Abu Dhabi Minta Bantuan Finansial Washington Cegah Krisis Ekonomi UEA
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i188702-abu_dhabi_minta_bantuan_finansial_washington_cegah_krisis_ekonomi_uea
Pars Today - The Wall Street Journal melaporkan bahwa Abu Dhabi mengadakan negosiasi darurat dengan Amerika Serikat untuk meminta dukungan finansial dan jaminan ekonomi guna mencegah kebangkrutan keuangan Uni Emirat Arab.
(last modified 2026-04-20T05:07:39+00:00 )
Apr 20, 2026 10:46 Asia/Jakarta
  • Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab
    Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab

Pars Today - The Wall Street Journal melaporkan bahwa Abu Dhabi mengadakan negosiasi darurat dengan Amerika Serikat untuk meminta dukungan finansial dan jaminan ekonomi guna mencegah kebangkrutan keuangan Uni Emirat Arab.

Melaporkan dari laman Arab Journal, IRNA pada Senin, 20 April 2026, harian WSJ mengungkapkan bahwa di tengah kekhawatiran akan berlarutnya konflik AS-Israel dan kelanjutan krisis Selat Hormuz, UEA cemas dengan eskalasi dampak perang yang mungkin terjadi. Karena itu, mereka menggelar negosiasi mendesak dengan AS dan meminta dukungan finansial segera serta jaminan ekonomi dari Washington.

Pejabat UEA menyatakan bahwa negaranya sejauh ini masih mampu melewati dampak ekonomi terburuk dari perang, tetapi mereka menekankan perlunya dukungan finansial dari Washington.

Ancaman: Jika Tak Dapat Dolar, UEA Akan Beralih ke Yuan

UEA telah memberi tahu Washington bahwa jika mereka tidak diberikan cadangan dolar yang cukup, mereka mungkin terpaksa menjual sebagian minyak mereka dengan mata uang asing lain, terutama yuan China. Langkah ini akan menjadi pukulan signifikan bagi hegemoni dolar AS di pasar global.

Pejabat UEA menunjuk pada keputusan Presiden Trump untuk menyerang Iran, yang telah menyeret kawasan ke dalam konflik yang menghancurkan dengan konsekuensi yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Tehran: Sanksi Percepat De-Dolarisasi

Menurut WSJ, Tehran meyakini bahwa kelanjutan sanksi AS terhadap Iran akan mempercepat pengabaian dolar oleh negara-negara kawasan, dan mendorong dunia menuju sistem keuangan multipolar.

Pejabat Iran menegaskan bahwa negara mereka akan terus menutup Selat Hormuz dan mempertahankan kendali penuh atas transportasi laut sampai Washington menghentikan tuntutan berlebihan mereka dan menghentikan pelanggaran hukum internasional.

Mereka juga memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat menyebabkan kerusakan ekonomi parah bagi semua pihak, tanpa kecuali.

Abu Dhabi, sekutu dekat Washington, kini dalam posisi sulit. Mereka butuh dolar untuk bertahan, tetapi jika AS tidak segera bertindak, UEA mengancam akan menjual minyaknya dengan yuan, pukulan telak bagi dominasi mata uang AS.

Iran, dengan kendalinya atas Hormuz, secara tidak langsung menjadi faktor yang mempercepat de-dolarisasi. Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak negara yang mulai mempertanyakan: apakah masih aman bergantung pada dolar?

UEA mungkin hanya ingin selamat secara finansial. Namun langkah mereka, jika benar-benar beralih ke yuan, bisa menjadi titik balik dalam tatanan keuangan global. Sebuah perang yang dimulai dengan rudal, kini merambat ke mata uang.(sl)