Sanksi, Sarana Baru Konfrontasi Barat terhadap Suriah
Menteri Transportasi Suriah, Ali Hammoud dalam pertemuan transportasi internasional di Jenewa, Swiss mengatakan, seluruh sanksi sepihak terhadap Suriah harus dicabut.
Kehadiran kedua kalinya perwakilan pemerintah Suriah pada pertemuan ini menunjukkan pendekatan kooperatif Damaskus di level internasional. Di sisi lain mengindikasikan kegagalan upaya Amerika Serikat untuk menarik dukungan masyarakat internasional supaya mengiringi kebijakan sanksi terhadap Suriah termasuk sanksi diplomatik demi mengucilkan Damaskus di tingkat internasional.
Selama ini, berlanjutnya kebijakan sanksi ekonomi sepihak yang dipaksakan Amerika, Uni Eropa dan sejumlah negara lain terhadap bangsa Suriah telah menimbulkan dampak negatif sangat berbahaya bagi kondisi kemanusiaan, khususnya pelayanan kesehatan, air, listrik dan pendidikan. Pendekatan Barat seperti ini tercatat sebagai langkah ilegal di tingkat internasional dan bertentangan dengan konvensi dunia.
Paulo Sérgio Pinheiro, ketua Komisi Penyidik Independen Internasional terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Suriah menyebut sanksi sepihak Amerika Serikat dan Eropa terhadap Damaskus sebagai tindakan ilegal.
Seiring dengan eskalasi konspirasi militer dan politik Amerika terhadap Suriah sejak tahun 2011, negara ini menjadi target plot sanksi ekonomi pemerintah Barat dan sasaran seluruh agenda untuk memaksa bangsa Suriah bertekuk lutut terhadap kekuatan hegemoni global.
Patrick Wintour, jurnalis Inggris dan analis politik internasional terkait hal ini mengatakan, setelah Barat mengakui opsi militer di Suriah tidak efektif, mereka berusaha meningkatkan represi ekonomi terhadap Bashar al-Assad beserta sekutunya.
Perang yang dilancarkan kelompok-kelompok teroris di Suriah mengakibatkan kerusakan besar-besaran terhadap infrastruktur di negara ini termasuk rumah, jalan, rumah sakit, sekolah dan gedung pemerintah. Kondisi tersebut diperburuk dengan saksi ekonomi yang dijatuhkan Barat terhadap Damaskus.
Data Bank Dunia yang dirilis 10 Juli 2017 menunjukkan bahwa perang tersebut menimbulkan kerugian besar bagi Suriah sebesar 226 miliar dolar. Angka tersebut diperburuk dengan kerugian lain akibat berlanjutnya sanksi anti Suriah yang menjadi agenda kerja petinggi AS dan Eropa.
Ironisnya, sanksi Barat terhadap bangsa Suriah dijatuhkan ketika Amerika, Inggris, Perancis menggelar pertemuan Friends of Syria yang menunjukkan seolah-olah mereka perduli dengan kondisi Suriah. Sementara itu, berbagai kelompok teroris yang beroperasi di Suriah bersama kubu oposisi bersenjata yang bangkit melawan saudara mereka sendiri tak segan-segan melakukan beragam kejahatan demi mendapat dukungan luas dari Barat.
Sejatinya berlanjutnya sanksi Barat terhadap Suriah sama halnya meneruskan pandangan negatif dan non-konstruktif mereka akan solusi damai bagi menyelesaikan krisis Suriah. Krisis ini meletus di Suriah sejak tahun 2011 yang disulut dukungan penuh Amerika serta sejumlah negara Eropa dan Arab terhadap kelompok teroris yang beroperasi di negara Arab itu.
Peran negara-negara Barat yang meningkatkan sanksi terhadap bangsa Suriah dan menempatkan posisi mereka di arena konflik, secara praktis menyebabkan Suriah menghadapi krisis kemanusiaan paling parah di era modern. Masalah inilah yang disuarakan petinggi Suriah dalam berbagai pertemuan internasional kepada masyarakat dunia. (MF/PH)