Di Balik Kunjungan PM Irak ke Kurdistan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i55686-di_balik_kunjungan_pm_irak_ke_kurdistan
Menjelang hari pemungutan suara pemilu legislatif Irak yang tinggal 17 hari lagi, Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi mengunjungi wilayah Sulaymaniyah.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 25, 2018 15:31 Asia/Jakarta
  • Perdana Menteri Irak, Haider Al Abadi
    Perdana Menteri Irak, Haider Al Abadi

Menjelang hari pemungutan suara pemilu legislatif Irak yang tinggal 17 hari lagi, Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi mengunjungi wilayah Sulaymaniyah.

Juru Bicara Koalisi Al-Nasr di Sulaymaniyah hari Rabu (25/4) mengatakan bahwa Haider Al Abadi yang memimpin koalisi Al-Nasr akan menyampaikan pidato kampanyenya di kota ini, kemudian berlanjut di Arbil dan Dohuk. 

Dijadwalkan, pemilu parlemen Irak akan digelar pada 12 Mei mendatang. Tampaknya, pemilu legislatif kali akan menjadi kompetisi paling ketat. Berbeda dengan pemilu tahun 2014, pada pemilu kali ini tidak mungkin meraih kemenangan tanpa koalisi. Kunjungan Haider Al-Abadi ke wilayah Kurdistan bagian dari upaya koalisi Nasr untuk mengeruk dukungan suara dari kalangan suku Kurdi Irak.

Pada tiga pemilu sebelumnya, kampanye yang dilakukan kelompok Sunni dan Syiah di wilayah Kurdistan tidak terlalu menonjol. Tapi kali ini wilayah Kurdistan menjadi perhatian untuk meraih dukungan suara terbanyak dalam pemilu yang akan digelar kurang dari tiga pekan lagi. Pasalnya, dua partai utama Kurdi, Partai Demokrat dan Partai Patriotik tidak memiliki peryaratan yang memadai untuk maju ke pemilu 2018. Kondisi kedua partai tersebut berbeda dengan tiga pemilu sebelumnya.

Pengamat Timur Tengah, Samad Hemati menilai secara umum kondisi pemilu di wilayah Kurdistan saat ini lebih dingin dibandingkan sebelumnya. Pemerintahan daerah Kurdistan telah kehilangan kontrol terhadap wilayah yang selama ini disengketakan dengan Baghdad. Sebab daerah tersebut berada dalam kendali pemerintahan pusat Irak.

Kampanye pemilu Irak

Di sisi lain, kegagalan pemisahan diri Kurdistan dari pemerintahan pusat Irak dalam referendum tahun lalu menyebabkan mereka kehilangan banyak kursi kekuasaan yang dahulu dipegangnya. Masalah ini meningkatkan gelombang kritik terhadap partai demokrat yang selama ini menjadi partai paling penting di daerah suku Kurdi. Masalah tersebut juga menyebabkan semakin dinginnya atmosfir politik masa pemilu saat ini di wilayah tersebut.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Haider Al Abadi menangkap peluang sekaligus tantangan untuk menarik dukungan dari kalangan suku Kurdi. Bahkan dilaporkan faksi Al-Nasr akan berkoalisi dengan partai demokrat .Tampaknya, inilah hasil dari kunjungan Al-Abadi ke wilayah Kurdistan menjelang penyelenggaraan pemungutan suara yang tinggal menghitung hari.(PH)