Invasi Turki ke Suriah dan Perpecahan Dunia Arab
-
Pasukan Turki
Invasi Turki ke Suriah Rabu lalu yang dilakukan dengan koordinasi AS telah menimbulkan reaksi beragam di dunia, termasuk negara-negara Arab yang tidak satu suara.
Secara umum, negara-negara Arab mengambil tiga sikap berbeda dalam menyikapi invasi Turki ke Suriah.
Pertama, kubu Arab Saudi dan sekutunya, bersama dengan sebagian negara Arab lain seperti Lebanon mengutuk tindakan pemerintah Turki dan menyebutnya sebagai agresi. Sikap Riyadh dan sekutunya ini tidak bisa dipisahkan dari kepentingan Arab saudi terhadap Suriah. Riyadh menjadi pihak yang paling getol melawan pemerintah Suriah selama sembilan tahun selama terakhir, hingga sebagian besar wilayah Suriah pernah berada dalam cengkeraman kelompok-kelompok teroris yang didukung berbagai negara termasuk Arab Saudi.
Tampaknya, dua faktor yang menjadi penyebab Arab Saudi dan sekutunya mengutuk invasi Turki ke Suriah. Pertama terkait dengan ketegangan hubungan antara Riyadh dengan Ankara mengenai kasus pembunuhan brutal jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul.
Arab Saudi berusaha keras untuk membujuk Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan supaya mengamini dikte Riyadh, tetapi upaya itu gagal sehingga Pangeran Saudi Mohammed bin Salman mendapat tekanan besar. Faktor kedua berkaitan dengan persaingan ideologis Riyadh dengan Ankara. Turki mendukung Ikhwanul Muslimin di Asia Barat, tetapi Arab Saudi menjadi penentang utamanya, bahkan menyebut Ikhwanul Muslimin Mesir sebagai organisasi teroris.
Saudi mengecam invasi Turki ke Suriah utara, tapi pada saat yang sama menentang keras kembalinya Suriah ke Liga Arab. Oleh karena itu, Arab Saudi jelas tidak membela Damaskus dan integritas teritorialnya dalam sikapnya mengutuk invasi Turki ke Suriah utara, tetapi lebih didorong persoalannya dengan Turki.
Pihak kedua, Yordania dan Irak sebagai negara-negara Arab yang tidak mengutuk invasi Turki ke Suriah, karena ingin menjaga hubungan baik dengan Turki dan Suriah. Mereka menyerukan diakhirinya serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Yordania menanggapi insiden itu di Twitternya dengan mendesak Turki untuk segera menghentikan serangan itu.
Pihak ketiga adalah Qatar. Sikap Qatar terhadap invasi Turki ke Suriah adalah pengecualian karena Qatar adalah satu-satunya negara Arab yang mendukung invasi tersebut. Alasan pembelaan Qatar terhadap tindakan Turki karena dukungan Ankara untuk Doha selama ketegangan intra-Arab antara Qatar dan empat negara Arab di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir.
Posisi yang berbeda dari negara-negara Arab menyikapi invasi Turki ke wilayah utara Suriah menunjukkan bahwa dunia Arab mengalami perpecahan yang serius. (PH)