Tiga Strategi Amerika di Suriah
-
Presiden Suriah Bashar al-Assad ketika melakukan wawancara dengan wartawan televisi RT Rusia.
Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam wawancara eksklusif dengan televisi RT Rusia, Kamis (31/5/2018) mengatakan Amerika Serikat harus meninggalkan Suriah.
"Amerika harus pergi. Mereka harus belajar dari perangnya di Irak, yang berlangsung lebih lama dan jauh lebih mahal dari yang diprediksi. AS datang ke Irak tanpa dasar hukum dan menyaksikan apa yang menimpa mereka. Masyarakat tidak akan menerima orang asing di wilayah ini lagi,” tegasnya.
AS adalah salah satu aktor kunci pemicu kekacauan di Suriah. AS – sebagai sponsor utama perundingan kompromi dengan Israel – telah mengejar penggulingan pemerintah Suriah sejak tahun 2011. Sebab, Israel semakin terancam dengan protes rakyat di kawasan dan proses perkembangan Timur Tengah juga telah memperkuat poros perlawanan.
AS menggunakan kelompok-kelompok teroris yang telah diciptakannya di Timur Tengah untuk menumbangkan pemerintah Suriah. Namun, perang yang dikobarkan oleh teroris tidak membuat Damaskus jatuh.
Langkah berikutnya, AS berusaha memperpanjang krisis Suriah sehingga kekuatan militer Suriah dan sekutunya akan berkurang dalam memerangi terorisme. Strategi ini tidak hanya gagal mencapai misi AS, tetapi malah membawa kemenangan strategis di pihak Suriah dan membuat teroris kalah.
Washington kemudian mulai merusak proses politik yang sedang dirintis oleh Damaskus dan sekutunya. Assad dalam wawancara tersebut membocorkan tiga strategi AS di Suriah yaitu; mendukung terorisme, memperpanjang perang, dan merusak proses politik, termasuk penggunaan isu serangan kimia oleh Damaskus.
Setelah gagal menggulingkan Assad lewat tangan teroris dan perang panjang, AS mulai mengalihkan dukungannya pada pasukan Kurdi Suriah dan berusaha menjalankan skenario pembentukan daerah otonom Kurdi di Suriah. Dengan demikian, AS bisa menghalangi sentralisasi kekuasaan di pemerintahan pusat Damaskus dan juga memiliki sebuah sekutu di Suriah, sehingga dapat memberikan tekanan ke Damaskus bila diperlukan.
"AS kehilangan kartunya setelah pembebasan Aleppo dan Deir Ezzor serta sebelumnya Homs dan sekarang pinggiran Damaskus, karena selama ini Front al-Nusra adalah andalan utama mereka, tetapi ketika kelompok teroris ini diketahui bagian dari Al Qadea, AS mulai mencari kartu lain dan kartu mereka sekarang adalah Pasukan Demokratik Suriah," jelas Assad.
Amerika sekarang melancarkan perang psikologis terhadap sekutu Suriah, seperti mendesak penarikan para pemain asing termasuk pasukan Iran dari negara tersebut.
Menanggapi desakan itu, Presiden Assad menerangkan bahwa tidak pernah ada pasukan Iran di Suriah dan mereka hanya menempatkan penasihat militer untuk membantu tentara Suriah.
Pada dasarnya, para penasihat militer Iran hadir di Suriah atas permintaan pemerintah Damaskus dan kehadiran mereka sah, tetapi pasukan AS datang secara ilegal dan melakukan intervensi di sana. Oleh karena itu, Presiden Assad secara tegas mendesak penarikan pasukan AS dari Suriah. (RM)