Lebanon, "Medan Perang" Baru Bagi Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i46694-lebanon_medan_perang_baru_bagi_saudi
Hasil analisa dari perilaku dan kebijakan terbaru Arab Saudi dan sekutunya menunjukkan bahwa Riyadh sedang berusaha mengubah Lebanon menjadi medan baru bagi perang yang disulutnya di kawasan.
(last modified 2026-07-20T11:55:11+00:00 )
Nov 10, 2017 16:31 Asia/Jakarta

Hasil analisa dari perilaku dan kebijakan terbaru Arab Saudi dan sekutunya menunjukkan bahwa Riyadh sedang berusaha mengubah Lebanon menjadi medan baru bagi perang yang disulutnya di kawasan.

Setelah Arab Saudi, Bahrain dan Kuwait, pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) dalam sebuah pernyataan, juga meminta warganya untuk tidak mengunjungi Lebanon dan meminta warganya yang berada di negara ini untuk segera kembali ke UEA.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa Arab saudi selama tujuh tahun terakhir telah memilih Lebanon sebagai medan baru untuk menyulut sebuah perang baru di Timur Tengah secara umum, dan secara khusus di berbagai daerah yang berada di bawah pengaruh Republik Islam Iran. Namun mengapa harus perang?

Kebijakan anti-Iran yang diambil Arab Saudi di kawasan telah gagal, dan rezim Al Saud alih-alih memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah, namun justru mengambil strategi keliru dengan mencegah penguatan dan perluasan pengaruh Iran di kawasan itu. Oleh sebab itu, Riyadh menciptakan perang habis-habisan melalui pengerahan para teroris ke Suriah untuk mengubah pemerintahan sah negara ini dan mengeluarkan Damaskus dari Poros Muqawama.

Arab Saudi juga mendukung serangan massif kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) ke Irak dan berbagai langkah untuk melemahkan pemerintah pusat Baghdad. Sementara di Yaman, Riyadh mengobarkan perang dan agresi terhadap negara itu untuk melumpuhkan Gerakan Rakyat Ansarullah.

Dengan kata lain, Arab Saudi telah keluar dari strategi tradisonalnya dan negara ini mengambil kebijakan agresif terhadap sekutu-sekutu Iran. Namun dukungan kuat Iran kepada sekutu-sekutu regionalnya telah menyebabkan kebijakan agresif Arab Saudi itu gagal dan justru menjadi ancaman bagi Riyadh sendiri.

Selain itu, Arab Saudi merupakan contoh jelas dari negara dunia ketiga dalam hal pengambilan keputusan untuk kebijakan luar negeri. Behjat Kourani, seorang peneliti Timur Tengah meyakini bahwa faktor pertama yang mempengaruhi pengambilan keputusan untuk kebijakan luar negeri di Timur Tengah adalah aspek psikologis para pemimpin, yaitu persepsi, norma dan kepentingan para pemimpin.

Contoh dari pandangan tersebut adalah kondisi Arab Saudi saat ini yang dikendalikan oleh Mohammad bin Salman, Putra Mahkota negara ini. Setelah ayahnya, Salman bin Abdul Aziz menggantikan Raja Abdullah yang meninggal dunia pada Januari 2015, Mohammad bin Salman memimpikan kursi raja itu. Hal ini mengingat ayahnya juga telah berumur dan diperlukan perubahan dalam generasi para pemimpin Arab Saudi.

Poin yang menarik adalah Raja Salman dan Putranya, Mohammad bin Salman telah mengambil langkah-langkah untuk mendekati kursi kerajaan, dimana bersamaan dengan upaya itu, mereka juga telah mengambil banyak keputusan terkait dengan kebijakan luar negeri yang menyebabkan meningkatnya kekacauan di Timur Tengah.

Bersamaan dengan pengumuman perang terhadap Yaman pada Maret 2015, Raja Salman dan putranya pada April di tahun yang sama juga mencopot Muqrin bin Abdul Aziz, putra Raja Abdul Aziz (pendiri rezim Al Saud) dari kedudukan Putra Mahkota. Ini adalah perusakan pertama terhadap struktur dan kaidah kekuasaan di keluarga Al Saud.

Peristiwa penting kedua dari upaya Mohammad bin Salman untuk mendekati kursi kerajaan di Arab Saudi terjadi pada Juni 2017. Raja Salman dalam sebuah keputusan mengejutkan, mencopot Mohammad bin Nayef dari kedudukan Putra Mahkota dan mengangkat putranya sebagai penggatinya. Hanya selang beberapa hari dari keputusan tersebut, pemerintah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar.

Saat ini, langkah serupa juga sedang terjadi di Arab Saudi. Bersamaan dengan pencopotan dan penangkapan para pangeran dalam kerangka menyiapkan masa transisi kekuasaan dari Raja Salman kepada Putranya, Saad al-Hariri, Perdana Menteri Lebanon mengumumkan pengunduran dirinya di Riyadh atas desakan Arab Saudi. Pada saat yang sama spekulasi tentang perang terhadap Hizbullah Lebanon juga menguat. Perangkap rezim Zionis Israel dan AS bagi Arab Saudi dalam kemungkinan perang ini juga tampak terlihat.

Namun apakah Arab Saudi akan melakukan kesalahan kembali dan menyeret Timur Tengah ke arah perang lain? Jika ini terjadi, maka perubahan di keluarga Al Saud tidak terbatas pada peralihan kekuasaan dari Raja Salman kepada putranya. (RA)