Pandangan Jahat Trump terhadap al-Quds
Sejarah akan terulang. Istilah ini mungkin benar, namun sejarah tidak bisa diubah. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat pada 6 Desember 2017 mengambil langkah sepihak dan mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel. Trump juga menginstruksikan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke al-Quds. Langkah yang bertentangan dengan hukum dan perjanjian internasional ini diambil sebagai upaya untuk mengubah sejarah.
Menurut istilah tepat Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, kini pasca 100 tahun Deklarasi Balfour, versi kedua dari deklarasi ini telah dikeluarkan. Ini berarti pengulangan sejarah yang sama, namun itu tidak akan mampu mengubah realitas dan kebenaran al-Quds.
Dari sudut pandang teoretis, pandangan jahat Trump terhadap al-Quds adalah awal munculnya beberapa masalah dan tantangan baru yang akan dihadapi oleh AS, dimana negara ini akan terjebak ke dalam krisis yang lebih rumit dari yang dihadapi sebelumnya.
Masalah pertama adalah keputusan terbaru Presiden AS menjadi paku terakhir yang ditancapkan di peti mati perundingan kompromi di Timur Tengah. Artinya, langkah tersebut sama halnya dengan menguburkan semua yang telah diupayakan oleh para pendahulu Trump untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah dengan format dua pemerintahan dan dua ibukota di wilayah pendudukan Palestina. Dengan keputusan Trump, rakyat Palestina justru semakin bangkit dan mengetahui akar fitnah sehingga ini adalah tantangan besar bagi AS dan Israel.
Tantangan kedua dari pengakuan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis adalah semakin meningkatnya arogansi rezim penjajah ini, dimana Trump tidak akan mampu untuk mengontrol "anjing gila" tersebut. Namun tantangan ini sebenarnya menguntungkan Palestina dan dunia Islam, sebab, hal ini akan mempercepat keruntuhan rezim Zionis seperti halnya kehancuran kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) yang merasa di puncak kemampuan dan dominasi terhadap kawasan.
Tantangan ketiga bagi AS akibat pergerakannya di jalur yang gelap itu adalah berkobarnya api kemarahan dan meluapnya kebencian dunia Islam, dimana sifat AS –sebagai ancaman serius bagi Islam– semakin jelas. Sebenarnya, Trump telah menempatkan posisi AS berhadapan dengan kemarahan dan kebencian dunia, dimana 1,5 miliar umat Islam yang merupakan 22 persen penduduk dunia, marah.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyebut pengumuman al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis sebagai tanda ketidakmampuan mereka. Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, dunia Islam tidak akan ragu untuk melawan konspirasi ini dan rezim Zionis akan mendapat pukulan yang lebih berat serta tidak diragukan lagi bahwa rakyat Palestia yang terkasih pada akhirnya akan bebas.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahbar dalam pidatonya di hadapan para pejabat Republik Islam Iran, Duta-duta Besar negara-negara Muslim dan para tamu Konferensi Persatuan Islam yang digelar di Tehran bertepatan dengan wiladah Nabi Agung Muhammad Saw dan cicitnya, Imam Ja'far Shadiq as.
Sejak pembentukan rezim Zionis Israel pada tahun 1948, rezim ini selalu mengejar tujuan-tujuan seperti mengejar legitimasi atas penjajahannya. Tujuan ini hingga sekarang belum terwujud dan tidak akan pernah tercapai, sebab, perlawanan rakyat Palestina telah mencegah legitimasi rezim Zionis.
Ada dua hasil dari perlawanan tersebut. Pertama, hilangnya rasa takut terhadap Israel, di mana situasi ini menjadi penghambat penting bagi kemajuan kebijakan dan program-program rezim Zionis. Dan kedua, keterlibatan luas para pemuda Palestina dan generasi baru yang belum pernah melihat masa lalu namun siap untuk terjun ke medan perjuangan melawan penjajahan.
Yang pasti, AS dan rezim Zionis harus memahami bahwa langkah ilegal terbaru mereka tidak akan mampu mengubah sejarah dan menyembunyikan fakta al-Quds. (RA)