Nasib Qatar di Bawah Ancaman Geopolitik
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i41758-nasib_qatar_di_bawah_ancaman_geopolitik
Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, Menteri Luar Negeri Qatar percaya negara-negara yang menjatuhkan sanksi atas Doha bermaksud mengancam kedaulatan negara ini lewat intimidasi dengan menggunakan senjata geopolitik.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Jul 27, 2017 13:35 Asia/Jakarta

Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, Menteri Luar Negeri Qatar percaya negara-negara yang menjatuhkan sanksi atas Doha bermaksud mengancam kedaulatan negara ini lewat intimidasi dengan menggunakan senjata geopolitik.

Menlu Qatar dalam wawancara dengan surat kabar Amerika Serikat, Washington Post, Selasa (25/7) mengatakan, Qatar adalah korban intimidasi geopolitik negara-negara Arab tetangganya. Pertanyaannya adalah, bagaimana geopolitik bisa mempengaruhi krisis Qatar.

Qatar terletak di bagian Selatan Teluk Persia dan memiliki luas 11.586 kilometer persegi. Letak geografis Qatar dinilai sangat strategis karena memiliki cadangan gas alam ketiga terbesar di dunia dan bertetangga dengan dua kekuatan regional, Arab Saudi dan Iran. Qatar memiliki perbatasan laut dengan Bahrain, Uni Emirat Arab dan Kuwait. Posisi geografis ini menyebabkan Qatar harus berhadapan dengan banyak ancaman keamanan terutama dari pihak Saudi. Pemerintah Qatar dengan kesadaran akan posisi ini berusaha memanfaatkan kebijakan luar negerinya untuk memperkuat keamanan.

Terkait hal ini, Raymond A. Hinnebusch, dosen Hubungan Internasional dan Politik Timur Tengah di Universitas St. Andrews, Skotlandia percaya bahwa kerentanan geopolitik adalah kerentanan terbesar negara-negara Timur Tengah termasuk Qatar.

Sementara itu, Mehran Kamrava, dosen di Pusat Studi Internasional dan Regional, Universitas Georgetown di Qatar meyakini bahwa pemerintah Qatar untuk mengatasi keterbatasan dan ancaman-ancaman geopolitik sampai pada satu kesimpulan, anonimitas bukanlah sebuah bentuk pertahanan. Karena itu, pemerintah Qatar dengan mendirikan stasiun televisi Aljazeera, memajukan perekonomian dan menjadi tuan rumah pertemuan level regional dan internasional, juga pertandingan olahraga dunia dan kawasan, berusaha berubah menjadi sebuah negara yang dikenal luas.

Meski kemajuan di berbagai bidang sampai tingkat tertentu berhasil memperkuat keamanan negara kecil seperti Qatar, namun realitasnya adalah, ancaman-ancaman geopolitik tidak bisa diatasi sepenuhnya, karena letak geografis itu tetap dan tidak berubah. Maka, Saudi sebagai salah satu sumber kekhawatiran terbesar bagi keamanan Qatar berusaha memanfaatkan geopolitik untuk menekan Doha. Hal itu terbukti dalam ketegangan terbaru antara Qatar dengan empat negara Arab, Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir.

Saudi yang dalam pandangan banyak analis politik termasuk Sultan Barakat, Direktur Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan, CHS, menentang segala bentuk independensi dalam kebijakan luar negeri negara-negara Arab pesisir Teluk Persia, menggunakan geopolitik sebagai senjata utama untuk melawan kebijakan luar negeri independen Qatar. Dengan menutup perbatasan darat, laut dan udaranya bagi Qatar, Saudi, Bahrain, UEA dan Mesir berusaha memblokade dan mengisolasi Doha yang disebut Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, Menlu Qatar, sebagai "intimidasi geopolitik".

Poin pentingnya adalah, apa yang menyebabkan strategi blokade Qatar, gagal, lebih dari apapun adalah faktor letak geografis. Pasalnya, Qatar yang berbatasan di wilayah laut dengan Iran, memanfaatkan posisi ini dan menggunakan zona udara Republik Islam untuk menyelamatkan diri dari sanksi dan blokade. Di sisi lain, pangkalan udara Al Udeid milik Qatar saat ini menjadi pangkalan kapal udara terbesar Amerika di luar negaranya. Hal inilah yang menyebabkan Amerika tidak bisa mengambil kebijakan sepihak dalam menyikapi konflik terbaru antara Qatar dengan empat negara Arab dan mendukung total kubu Saudi dan sekutu-sekutunya.

Sementara Saudi dan sekutu-sekutunya terus berusaha memanfaatkan keterbatasan geopolitik yang dimiliki Qatar sebagai senjata terpenting untuk menekan Doha. Raymond A.  Hinnebusch menganggap kerentanan strategis yang disebabkan letak geografis sebagai salah satu alasan negara-negara kecil pesisir Teluk Persia terpaksa meminta dukungan negara-negara besar yang sedang memperluas pengaruhnya di kawasan. (HS)