Israel Akui Kemampuan Hizbullah Lebanon
-
Pasukan Hizbullah Lebanon
Sumber-sumber rezim Zionis Israel mengakui bahwa rencana pembangunan tembok beton di perbatasan Palestina pendudukan (Israel) dengan Lebanon tidak akan mampu menghalangi penyusupan pasukan Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) ke wilayah distrik-distrik perbatasan.
Seperti dilansir Alalam, Minggu (9/7/2017), jaringan dua televisi rezim Zionis melaporkan bahwa pembangunan tembok di perbatasan Israel dengan Lebanon mungkin saja menghambat kemajuan pasukan Hizbullah, namun mengingat peran Hizbullah di Suriah, maka mereka memiliki pengalaman dan kepercayaan diri yang tinggi, di mana pembangunan tembok ini tidak bisa menghalangi jalur kemungkinan serangan Hizbullah ke distrik-distrik utara Israel.
Jaringan 2 televisi Israel juga menyinggung tahap-tahap pembangunan tembok di perbatasan dengan Lebanon, dan mengumumkan bahwa dalam tahap awal, tembok tersebut akan dibangun di wilayah barat al-Jalil kemudian berlanjut ke arah distrik Maskafaam.
Kekhawatiran para pejabat Tel Aviv telah menyebabkan pasukan keamanan rezim Zionis mengambil langkah-langkah khusus di berbagai wilayah yang berbatasan dengan Lebanon. Salah satunya adalah pembangunan tembok beton yang memisahkan selatan Lebanon dengan utara Palestina pendudukan (Israel).
Sebelumnya, Yair Golan, Wakil Kepala Staf Gabungan Militer Israel mengakui adanya peningkatan kemampuan Hizbullah. Ia menyebut gerakan ini sebagai ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi rezim Zionis Israel.
Di sisi lain, Giora Eiland, Mantan Ketua Dewan Keamanan rezim Zionis mengatakan, seandainya Tel Aviv memiliki kesiapan lebih dibandingkan dengan perang tahun 2006, Israel tetap tidak akan mampu untuk memasuki perang baru dengan Hizbullah Lebanon.
Rezim Zionis pada tanggal 13 Juli 2006, melancarkan agresi militer ke Lebanon dengan tujuan menghancurkan Hizbullah.
Militer Israel memulai invasi tersebut dengan membombardir berbagai wilayah Lebanon selatan. Namun agresi selama 33 hari ini gagal mencapai tujuan yang diinginkan dan Israel terpaksa menarik pasukannnya. (RA)