Kegagalan Ambisi Saudi di Yaman
Sejak bulan Maret 2015, koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi mulai melancarkan serangan militer ke Yaman dengan sandi "badai mematikan". Agresi militer tersebut berlanjut hingga sekarang dan berbagai wilayah Yaman menjadi sasaran keganasan serangan jet-jet tempur rezim Al Saud.
Dalam kejahatan terbarunya, jet-jet tempur Arab Saudi membombardir Provinsi Taiz di barat daya Yaman dan menyebabkan sebuah keluarga yang terdiri dari 10 orang tewas. Hampir setiap hari, warga tak berdosa Yaman termasuk perempuan dan anak-anak menjadi korban keganasan pasukan agresor.
Agresi militer Arab Saudi ke Yaman selama setahun ini telah menyebabkan lebih dari 8.400 orang tewas dan lebih dari 16.000 lainnya terluka. Invasi militer koalisi pimpinan Arab Saudi juga telah meluluhlantakkan infrastruktur penting di negara ini termasuk rumah sakit, bandara, pelabuhan, pabrik, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik penting lainnya.
Arab Saudi memulai serangan udaranya ke Yaman setelah mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat dan pihak-pihak tertentu di kawasan. Selama setahun invasi militer ke Yaman, rezim Al Saud telah melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan yang mengerikan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Menurut Abdul Malik al-Houthi, Pemimpin Gerakan Rakyat Ansarullah, serangan koalisi Arab Saudi ke Yaman dilakukan dengan bekerjasama dengan AS dan rezim Zionis Israel, di mana Wahington dan Tel Aviv adalah para penjahat terbesar dunia.
Al-Houthi dalam pidato di hari peringatan agresi militer Arab Saudi ke Yaman mengatakan, tujuan AS dan rezim Zionis mendukung invasi Arab Saudi adalah untuk menghancurkan Yaman, membuat kekacauan di negara ini dan menyulut perang saudara di Yaman.
Ia menambahkan, rezim Al Saud ingin memiliki peran di kawasan dengan cara melancarkan operasi "badai mematikan" ke Yaman, namun rezim ini kini dikenal di dunia sebagai penjahat.
Pada dasarnya, Arab Saudi sedang mengejar tujuan-tujuan politik dalam agresi militernya ke Yaman. Selain ingin memainkan perannya sebagai aktor yang berpengaruh, rezim Al Saud menginginkan antek-anteknya tetap berkuasa di Yaman. Namun meski telah melancarkan serangan luas dan membabi buta ke Yaman dan menyebabkan ribuan warga negara ini tewas, namun Arab Saudi gagal mencapai target-targetnya.
Invasi militer Arab Saudi ke Yaman yang didukung oleh AS, Israel dan sejumlah negara Eropa tidak mencapai hasil apapun kecuali pembunuhan keji terhadap warga Yaman dan penghancuran infrastruktur penting negara ini. Kini masyarakat internasional melihat Arab Saudi sebagai penjahat besar dan pelanggar HAM.
Kondisi Yaman dan krisis kemanusiaan di negara ini kian hari memburuk. Warga Yaman mengalami kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang paling menderita akibat agresi militer Arab Saudi ke Yaman. Namun sayangnya, pihak-pihak pengklaim pendukung HAM hanya bungkam meyaksikan kejahatan tersebut.
Berdasarkan pernyataan Organiasi Dunia untuk Perlindungan Anak, serangan udara militer Arab Saudi dan pembunuhan ribuan warga sipil Yaman telah memperparah krisis kemanusiaan di negara ini, di mana 90 persen anak Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan segera mungkin.
Dana Anak PBB (UNICEF) mengakui bahwa sejumlah negara dunia yang mendukung agresi militer Arab Saudi ke Yaman tanpa memperhatikan dampak buruknya telah berperan dalam memberburuk krisis Yaman dan mengancam nyawa jutaan anak di negara ini. (RA)