Keinginan Yordania Pulihkan Hubungan dengan Qatar
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i57590-keinginan_yordania_pulihkan_hubungan_dengan_qatar
Menjelang satu tahun tensi Arab-Arab, berbagai bukti menunjukkan bahwa kebijakan Arab Saudi mensanksi dan memblokade Qatar mengalami kekalahan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 27, 2018 13:52 Asia/Jakarta
  • Yordania-Qatar
    Yordania-Qatar

Menjelang satu tahun tensi Arab-Arab, berbagai bukti menunjukkan bahwa kebijakan Arab Saudi mensanksi dan memblokade Qatar mengalami kekalahan.

Tensi Arab-Arab antara Qatar dan empat negara Arab (Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir) mulai 5 Juni 2017. Arab Saudi dan tiga negara Arab lainnya saat itu memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar dan menutup perbatasan darat, udara dan lautnya sehingga Doha diblokade dan kemudian mereka menjatuhkan sanksi kepada negara tetangganya ini.

 

Arab Saudi untuk menerapkan represi lebih keras kepada Qatar juga mendesak sejumlah negara Arab kecil lainnya seperti Yordania untuk mengikuti mereka.

 

Setelah satu tahun berlalu, kegagalan blokade Qatar semakin kentara. Dalam hal ini, pemerintah Yordania selama beberapa hari lalu membuka kembalu jalur laut antara negara ini dengan Qatar. Perwakilan Yordania dan Qatar dalam beberapa bulan lalu terlibat kunjungan timbal balik.

 

Perwakilan yang berafiliasi dengan koalisi reformasi yang mendapat dukungan dari Ikhwanul Muslimin Yordania pada Februari 2018 dalam sebuah surat kepada pemerintah menyeru pengiriman kembali dubes negara ini ke Doha. Maskapai penerbangan kedua negara juga menandatangani kesepakatan kerja sama di bidang hukum dan hak udara. Bahkan dilaporkan pula sebuah delegasi keamanan Qatar berkunjung ke Amman.

 

Bagaimana pun juga friksi antara Yordania dan Arab Saudi terkait isu Palestina sangat kentara, bahkan berdasarkan sejumlah laporan, Pangeran Mohammad bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi tahun lalu mengancam akan meneror Raja Yordania karena menentang kebijakan Riyadh terkait Palestina.

Image Caption

 

Sementara itu, di tubuh Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC), Oman, Kuwait dan bahkan Uni Emirat Arab (UEA) tidak mengikuti pendekatan ekonomi Arab Saudi anti Qatar. Kuwait dan Oman tetap melanjutkan dialog dan perdagangannya dengan Qatar.

 

Dominic Dudley dalam sebuah artikelnya yang dimuat laman Forbes menulis, "UEA meski di luarnya mengikuti Arab Saudi dalam memutush hubungan diplomatiknya dengan Qatar, namun dalam prakteknya masih tetap melanjutkan sejumlah kerja samanya dengan Doha.  Gas alam Dolphin masih tetap beroperasi dari Qatar ke Uni Emirat Arab dan kemudian diekspor ke Oman. Uni Emirat Arab dan Qatar juga tetap melanjutkan kerja sama mereka di bidang minyak."

 

Selain itu, Kuwait, Qatar dan Oman di P-GCC juga terlibat perselisihan dengan Arab Saudi di sejumlah isu utama kawasan dan hal ini semakin kentara dengan isu pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke al-Quds dan pembantaian warga Palestina oleh rezim Zionis Israel.

 

Setelah pemindahan kedubes AS ke al-Quds, Istanbul Turki menjadi tuan rumah sidang luar biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam langkah tersebut. Emir Qatar dan Kuwait juga hadir di pertemuan ini, sementara pemimpin Arab Saudi absen.

 

Mengingat transformasi ini, sepertinya kini negara-negara yang memblokade Qatar khususnya Arab Saudi semakin mendapat tekanan ketimbang Doha. Kini Saudi Cs memiliki dua opsi, melanjutkan represi terhadap Qatar atau mundur. (MF)