Palestina, Luka Lama Umat Islam
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i56796-palestina_luka_lama_umat_islam
Isu Palestina dan Quds adalah sebuah lingkaran dari konspirasi besar Zionis, yang tidak akan berakhir dengan kesepakatan kompromi, tetapi satu-satunya solusi atas persoalan ini adalah memperkuat arus perlawanan Islami dan bangkit melawan rezim penjajah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 14, 2018 09:54 Asia/Jakarta
  • Aksi damai warga Palestina di perbatasan Jalur Gaza.
    Aksi damai warga Palestina di perbatasan Jalur Gaza.

Isu Palestina dan Quds adalah sebuah lingkaran dari konspirasi besar Zionis, yang tidak akan berakhir dengan kesepakatan kompromi, tetapi satu-satunya solusi atas persoalan ini adalah memperkuat arus perlawanan Islami dan bangkit melawan rezim penjajah.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, membela Palestina adalah tugas semua dan tidak boleh berpikir bahwa melawan rezim Zionis adalah pekerjaan sia-sia, tapi dengan pertolongan Allah Swt, perjuangan anti-Israel akan membuahkan hasil, seperti gerakan perlawanan sudah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan dalam pertemuan dengan para peserta Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam ke-13 (PUIC) di Tehran pada 16 Januari 2018.

Membangun perdamaian yang abadi dan adil di Palestina hanya mungkin dilakukan dengan menghapus total pendudukan Israel, mengembalikan seluruh pengungsi Palestina ke tanah air mereka, menentukan masa depan Palestina melalui referendum dengan melibatkan seluruh penduduk asli, dan membentuk pemerintah persatuan Palestina dengan ibukota Baitul Maqdis.

Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah rilis pada Ahad malam, menekankan bahwa Baitul Maqdis adalah bagian integral dari Palestina dan salah satu dari tiga tempat suci Islam yang paling penting. Upaya pemindahan Kedutaan Amerika Serikat ke kota ini adalah pelanggaran nyata terhadap aturan dan resolusi internasional, termasuk resolusi 478 dan 2334 Dewan Keamanan PBB.

"Jelas bahwa berlanjutnya pendudukan terorganisir tanah Palestina dan aksi teror Israel serta keputusan gegabah pemerintah AS mengakui Quds sebagai ibukota rezim Zionis dan pemindahan kedutaan besarnya ke kota itu, akan memperkuat tekad rakyat tertindas Palestina dalam melawan penjajahan," tegas statemen Kemenlu Iran.

Pada 6 Desember 2017, Presiden Donald Trump membuat keputusan kontroversial dengan mengakui Quds sebagai ibukota Israel dan memerintahkan pemindahan Kedutaan AS ke kota itu. Upacara peresmian Kedutaan AS akan berlangsung hari ini (Senin,14 Mei 2018), bertepatan dengan peringatan ke-70 berdirinya rezim ilegal Zionis.

Saat ini situasi di Palestina memasuki sebuah fase genting. Israel telah menduduki sebagian besar tanah Palestina dan sekarang dengan bantuan AS, ingin menyempurnakan pendudukan ini.

Analis masalah Timur Tengah, Hassan Royvaran mengatakan, "… Zionis berargumen dengan sebuah catatan sejarah palsu bahwa orang-orang Yahudi pernah tinggal di Palestina dan tanah ini milik mereka. Jika ini parameternya, setiap bangsa pernah mendiami daerah tertentu dan tempat itu selamanya menjadi milik mereka. Kita juga harus katakan bahwa kita orang Iran pernah tinggal di Yunani dan Mesir, bahkan di banyak tempat lain… semua persoalan yang dianggap oleh Zionis sebagai dasar legitimasinya, sebenarnya tidak satupun dari mereka memiliki dasar hukum."

Menurut ungkapan Ayatullah Khamenei, ada saat-saat ketika orang-orang Zionis meneriakkan slogan 'Dari Sungai Nil sampai Eufrat', namun hari ini mereka terpaksa membangun tembok di sekeliling mereka sendiri, sehingga dapat melindungi diri mereka di tanah yang diduduki itu.

Rahbar menandaskan bahwa Palestina adalah sebuah himpunan dan sejarah 'dari laut sampai sungai' dan Quds juga ibukotanya dan mustahil untuk memutarbalikkan fakta ini. (RM)