Tujuan Arab Saudi Bertengkar dengan Qatar
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif melakukan pembicaraan dengan para sejawatnya dari beberapa negara menyusul ketegangan yang terjadi dalam hubungan negara-negara Arab di Teluk Persia.
Pada 5 Juni 2017, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab bersama Mesir memutuskan hubungan mereka dengan Qatar.
Terkait pemicu ketegangan dalam hubungan Riyadh-Doha, sekarang muncul pertanyaan, mengapa Arab Saudi memilih skenario pemutusan hubungan dengan Qatar dan berusaha memperlebar krisis itu menjadi sebuah krisis trans-regional.
Di sini, ada beberapa asumsi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, Qatar sekarang berkesimpulan bahwa krisis yang diciptakan Saudi di Timur Tengah, serangan habis-habisan ke Yaman, dan permusuhan dengan Iran, adalah sebuah tindakan yang tidak rasional. Oleh karena itu, Doha ingin melihat persoalan secara realistis dan mengkritik keras kebijakan Riyadh.
Asumsi kedua, Saudi sedang berupaya menciptakan kondisi baru di Timur Tengah dan mendorong para pemain asing terlibat di dalamnya sehingga ia bisa memperkuat posisinya. Namun, Qatar ingin menegaskan kebijakan luar negeri yang moderat dan percaya bahwa pendekatan ini efektif untuk memecahkan krisis dan menciptakan stabilitas di kawasan. Tentu saja, ini tidak berarti Doha menentang semua kebijakan yang berlaku di Timur Tengah.
Dalam hubungannya dengan Suriah, Qatar bertindak sejalan dengan Arab Saudi, tapi dalam isu-isu lain, mereka berbeda pandangan dengan Saudi atau Mesir.
Dan ketiga, proyek baru Amerika Serikat di Timur Tengah yang diresmikan selama kunjungan Presiden Donald Trump ke Riyadh. AS tampaknya ingin melakukan analisa yang komprehensif mengenai peran yang telah diberikan kepada negara-negara Arab di Teluk Persia.
Dalam hal ini, mantan analis top CIA, Emile Nakhleh mengatakan, Trump ingin membentuk NATO Arab untuk melawan Iran dan untuk mempertahankan sistem monarki di negara-negara Arab dengan mengorbankan kebebasan rakyat mereka.
Nakhleh menyarankan Trump untuk tidak menempuh jalan yang konyol di Timur Tengah. "AS tidak harus sebodoh itu di mana mendukung pembentukan NATO Arab di kawasan hanya demi transaksi besar senjata," tambahnya.
Para pengamat cukup mengerti tentang kebijakan luar negeri Arab Saudi, dan Wahabisme adalah sumber ekstremisme dan kekerasan, di mana Riyadh melakukan pendanaan untuk mereka.
Surat kabar Italia, Il Manifesto dalam sebuah artikel dengan judul 'Musnahnya front Arab anti-Iran yang disukai Trump dan Netanyahu' menulis, "Trump sejauh ini hanya memenuhi beberapa janji berbahaya yang disampaikan selama kampanye pemilu dan salah satu dari itu adalah serangan diplomatik dan verbal terhadap Iran."
Dalam permainan berbahaya ini, Israel – sebagai pengacau utama di Timur Tengah – berharap Trump akan mengambil tindakan tegas terhadap Tehran dan akhirnya berujung pada pembatalan kesepakatan nuklir.
Yang pasti, meningkatnya ketegangan di kawasan akan mengancam keamanan dan kepentingan semua negara, terlebih krisis masih mengguncang beberapa negara regional seperti, Irak, Suriah dan Yaman serta pendudukan Palestina oleh rezim Zionis.
Republik Islam Iran juga memahami realita ini dan aktif melakukan penjajakan untuk membantu menyelesaikan krisis regional. (RM)