Mengapa Saudi Meningkatkan Serangannya ke Yaman?
-
Jet-jet tempur Arab Saudi
Langkah-langkah yang diambil Arab Saudi menunjukkan peningkatan intensitas serangan ke Yaman setelah baru saja perang ini memasuki tahun keempat.
Jet-jet tempur Arab Saudi pada 24 jam lalu telah melakukan pengeboman sebanyak 32 kali di sejumlah daerah di Yaman. Selain itu, artileri Saudi juga menghantam beberapa kawasan di provinsi Saada. Jet-jet tempur Saudi hari Ahad lalu menyerang sebuah pesta pernikahan di provinsi Hajjah, Yaman Barat yang mengakibatkan puluhan tewas dan cedera.
Pesawat-pesawat tempur Saudi tidak berhenti menyerang Yaman dan sejak 26 Maret 2018, perang ini telah tahun keempat. Pertanyaan penting adalah mengapa Al Saud meningkatkan serangannya ke Yaman?
Tampaknya, jawaban paling penting dari pertanyaan ini berhubungan dengan transformasi dalam negeri Arab Saudi. Mohammed bin Salman di bulan Maret 2015 memanfaatkan perang terhadap Yaman sebagai batu loncatan untuk mencapai kursi kerajaan Arab Saudi, tapi setelah lewat tiga tahun, perang ini bukan saja batu loncatan baginya, tapi berubah menjadi poros utama kritikan dari dalam negeri, kawasan dan bahkan dunia. Oleh karenanya, Putra Mahkota Arab Saudi ini mengintensifkan perang terhadap Yaman guna mengubah perimbangan perang menguntungkan dirinya.
Putra Mahkota Arab Saudi ini masih saja merasa ada ancaman dari para pangeran Saudi, padahal ia telah mengambil langkah-langkah untuk menekan mereka. Aksi penembakan hari Ahad dini hari di dekat istana al-Khazami, Riyadh, terlepas dari bagaimana dan siapa yang melakukannya, menunjukkan Mohammed bin Salman masih tidak percaya dengan keluarga Al Saud. Dengan mencermati kondisi tidak percaya ini, Putra Mahkot Arab Saudi berusaha mengalihkan opini publik Saudi dengan mengintensifkan serangan ke Yaman.
Alasan lain terkait dengan sejumlah kunjungan bulan Maret Mohammed bin Salman ke negara-negara Barat. Putra Mahkota Saudi di bulan Maret dan April mengunjungi Inggris dan setelah itu Amerika dan dilanjutkan ke Perancis, tiga negara yang di bulan April menyerang Suriah. Dalam lawatannya, Mohammed bin Salman berusaha menandatangani sejumlah kontrak pembelian senjata dengan ketiga negara tersebut demi mendapat dukungan mereka bagi tujuannya, termasuk di Yaman.
Mohammad Reza Kalhor, pengamat politik Barat Asia meyakini bahwa bin Salman tengah berusaha memanfaatkan pengaruh negara-negara Barat untuk merusak lebih besar citra Ansarullah. Sekaitan dengah hal ini, pasca lawatan bin Salman ke tiga negara tersebut, Inggris, Amerika dan Perancis meningkatkan manuvernya di Dewan Keamanan PBB soal Yaman dan anti Ansarullah.
Di sisi lain, tampaknya Mohammed bin Salman dalam kunjungannya ke tiga negara Barat itu untuk mendapat lampu hijau guna meningkatkan serangannya terhadap Yaman, sebagaimana di bulan Maret 2015 juga mendapat lampu hijau dari negara-negara ini untuk memulai perang Yaman. Putra Mahkota Arab Saudi merasa tenang karena tidak akan mendapat penentangan, apalagi diadili dunia untuk melakukan serangan terhadap apa saja, termasuk mengebom pesta pernikahan yang menyebabkan tewas dan cederanya puluhan warga sipil.