Pengiriman Pasukan Baru ke Saudi, Blunder Baru AS
-
Pasukan AS
Langkah provokatif pemerintah Trump di kawasan, terutama dengan meningkatkan kehadiran pasukannya di kawasan Teluk Persia memicu respons tegas dan efektif dari Iran.
Dinamika di lapangan menunjukkan bahwa Washington berencana untuk meningkatkan jumlah pasukan dan alutsistanya demi mendukung kepentingan ilegalnya di Timur Tengah.
Pentagon hari Sabtu (20/7) menyatakan bahwa penjabat menteri pertahanan AS, Richard V. Spencer mengeluarkan instruksi pengiriman pasukan ke Arab Saudi. Pentagon mengklaim penempatan pasukan AS di Arab Saudi untuk meningkatkan pertahanan sekutunya.
Pengiriman pasukan Amerika ke Arab Saudi berarti mengembalikan kondisi negara itu seperti 16 tahun silam. Seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Saudi mengumumkan bahwa raja Salman telah menyetujui permintaan Washington tersebut.
Pengumuman kesiapan Riyadh untuk menerima pasukan baru AS dilakukan setelah Pentagon memutuskan akan mengerahkan 500 tentara baru ke pangkalan udara Malik Sultan di wilayah timur Riyadh. Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir mengumumkan akan mengirim 1.000 tentaranya ke kawasan Asia Barat, tetapi tidak mengumumkan lokasinya.
Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya Jumat, (19/7) mengungkapkan bahwa pemerintah AS belum memberi tahu Kongres tentang keputusannya untuk mengerahkan lebih banyak pasukan ke Arab Saudi. Tampaknya hal ini berhubungan dengan penentangan Dewan Perwakilan Rakyat AS terhadap penjualan senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Kehadiran militer AS yang meningkat di Timur Tengah, terutama di kawasan Teluk Persia dalam beberapa bulan terakhir dilakukan setelah pencabutan pengecualian sanksi minyak Iran, dan pengetatan sanksi AS untuk mengunci ekspor minyak Iran.
Amerika Serikat tidak hanya meningkatkan sanksi terhadap Tehran, tetapi juga menambah kehadiran pasukannya di Teluk Persia dan perairan sekitarnya dengan dalih menghadapi ancaman Iran yang sejalan dengan kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran. Langkah Washington tersebut menyulut intsbilitas di kawasan. Tensi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah terjadi insiden sabotase terhadap tanker minyak di Teluk Persia dan Laut Oman.
Pemerintah Trump menuduh Tehran terlibat dalam insiden itu, tetapi Iran dengan keras menyangkalnya. Ketegangan antara kedua negara mencapai puncaknya setelah drone intelijen AS yang telah melanggar zona udara Iran ditembak IRGC, bahkan Trump mengklaim telah memerintahkan penghentian serangan ini beberapa menit sebelum dimulainya serangan tersebut.
Namun, Tehran sejak awal sudah siaga untuk mencegah Washington mengambil tindakan balasan terhadap Iran. Pada saat yang sama, Washington mencoba untuk memperburuk ketegangan saat ini dengan tuduhan palsu.
Dalam hal ini, Trump pada hari Selasa (18/) mengklaim bahwa sebuah kapal induk AS telah menargetkan pesawat tanpa awak Iran di Selat Hormuz. Trump mengklaim bahwa kapal angkatan laut USS Boxer berhasil menembak jatuh pesawat nirawak Iran setelah mengabaikan beberapa peringatan sejauh 1.000 yard (915 meter) dari kapal AS.
Tapi Iran membantah klaim ini dengan menyiarkan gambar UAV tersebut, dan dengan demikian kebohongan AS lainnya kembali terungkap.
Tampaknya setelah keberhasilan Iran menembak jatuh Global Hawk, Trump mencoba untuk memperbaiki prestisenya di antara orang-orang Amerika dengan menciptakan perang psikologis dan klaim infaktual. Beberapa laporan menunjukkan bahwa UAV yang dikontrol UAV milik Uni Emirat Arab.
Jika fakta ini benar, kehadiran pasukan AS bukan hanya ancaman bagi Iran, tapi juga bencana bagi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang berharap kehadiran militer AS akan meningkatkan keamanan mereka.(PH)