Belajar Menjaga Puasa di Bulan Ramadhan 8
-
Bulan Jamuan Ilahi
Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kurangnya qana'ah. اللّهُمّ إِنیّ أَعُوذُ بِکَ مِنْ قِلّةِ الْقَنَاعَة
Puasa senantiasa memperkuat semangat spiritual dan keimanan seseorang, begitu juga dengan kehendaknya untuk menjauhi perbuatan dosa. Itulah mengapa falsafah puasa seperti yang disebutkan dalam al-Quranو "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (QS. 2: 183). Tapi selain itu juga ada manfaat lain bagi mereka yang berpuasa dan itu dengan sendirinya juga penting. Salah satunya adalah masalah qana'ah atau merasa cukup yang merupakan kebalikan sikap berlebih-lebihan atau israf yang mencegah munculnya diskriminasi dan kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
Puasa membebaskan umat Islam dari tenggelam dalam materialisme dan tamak akan kelezatan materi, sekaligus mengajarkan kepada mereka untuk memikirkan orang lain. Puasa membuat pelakunya mampu mengontrol dirinya untuk mengkonsumsi sesuai yang dibutuhkan saja dan menjauhi sikap berlebih-lebihan. Seseorang yang berpuasa dapat membuatnya tidak bersandar pada orang lain dengan qana'ah dan membuatnya tidak menjual dirinya pada kehinaan. Masyarakat yang memiliki sifat qana'ah, bersandar pada kemampuannya dan menjauhkan sikap konsumerisme yang tidak pada tempatnya, dapat berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak membutuhkan orang asing. Sedemikian pentingnya sifat qana'ah membuat Imam Sajjad as mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari sifat qana'ah yang kurang dalam diri kita.
للّهُمّ إِنیّ أَعُوذُ بِکَ مِنْ قِلّةِ الْقَنَاعَة
Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kurangnya qana'ah.
Selain itu, qana'ah itu sendiri petanda akal. Bila seseorang berakal, maka pasti ia seorang yang qana'ah. Sebaliknya, bila seseorang tidak memiliki rasa cukup atau qana'ah, maka ada yang kurang dalam akalnya. Begitu juga dengan orang yang rakus dan serakah pasti ada yang kurang dalam akalnya. Karena seseorang yang berakal dapat memahami dengan baik betapa Allah adalah Zat pemberi rezeki dan ia tidak khawatir akan rezekinya. Bila ia seseorang pekerja keras, maka ia akan mencari kerja. Apa yang menjadi sahamnya pasti akan sampai kepadanya. Ia tidak khawatir akan rezekinya.
Sejatinya, pada akal yang telah terdidik pada sistem tauhid pasti telah dikatakan kepadanya dan ia tahu betul bahwa Allah Swt mencintainya dan akan melindunginya. Pemikiran yang seperti ini bakal menenangkannya. Itulah mengapa orang yang merasa cukup dengan kekuatan akalnya ia memahami betapa dunia ini bukan tempat untuk berhenti. Dengan demikian, dunia bukan tujuan akhirnya, tapi hanya perantara. Oleh karenanya, ia tidak akan mengorbankan iman dan agamanya untuk meraih materi duniawi.
Dalam hadis disebutkan, "Barangsiapa yang berakal pasti ia qana'ah." Seseorang yang memiliki sifat ini akan mulia baik di dunia maupun di akhirat. Dalam hadis yang lain disebutkan, "Qana'ah merupakan kekayaan yang tiada batasnya dan cukup untuk berkuasa." Artinya, seseorang yang mencari kekuasaan dan semacamnya, pada awalnya dalam dirinya ia adalah seorang penguasa dan sifat qana'ah itu yang memberikannya kekuasaan. Bila seseorang sudah memiliki sifat qana'ah, berarti ia adalah penguasa dirinya sendiri.