Putaran Baru Kongres Dialog Nasional Suriah
-
Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Hassan Rouhani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Kongres Dialog Nasional Suriah dijadwalkan akan digelar di kota Sochi, Rusia pada 29-30 Januari 2018. Menjelang pertemuan ini, Negosiator Senior dan Wakil Menlu Iran, Hossein Jaberi Ansari melakukan pertemuan dengan Presiden Bashar al-Assad dan para pejabat Suriah lainnya di Damaskus, Sabtu (27/1/2018).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan undangan telah dikirim ke 1.600 orang Suriah untuk menghadiri Kongres Dialog Nasional Suriah di Sochi. Dia menambahkan, undangan juga dikirim ke PBB dan mitra regional dan internasional sebagai pengamat di Kongres.
Perundingan Sochi sangat penting dari dua aspek. Pertama, pertemuan ini membawa kemajuan nyata dalam proses penyelesaian krisis Suriah. Dan kedua, langkah ini berada di jalur interaksi multilateral untuk mencapai stabilitas dan keamanan permanen demi mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan Suriah.
Terlepas dari manuver dan petualangan Amerika Serikat, saat ini proses perundingan Astana telah mencapai beberapa kemajuan, dan pertemuan Sochi telah mampu membuka jalan bagi pemerintah Suriah untuk bernegosiasi dengan kubu oposisi.
Ini adalah sebuah peristiwa penting bagi kawasan dan bahkan dunia. Tentu saja, para pendukung Daesh dan pihak-pihak yang fokus pada perubahan geopolitik di Timur Tengah dengan memperkuat kelompok teroris, tidak termasuk dalam poros Astana dan Sochi. Karena segitiga Amerika, Arab Saudi dan rezim Zionis Israel memiliki agenda lain untuk Timur Tengah.
"Harus diakui bahwa dalam memecahkan krisis Suriah, Moskow mampu mengambil inisiatif secara penuh dari tangan Washington. Tentu saja, memperlemah posisi Amerika di Suriah, tidak berarti terselesainya semua masalah yang berhubungan dengan negara tersebut," kata Aleksei McCackin, seorang pengamat politik Rusia.
Sebenarnya, Amerika, Israel dan Saudi ingin memperkuat Daesh untuk mendukung misi pembagian teritorial baru di Irak dan Suriah dan menghapus poros perlawanan dari konstelasi politik dan keamanan regional.

Mantan wakil ketua Duma Rusia dan pakar urusan internasional, Sergey Baburin mengatakan, hari ini teroris telah kehilangan lebih banyak basis di Suriah dan ini adalah hasil dari upaya Moskow, Tehran, dan sampai batas tertentu Ankara.
"Iran dan Rusia memainkan peran berani dalam melawan tantangan keamanan di kawasan, terutama terorisme, dan berkat upaya kedua negara ini, terorisme telah gagal menyebar ke wilayah Laut Kaspia dan Kaukasus," tegasnya.
Menurut pakar Asia Barat, Mohammad Sadegh Kushki, kesepakatan yang dicapai selama perundingan Astana di Kazakhstan telah membentuk masa depan politik Suriah. Pertemuan Astana telah menghapus monopoli perundingan Suriah di Jenewa dan membentuk format baru yang lebih mengakar di tingkat regional.
"Hasil terpenting dari pertemuan Astana adalah lokalisasi krisis dan keluarnya anasir-anasir intervensionis Barat dan kekuatan reaksioner dari krisis Suriah, di mana kehadiran mereka selama ini telah memperburuk krisis Suriah," ujarnya.
Kapasitas perundingan Sochi saat ini bisa menjadi satu-satunya solusi bagi krisis Suriah, sehingga penyelesaian krisis tersebut tidak membutuhkan tindakan kekerasan dan intervensi negara-negara trans-nasional.
Enam tahun perang dan kekacauan yang dipaksakan atas Suriah, menunjukkan bahwa tujuan utama AS, Israel dan beberapa negara regional adalah untuk membagi wilayah Suriah, menghancurkan poros perlawanan dan menguburkan isu Palestina.
Dalam kondisi seperti ini, setiap tindakan provokatif dapat menggagalkan proses penyelesaian krisis Suriah secara damai. (RM)