Ramadan, Peluang Memperkuat Ketahanan dan Tanggung Jawab Sosial di Iran
-
Bulan Ramadan
Pars Today - Ramadan dalam tradisi Islam bukan sekadar ritual ibadah atau pergantian bulan di kalender. Ia adalah ruang pelatihan tahunan untuk membangun kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat, dan dengan dinamika sekitarnya.
Dalam logika Al-Qur'an, iman tidak berarti menutup mata dari ancaman atau mengingkari kesulitan. Sebaliknya, iman adalah kemampuan mengelola ketakutan dan mencegahnya menjadi pengambil keputusan. Ketenangan psikologis, stabilitas berpikir, dan menjauhi reaksi tergesa-gesa adalah bagian dari iman yang praktis. Ramadan, dengan disiplin ibadahnya, penguatan spiritual, dan latihan pengendalian diri, menjadi wahana untuk memperkuat komponen-komponen ini.
Ramadan dan Manajemen Krisis yang Rasional
Menelusuri sirah Nabi Muhammad SAW, kita temukan bahwa di masa-masa krisis, strategi utamanya adalah "kesabaran aktif" dan kohesi sosial. Ini bukan sikap pasif, melainkan ketahanan yang terarah dan rasional. Pola ini relevan bagi Iran yang terus-menerus berada dalam pusaran perang narasi dan operasi psikologis.
Puasa Ramadan, pada level individu, adalah latihan mengendalikan emosi, mengelola amarah, dan memperkuat tekad. Siapa yang mampu menguasai dirinya, akan lebih bijak dalam bertindak di ruang publik. Karena itu, Ramadan secara tak langsung berkontribusi pada peningkatan modal etika dan psikologis masyarakat. Ia menjadi fondasi bagi solidaritas sosial yang lebih kokoh.
Di tengah hiruk-pikuk media yang serba cepat, Ramadan memberi ruang untuk kembali merenung dan menganalisis. Menahan diri dari menyebarkan berita tak terverifikasi, merujuk pada sumber terpercaya, dan menjaga etika diskusi adalah wujud tanggung jawab sosial di bulan ini. Ini adalah pengingat bahwa kekuatan sebuah masyarakat, lebih dari apa pun, berakar pada stabilitas psikologis, kohesi moral, dan harapan kolektif warganya.(sl)