Nafas Terakhir Kelompok Teroris Takfiri di Lebanon
Dataran tinggi Arsal di Lebanon dilaporkan telah dibersihkan dari keberadaan anasir teroris Front al-Nusra. Bus terakhir yang mengangkut anasir kelompok teroris Front al-Nusra meninggalkan Arsal Rabu (2/8) malam.
Seiring dengan keberangkatan bus terakhir yang membawa anasir teroris Front al-Nusra dari dataran tinggi Arsal, operasi pembersihan kawasan ini dari keberadaan anasir teroris berakhir.
Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) saat menjawab upaya mediator, sepakat mengijinkan anggota kelompok teroris Front al-Nusra melewati perbatasan timur Lebanon dan menuju Provinsi Idlib Suriah jika anggotanya yang ditawan dibebaskan dan jenazah para syuhada diserahkan.
Kesepakatan antara kedua pihak dilaksanakan Kamis pagi di Jaroud Arsal dan al-Qalamoun. Operasi pembebasan dataran tinggi Arsal Lebanon dan al-Qalamoun barat di Suriah yang diduduki kelompok teroris Takfiri Front al-Nusra dan Daesh sejak tiga tahun lalu dimulai 21 Juli 2017. Pejuang muqawama berhasil membebaskan lebih dari 95 persen wilayah yang diduduki Front al-Nusra. Kemenangan ini merupakan langkah penting bagi Lebanon dalam memerangi terorisme.
Sampai saat ini sebagian wilayah Lebanon masih diduduki kelompok teroris Takfiri Daesh dan sepertinya dalam waktu dekat operasi pembebasan wilayah tersebut akan dimulai.
Dr. Wafik Ibrahim, pengamat politik kawasan mengatakan, "Dengan kemenangan Hizbullah melawan teroris Front al-Nusra di kawasan Arsal, beredar sejumlah desas-desus bahwa peperangan ini akan memicu fitnah antar mazhab di Lebanon dan pada akhirnya Hizbullah akan bertekuk lutut. Namun angan-angan mereka musnah dan Hizbullah dengan solid dan profesional membebaskan Arsal dari pendudukan teroris."
Transformasi lapangan di Lebanon dibayangi prestasi baru konstelasi emas rakyat, militer dan muqawama dalam melawan ancaman yang dihadapi Beirut termasuk rezim Zionis Israel dan terorisme. Hasil dari prestasi baru ini adalah menempatkan teroris Takfiri di Lebanon baik Daesh maupun Front al-Nusra di detik-detik nafas terakhir mereka di negara ini.
Elias Hanna pengamat isu-isu strategis Lebanon seraya mengisyaratkan transfomasi penting keamanan Lebanon selama beberapa hari terakhir mengatakan, konstelasi di kawasan ke arah kegagalan lebih besar rezim Zionis dan Daesh.
Terorisme Takfiri dan Zionisme setali tiga uang bagi instabilitas keamanan di kawasan serta menjadi ancaman bagi berbagai negara. Dalam hal ini, kapasitas pertahanan Lebanon baik itu militer dan muqwaama dengan berbagai metode aktif melawan ancaman tersebut.
Selama beberapa tahun lalu, dunia menyaksikan prestasi besar Lebanon dalam melawan Zionis dan teroris. Memaksa Israel mundur dari sebagian besar wilayah yang mereka duduki di Lebanon selatan pada tahun 2000 merupakan titik balik kemenangan Beirut dalam melawan rezim penjajah.
Berlanjutnya kekalahan rezim Zionis Israel terhadap muqawama termasuk kekalahan rezim ini di perang 33 hari tahun 2006 juga semakin menguak kepalsuan klaim tak terkalahkan rezim Zionis.
Dengan demikian, Lebanon dengan dukungan muqawama pimpinan Hizbullah berhasil mematahkan legenda tak terkalahkan Israel di kawasan. Di sisi lain, Lebanon dengan dukungan konstelasi emas pertahananya dengan poros Hizbullah berubah menjadi bentek kuat dalam menghadapi teroris.
Kegagalan berulang kali teroris di Lebanon serta prestasi poros muqawama rakyat dalam melawan teroris di Suriah dan Irak selama beberapa bulan terakhir mengindikasikan bahwa dengan adanya muqawama teroris Takfiri dan Israel tidak memiliki masa depan gemilang di kawasan. (MF)