Agresi Saudi ke Yaman, Perang Menumpas Anak-anak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i48727-agresi_saudi_ke_yaman_perang_menumpas_anak_anak
Dana Anak PBB, UNICEF mengumumkan bahwa korban terbesar agresi militer Arab Saudi ke Yaman adalah anak-anak dan menyebut perang itu sebagai "perang untuk menumpas anak-anak Yaman".
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Des 26, 2017 15:03 Asia/Jakarta

Dana Anak PBB, UNICEF mengumumkan bahwa korban terbesar agresi militer Arab Saudi ke Yaman adalah anak-anak dan menyebut perang itu sebagai "perang untuk menumpas anak-anak Yaman".

Akibat agresi militer Saudi ke Yaman yang dimulai tahun 2015, sampai sekarang lebih dari 14.000 orang tewas, puluhan ribu terluka dan jutaan lainnya mengungsi yang sebagian besarnya adalah anak-anak. Abdullah Shaban salah seorang aktivis anti-blokade Yaman mengatakan, setiap 10 menit seorang anak meninggal dunia di Yaman akibat beragam penyakit.

Saudi sebagai simbol penyebaran pemikiran menyimpang Wahabisme di dunia, dengan melakukan pembantaian terhadap anak-anak Yaman, menunjukkan bahwa kejahatannya tidak mengenal batas teritorial dan sikap permusuhan Al Saud tampak dari upayanya meningkatkan kejahatan di Yaman. Sikap semacam ini mengingatkan kita akan kekejaman nazisme, fasisme dan Zionisme yang menghantui dunia.

Pada Maret 2015, Saudi didukung Amerika Serikat dan beberapa negara Arab kawasan menyerang dan mengepung Yaman dari segala penjuru. Sekalipun UNICEF sudah mengakui bahwa dampak serangan koalisi Saudi ke Yaman lebih banyak dirasakan warga sipil khususnya anak-anak, namun PBB bukan saja tidak mengambil langkah untuk menghentikannya, bahkan Dewan HAM sampai sekarang tidak pernah berhasil membentuk sebuah komite independen internasional untuk menginvestigasi kejahatan perang Saudi di Yaman.

anak Yaman korban serangan Saudi

Beberapa waktu lalu, Belanda mewakili sejumlah negara Eropa menginisiasi pembentukan komite independen internasional untuk menyelidiki kejahatan perang Saudi di Yaman, namun digagalkan Saudi dengan bantuan Amerika dan Inggris.

Sebelumnya, PBB juga sempat mengeluarkan keputusan memasukkan Saudi ke daftar hitam negara pelanggar hak anak karena kerap mengebom sekolah-sekolah dan rumah sakit di Yaman. Dalam laporan PBB itu disebutkan, koalisi pimpinan Saudi bertanggung jawab atas tewas dan terlukanya anak-anak Yaman selama tahun 2016, namun setelah berlalu beberapa hari, Ban Ki-moon, Sekjen PBB kala itu tiba-tiba mencoret nama Saudi dari daftar tersebut.

Ia mengumumkan, Riyadh mengancam akan memutus bantuan finansialnya untuk PBB jika namanya tidak dihapus dari daftar hitam pelanggar hak anak.

Meski di masa Sekjen PBB yang baru yaitu Antonio Guterres, nama Saudi kembali dimasukkan ke daftar hitam pelanggar hak anak, akan tetapi secara praktis di era ini nyaris tidak ada satu langkahpun dan tekanan terhadap Saudi, seolah-olah negara itu tidak pernah terbukti melakukan kejahatan.

Sikap PBB terkait kejahatan Saudi di Yaman menunjukkan bahwa organisasi internasional ini telah berubah menjadi klub perkumpulan negara-negara kaya dan berpengaruh dunia dan kepedulian terbesarnya adalah menjaga kepentingannya. Terbukti pasca serangan beruntun Israel ke wilayah Palestina termasuk Jalur Gaza yang mengorbankan ribuan warga sipil, yang sebagiannya anak-anak, PBB juga tidak melakukan apapun untuk mengejar tentara dan pejabat Israel pelaku kejahatan perang itu.

Dukungan itulah yang kemudian menyebabkan meski sejumlah organisasi internasional dan komite-komite PBB sendiri memperingatkan kondisi mengenaskan warga sipil Yaman, namun tidak pernah dipatuhi. Secara umum, PBB bukan saja tidak melaksanakan tanggung jawab utamanya menjaga perdamaian dan keamanan dunia, bahkan mengambil sikap reaksioner dan menyetujui berlanjutnya kejahatan Saudi terhadap warga sipil Yaman khususnya anak-anak. (HS)