran sangat penting bagi seseorang yang berpuasa
Nabi Muhammad Saw menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan kesabaran. Beliau bersabda, "Wahai masyarakat! Sesungguhnya bulan yang ada saat ini, dimana satu malamnya lebih bari dari seribu bulan adalah bulan Ramadhan. Allah Swt mewajibkan berpuasa di bulan ini... Dan itu adalah bulan kesabaran."
Pada hakikatnya satu dari pengaruh terpenting berpuasa adalah kesabaran. Karena puasa menciptakan batasan-batasan temporal dalam menghadapi rasa lapar dan haus yang menguatkan kemampuan kesabaran bagi orang yang berpuasa dalam menghadapi peristiwa sulit dalam waktu yang panjang. Sabar meningkatkan ketahanan manusia dalam menghadapi segala sesuatu, sehingga ia tidak kehilangan diri dalam menghadapi masalah atau musibah. Sabar akan mengantarkan manusia melakukan sesuatu secara rasional dan tidak tergesa-gesa.

Sabar memiliki posisi sangat penting bagi orang-orang yang beriman dan senantiasa berlindung kepada Allah dari kurangnya sabar dalam dirinya. Sesuai dengan yang disebutkan dalam ayat dan riwayat, sifat sabar bagi orang beriman bak kepala bagi badan. Yakni, bila tangan atau kaki seseorang terputus, dengan kehilangan anggota tubuhnya itu, ia masih tetap bisa hidup. Tapi bila kepalanya yang putus, maka sudah barang tentu ia akan mati.
Manusia tanpa kesabaran pada dasarnya ia tidak memiliki iman dan tidak punya jalan menuju surga. Menariknya, dalam ayat 24 surat al-Ra'd menyebut di Hari Kiamat ketika orang-orang beriman memasuki surga dan para malaikat mengucapkan salam kepada mereka, lalu berkata, "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." Yakni, di antara semua perbuatan baik dan ibadah, para malaikat menekankan masalah kesabaran mereka dan menilai itu sebagai sebab masuknya orang-orang beriman ke surga.
Sabar dan istiqamah memainkan peran signifikan dalam kebahagiaan manusia dan mengantarkan mereka ke surga. Tanpa kesabaran, maka tidak mungkin bagi seseorang untuk menjauhi dosa, melakukan ketaatan dan ibadah dan tidak mungkin melakukan jihad dengan diri sendiri dan melawan musuh. Disebutkan ada seorang arif yang berjalan kaki menuju Ka'bah. Seorang Arab yang mengendarai onta berkata kepadanya, "Wahai syaikh! Engkau hendak menuju ke mana?
Sang arif menjawab, "Saya ingin menuju Baitullah."
Orang Arab bertanya lagi, "Mengapa engkau pergi dengan berjalan kaki?"
Dijawab, "Saya punya banyak kendaraan yang tidak engkau lihat."
Orang Arab merasa aneh dan bertanya, "Di mana semua kendaraanmu?"
Arif menjawab, "Ketika bencana dan musibah menimpaku, aku mengendarai kendaraan sabar. Ketika nikmat dianugerahkan kepadaku, aku mengendarai syukur. Ketika takdir terjadi padaku, aku mengendarai keridhaan ilahi. Saat jiwaku bergelora dan mengajakku melakukan sesuatu, aku tahu usia yang tertinggal lebih sedikit dari apa yang telah lewat."
Orang Arab berkata, "Pada dasarnya engkau sedang berkendara, sementara aku yang jalan kaki."