Dimulainya Drama Saling Tuding atas Krsisis Timur Tengah
Bersamaan dengan kegagalan dikte sejumlah pihak yang terlibat dalam perang di Suriah, kelompok oposisi pemerintah Presiden Bashar Al-Assad, mengungkap sisi baru dari krisis yang berkecamuk di negara itu.
Kantor berita Anatoli melaporkan, Numan Kurtulmus, Wakil Perdana Menteri Turki di Ankara menyatakan, politik intervensif Amerika Serikat telah memperumit krisis Suriah. Pejabat Ankara ini mengklaim bahwa sejak dimulainya krisis di Suriah, pemerintah Turki "senantiasa mendukung kedaulatan Suriah". Dia menilai intervensi Amerika Serikat di kawasan dan dukungan negara itu terhadap kelompok-kelompok teroris sebagai faktor munculnya krisis dan instabilitas di Suriah.
Pernyataan Kurtulmus itu mengemuka di saat para pejabat Turki telah memanfaatkan pertempuran dan perang di negara tetangganya itu untuk menduduki sejumlah wilayah Suriah. Pada saat yang sama, menyusul peluang yang tersedia, pemerintah Ankara juga menyeret perang dengan Partai Buruh Kurdistan (PKK) ke dalam wilayah Suriah dan Irak. Padahal hal tersebut tidak mungkin terjadi dalam kondisi normal.
Meski klaim keliru para pejabat Ankara soal penghormatan terhadap kedaulatan Suriah, namun tidak diragukan lagi bahwa pembeberan soal dukungan Amerika Serikat terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah dan Irak, memang benar-benar nyata.
Selama beberapa tahun, pemerintah AS dengan bantuan sekutunya di kawasan, termasuk Turki, selain memaksakan perang kepada sejumlah pemerintah Timur Tengah termasuk Suriah dan Irak, juga telah banyak berupaya menyukseskan target dan tuntutan ilegalnya di negara-negara tersebut.
Akan tetapi menyusul kegagalan politik Amerika Serikat di Suriah dan Irak, tampaknya negara-negara sekutu mulai berbalik menuding AS guna mempersiapkan kemungkinan perubahan politik mereka terhadap Suriah. Meski demikian, kecil kemungkinannya pemerintah Irak dan Suriah menerima penyesalan para pejabat Turki atas krisis yang telah memporak-porandakan kedua negara tersebut.
Tidak diragukan bahwa politik agresi dan perang di Suriah sedang berakhir dengan kekalahan pihak agresor. Dalam kondisi ini, Amerika serta sekutu-sekutunya di Eropa, Arab, dan Turki yang sedang merasakan getirnya kekalahan di Suriah, kini membulatkan tekad mereka untuk segera lari dari krisis Suriah. Pada prosesnya, negara-negara yang terlibat berusaha mencari "jalan aman" dengan menuding Amerika Serikat sebagai penyuplai senjata untuk kelompok teroris di Suriah.
Pada hakikatnya kelompok-kelompok teroris Daesh, Front al-Nusra dan banyak lagi kelompok-kelompok teroris di Suriah, mampu mengobarkan krisis dan perang dalam skala luas hanya karena ada dukungan senjata dan finansial dari Amerika Serikat dan sekutunya. Dan sekarang fakta ini telah diakui dan diungkap oleh pihak agresor di Suriah.
Para analis memprediksi bahwa aksi-aksi pembeberan fakta seperti yang telah dilakukan Turki ini dalam waktu dekat akan semakin meningkat jika pemerintah Irak dan Suriah terus melanjutkan kesuksesan mereka dalam memberantas terorisme. Singkat kata, "someone mus take the blame" atas gejolak di Timur Tengah, dan drama saling tuding itu akan meningkat dalam waktu dekat.(MZ)