Mempertanyakan Peran Utusan Khusus PBB untuk Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i58872-mempertanyakan_peran_utusan_khusus_pbb_untuk_yaman
Martin Griffiths, Utusan khusus Sekjen PBB untukYaman Ahad (17/6) tiba di Sanaa dan bertemu dengan petinggi Pemerintahan Penyelamat Yaman.
(last modified 2026-07-14T15:18:47+00:00 )
Jun 18, 2018 15:07 Asia/Jakarta
  • Utusan khusus sekjen PBB untuk Yaman Martin Griffiths
    Utusan khusus sekjen PBB untuk Yaman Martin Griffiths

Martin Griffiths, Utusan khusus Sekjen PBB untukYaman Ahad (17/6) tiba di Sanaa dan bertemu dengan petinggi Pemerintahan Penyelamat Yaman.

Kunjungan berulang Martin Griffiths ke Sanaa digelar ketika rakyat Yaman mulai tidak percaya atas kinerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB salah satu pemain di krisis Yaman. Permainan ini lebih banyak dalam bentuk penunjukan utusan khusus sekjen PBB. Organisasi ini selama lebih dari tujuh tahun krisis Yaman telah menunjuk tiga utusan khusus.

 

Utusan khusus pertama adalah Jamal Benomar, diplomat Maroko. Diplomat Maroko ini pada September 2014 memainkan peran penting di kesepakatan antara Ansarullah dan pemerintah Abd Rabbu Mansur Hadi saat itu. Meski demikian, pelanggaran kesepakatan September 2014 oleh Mansur Hadi dan agresi Arab Saudi ke Yaman pada Maret 2015 mendorong Jamal Benomar mengundurkan diri dari posisinya.

 

Ismail Ould Cheikh Ahmed, diplomat Mauritania pada April 2015 ditunjuk sebagai utusan sekjen PBB kedua untuk Yaman menggantikan Benomar. Upaya Ould Cheikh Ahmed untuk meraih sebuah mekanisme politik khususnya di perundingan Kuwait yang digelar selama 100 hari di tahun 2016 bukan saja tidak menghasilkan apa-apa, bahkan sejak Agustus 2016 hingga kini, yakni selama hampir dua tahun, perundingan antara kubu-kubu Yaman dihentikan dan ia pada Februari 2018 menyerahkan posisinya kepada Martin Griffiths.

Perang Yaman

 

Salah satu dalih utama kegagalan Ismail Ould Cheikh Ahmed menyelesaikan krisis Yaman adalah ia bersama PBB tidak pernah mampu memainkan peran sebagai mediator yang netral di krisis ini. Realita politik saat ini di Yaman adalah Ansarullah pemain paling solid di kancah politik dan keamanan negara ini, namun Ould Cheikh Ahmed selama 32 bulan tugasnya senantiasa menekankan pentingnya implementasi resolusi 2216 Dewan Keamanan yang dirilis April 2015 dan anti Ansarullah. Resolusi ini diratifikasi ketika kurang dari satu bulan agresi Arab Saudi ke Yaman.

 

Griffiths kini juga mengulang peran gagal Ould Cheikh Ahmed dan di perundingan dengan petinggi pemerintah penyelamat nasional Yaman menuntut implementasi resolusi 2216 termasuk penarikan diri Ansarullah dari wilayah yang mereka kuasai dan melucut senjatanya.

 

Tujuan utama kunjungan Griffiths ke Yaman adalah perundingan untuk menyerahkan kontrol al-Hudaydah ke PBB. Padahal tidak ada indikasi perundingan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengakhiri serangannya ke pelabuhan al-Hudaydah yang dilancarkan sejak 13 Juni lalu di aktivitas Griffiths.

 

Sementara itu, PBB di laporannya mengumumkan bahwa blokade al-Hudaydah yang berlangsung sejak 1 Juni 2018 telah memaksa sekitar 5000 keluarga mengungsi. Lise Grande, Koordinator bidang Kemanusiaan PBB di Yaman juga menyatakan, serangan ke al-Hudaydah bisa membahayakan nyawa 250 ribu warga sipil.

 

Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan kejahatan di Yaman, namun Utusan khusus sekjen PBB malah menuntut Ansarullah mundur. Artinya Griffiths cenderung menjadi pendukung kepentingan Amerika Serikat ketimbang mediator yang netral serta berusaha meyakinkan Ansarullah dan pemerintah penyelamat nasional untuk menyerah kepada Riyadh. (MF)