Tercapaikah Target Agresi Saudi di Yaman ?
-
Yaman porak-poranda dihantam pasukan koalisi agresor pimpinan Saudi
Kelanjutan perang yang disulut Arab Saudi dan koalisinya di Yaman terus-menerus menuai gelombang kritik luas, termasuk yang terbaru datang dari mantan emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani.
Perang yang disulut koalisi Saudi terhadap Yaman telah memasuki lima puluh dua bulan. Lalu, apakah target Riyadh di Yaman telah tercapai setelah melewati 1.560 hari ?
Para pengamat memandang perang tersebut tidak membuahkan hasil apapun bagi rezim Al Saud. Parameter terpenting untuk menilainya berkaitan dengan tujuan berkuasanya Abd Rabbuh Mansour Hadi ke puncak kekuasaan Yaman. Padahal Arab Saudi sudah mengerahkan segala cara, termasuk meminta bantuan sekutunya di kawasan dan Barat, terutama AS yang memasok berbagai persenjataan dan alutsista tercanggih bagi Riyadh.
Kini, kelanjutan perang Yaman ini berbalik menjadi bumerang bagi Arab Saudi, bahkan sampai batas tertentu juga menimpa Uni Emirat Arab sebagai sekutu utamanya yang menjadi bulan-bulanan kecaman publik dunia.
Salah satu kritikan terbaru datang dari mantan raja Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani yang disampaikan baru-baru ini dalam sebuah video di media sosial, dengan mengatakan, "Saudi telah berperang menghadapi Yaman selama bertahun-tahun, tetapi tidak membuahkan hasil apapun."
Selain tidak membuahkan hasil bagi Arab Saudi karena tergetnya tidak tercapai, kelanjutan perang ini juga berdampak negatif terhadap Yaman yang menjadi korban utamanya.
Pertama, perang yang berkelanjutan akan mengorbankan banyak warga sipil lainnya. Sementara itu, agresor Saudi masih melanjutkan aksi penyerangan terhadap pemukiman penduduk Yaman, sebagaimana aksi penembakan terhadap rumah tinggal di kabupaten Khadir yang terletak di wilayah selatan provinsi Ta'iz pada hari Jumat lalu yang menewaskan delapan orang warga sipil Yaman.
Bentuk kejahatan seperti itu sejauh ini telah terjadi berulangkali, bahkan dalam beberapa kesempatan jet tempur Saudi membombardir pesta pernikahan Yaman. Terjadinya pengulangan kejahatan Arab Saudi di Yaman memicu gelombang tekanan lebih kuat dari opini publik dunia terhadap rezim Al Saud.
Kementerian dalam negeri Yaman menyebut serangan terbaru koalisi agresor pimpinan Arab Saudi di negaranya sebagai "pembantaian baru" yang merupakan bentuk nyata dari pelanggaran terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kedua, kelanjutan perang secara militer tidak menguntungkan Arab Saudi dan sekutunya, karena tentara dan komite perlawanan rakyat Yaman terutama dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mereka dapat meningkatkan kemampuannya di bidang rudal dan drone yang memberikan pukulan strategis fatal terhadap Arab Saudi.
Sistem pertahanan militer dan Komite rakyat Yaman baru-baru ini berhasil menembak lima drone canggih Arab Saudi di al-Hudaydah, Hajjah dan Najran. Dinamika ini juga mengindikasi interpretasi mengenai "kegagalan Arab Saudi" dalam meraih targetnya di Yaman.(PH)