Ambisi Arab Saudi Bentuk Pemerintahan Heterogen di Yaman Selatan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i73590-ambisi_arab_saudi_bentuk_pemerintahan_heterogen_di_yaman_selatan
Arab Saudi seraya menerapkan represi kepada pemerintah Yaman yang mengundurkan diri meminta Dewan Transisi Selatan (STC) untuk berpartisipasi di pemerintahan ini.
(last modified 2026-07-19T15:20:35+00:00 )
Sep 07, 2019 16:14 Asia/Jakarta
  • MBS dan Mansur Hadi
    MBS dan Mansur Hadi

Arab Saudi seraya menerapkan represi kepada pemerintah Yaman yang mengundurkan diri meminta Dewan Transisi Selatan (STC) untuk berpartisipasi di pemerintahan ini.

Arab Saudi kini terjebak di lumpur Yaman. Dari satu sisi, Ansarullah dan sekutunya bukan saja tidak terhapus, bahkan posisinya semakin kuat dan praktisnya membentuk pemerintahan di utara Yaman. Dan di sisi lain, friksi dan konfrontasi Riyadh-Abu Dhabi serta pasukan proksinya di wilayah selatan semakin terpapar.

Aden

Saudi yang mulai pesimis dari kekalahan Ansarullah dan sekutunya serta mengembalikan Abd Rabbuh Mansur Hadi ke Sanaa, berusaha memanajemen krisis di Yaman selatan dan mencegah terbentukanya pemerintahan pararel di selatan negara ini. Dengan demikian, Al Saud sampai saat ini dua kali mengundang delegasi Dewan Transisi Selatan yang dipimpin Aidarus al-Zoubaidi ke Riyadh dan berunding dengan mereka untuk menghindari pembentukan pemerintahan pararel dan eskalasi konfrontasi dengan pemerintahan Mansur Hadi.

Sepertinya hasil dari perundingan ini adalah partisipasi Dewan Transisi Selatan di pemerintahan Mansur Hadi. Terkait hal ini, Mujtahid, aktivis Arab Saudi mengatakan, Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman berjanji kepada Mansur Hadi mengembalikan seluruh pos mereka di Aden dan seluruh kota dengan syarat pemerintahan Mansur Hadi menggantikan pasukan yang berafiliasi dengan Partai al-Islah dengan pasukan Dewan Transisi Selatan.

Pendekatan MBS ini menunjukkan sejumlah poin penting terkait transformasi Yaman selatan. Pertama, pangeran mahkota Saudi terpaksa berdamai dengan Uni Emirat Arab serta pasukan yang berafiliasi dengan Abu Dhabi di Yaman selatan dan ijin partisipasi Dewan Transisi Selatan di pemerintahan Mansur Hadi sama halnya dengan kekalahan Riyadh menghadapi Abu Dhabi di Yaman selatan.

Poin kedua, Mansur Hadi dan pemerintahannya secara praktis pelaksana kebijakan Arab Saudi dan tidak memiliki independensi. Dalam hal ini, Mansur Hadi selama beberapa pekan terakhir berulang kali menyatakan penentangannya dengan Dewan Transisi Selatan. Namun kini di bawah tekanan Riyadh, ia terpaksa memberi tampat dewan ini di pemerintahannya. Padahal Mansur Hadi sebelumnya pada Mei 2017 mencopot Aidarus al-Zoubaidi dari posisinya sebagai gubernur Aden serta memiliki friksi tajam dengannya.

Poin ketiga, pemerintahan yang dibentuk dengan melibatkan Dewan Transisi Selatan akan menjadi sebuah pemerintahan heterogen, karena bukan saja tidak ada titik kesamaan antara Dewan Transisi Selatan dan pemerintah Mansur Hadi, bahkan STC secara resmi menuntut pemisahan Selatan dan Utara serta pembentukan negara independen Yaman di selatan.

Poin keempat adalah penyisihan partai al-Islah dari pemerintah Mansur Hadi sama halnya dengan terbentuknya friksi baru di Yaman selatan, karena partai ini memiliki posisi penting di wilayah selatan dan di sisi lain, merupakan sekutu pemerintah Mansur Hadi.

Mengingat seluruh kondisi ini, dapat dikatakan bahwa penerapan represi Arab Saudi kepada Mansur Hadi untuk melibatkan STC di pemerintahannya akan membuka peluang munculnya kendala baru dan menambah kesuliatan Arab Saudi di Yaman. (MF)