Iranofobia, Proyek Bersama AS-Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i68709-iranofobia_proyek_bersama_as_israel
Upaya meningkatkan dan menyebarluaskan Iranofobia atau ketakutan terhadap Iran sudah menjadi kebijakan permanen bersama Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel. Masalah ini juga ditengarai menjadi salah satu tujuan lawatan Perdana Menteri Israel ke Washington.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 25, 2019 12:56 Asia/Jakarta
  • Netanyahu dan Trump
    Netanyahu dan Trump

Upaya meningkatkan dan menyebarluaskan Iranofobia atau ketakutan terhadap Iran sudah menjadi kebijakan permanen bersama Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel. Masalah ini juga ditengarai menjadi salah satu tujuan lawatan Perdana Menteri Israel ke Washington.

PM Israel, Benjamin Netanyahu menjelang diselenggarakannya pemilu parlemen rezim itu, Knesset pada 9 April 2019, hari Ahad (24/3) melakukan kunjungan ke Washington untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan menghadiri konferensi kelompok lobi Zionis di Amerika, AIPAC.

Surat kabar Israel, Haaretz menulis, Netanyahu melakukan lawatan empat hari ke Washington dan selama di Amerika ia dijadwalkan dua kali bertemu Donald Trump. Netanhayu hari Selasa (26/3) waktu setempat juga akan menyampaikan pidato dalam konferensi AIPAC.

Sebelum bertolak ke Washington, Netanyahu mengaku akan membicarakan sejumlah isu regional termasuk Iran, dengan Presiden Amerika.

Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo dalam lawatannya ke kawasan berusaha meningkatkan tekanan terhadap Iran dan Hizbullah Lebanon dengan provokasi dan melemparkan tuduhan-tuduhan tak berdasar.

Di sisi lain, PM Israel tercatat sudah beberapa kali melakukan lawatan serupa, dan seirama dengan Pompeo, ia berupaya melancarkan propaganda anti-Iran dan menyebarluaskan Iranofobia, namun selalu gagal.

Meningkatnya tekanan terhadap Hizbullah Lebanon dan semakin kencangnya tuduhan bahwa Iran mencampuri urusan dalam negeri negara lain termasuk Lebanon, tak bisa dipungkiri merupakan program bersama Arab Saudi, Israel dan Amerika.

Skenario-skenario semacam ini tidak bisa disembunyikan lagi, namun kemungkinan besar akan kembali menemui jalan buntu.

pasukan Pasdaran Iran

Namun hal itu tidak pernah menghentikan upaya Israel dan Amerika untuk menuduh Iran sebagai ancaman bagi kawasan, termasuk dengan menuduh Iran bermaksud menguasai senjata nuklir.

Kebohongan ini tetap dilakukan padahal masyarakat internasional mengetahui Israel sedikitnya menyimpan 200 hulu ledak nuklir di gudang-gudang senjatanya.

Salah seorang jurnalis Kuba beberapa waktu lalu terkait perilaku Israel mengatakan, Benjamin Netanyahu adalah pembohong amnesia. Menurutnya,  Netanyahu di Majelis Umum PBB pernah menuduh Iran dalam waktu beberapa bulan akan sampai pada tahap 90 persen pengayaan uranium atau menurut istilahnya mencapai garis merah. Padahal Netanyahu sendiri pada tahun 1996 mengatakan, Iran sudah membuat bom atom. Kebohongan semacam ini adalah penghinaan terhadap kewarasan dan kesadaran masyarakat internasional.

Pakar politik dan hubungan luar negeri Amerika, John Joseph Mearsheimer menuturkan, Iran bukanlah ancaman bagi negara manapun di kawasan.

Pengajar di Universitas Chicago itu dalam wawancara dengan lobelog.com mengatakan, kenyataannya adalah Amerika merupakan ancaman langsung bagi Iran, bukan sebaliknya. Pemerintahan Trump dengan arahan Israel dan Saudi, menjadikan Iran sebagai sasaran serangan dan bermaksud mengubah pemerintahan Islam di negara itu.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar bulan Mei 2018 lalu menyebut salah satu metode Amerika untuk menghadapi negara independen dan penuntut kebebasan semacam Iran adalah memprovokasi sejumlah negara kawasan yang berpemahaman rendah, dan menciptakan perpecahan serta konflik regional.

Rahbar menambahkan, Amerika berusaha memprovokasi Saudi dan beberapa negara kawasan lain untuk melawan Iran, namun jika mereka menggunakan akalnya, pasti tidak akan termakan tipu daya Amerika. (HS)