Bongkar Pasang Menlu Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i75034-bongkar_pasang_menlu_saudi
Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz dua hari lalu memecat Ibrahim al-Assaf dari jabatan menteri luar negeri dan menggantikannya dengan Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 25, 2019 08:36 Asia/Jakarta
  • Ibrahim Al-Assaf
    Ibrahim Al-Assaf

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz dua hari lalu memecat Ibrahim al-Assaf dari jabatan menteri luar negeri dan menggantikannya dengan Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud.

Para analis politik menilai keputusan Raja Salman ini menunjukkan ketidakstabilan  kebijakan negara dalam pengisian pos jabatan kabinet. Indikasinya mulai terlihat jelas rezim Al Saud ketika melancarkan agresi militer di Yaman dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. 

Tidak hanya itu, Riyadh juga mengambil kebijakan luar negeri yang agresif terhadap anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia dengan mengembargo Qatar. Masalahnya, rezim Al Saud tidak berhasil meraih tujuanya selama lima tahun terakhir ini, bahkan posisi regionalnya semakin menurun.

Pemecatan dan penggantian pos kabinet sebuah langkah yang wajar dan terjadi di berbagai negara dunia. Tapi langkah yang diambil raja Salman tidak demikian. Penggantian posisi menteri ini tidak berjalan normal, sebab berhubungan dengan dengan rangkaian kegagalan berturut-turut dari politik luar negeri rezim Al Saud. Oleh karena itu, banyak analis politik yang menilainya sebagai kerentanan dan ketidakstabilan kebijakan sang raja dan putera mahkotanya.

Saud al-Faisal yang menjabat sebagai menteri luar negeri Arab Saudi selama 40 tahun diberhentikan pada bulan April 2015. Tetapi setelah empat tahun dari pemecatannya, Raja Salman sudah menunjuk tiga menteri luar negeri.

Adel al-Jubair menggantikan Saud al-Faisal pada bulan April, tetapi Al-Jubair tidak bertahan lama dan  dipecat pada bulan Desember 2018 karena dianggap tidak bisa menyelesaikan masalah Jamal Khashoggi, dan perselisihannya dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam masalah agresi militer Arab Saudi di Yaman dan friksi dengan Qatar. 

Ibrahim al-Assaf baru menjabat sebagai menteri luar negeri selama enam bulan dan dua hari lalu diganti oleh Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud.

 

Menteri luar negeri baru Arab Saudi

Tampaknya ada dua alasan di balik terjadinya bongkar pasang jabatan menteri luar negeri Arab Saudi ini.

Pertama, ambisi Mohammed bin Salman dan  pandangan politik luar negerinya yang agresif tidak membuahkan hasil.

Arab Saudi saat ini mengalami pelemahan posisi serta pengaruhnya di kawasan, dan penguatan posisi rivalnya seperti Iran, Turki dan Qatar.

Tentu saja dibutuhkan perubahan pemerintahan untuk memulihkan kondisi tersebut. Tapi tidak mungkin mengubah rezim Arab Saudi, dan tidak ada pemilu untuk mengubah pemerintah. Dengan demikian, para menteri dengan mudah bisa diberhentikan oleh putra mahkota sesuai dengan selera dan kepentingannya.

Kantor berita Reuters menyoroti pemecatan al-Assaf dengan menulis, "Alasan perubahan ini sebagai upaya Saudi untuk membangun kembali citranya setelah diterpa krisis serius seperti pembunuhan seorang jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Turki, dan perang Yaman. Berbagai negara, termasuk para sekutu dekat Arab Saudi mengecam pembunuhan Khashoggi dan perang Yaman. "

Kedua, pengisian posisi jabatan di Kementerian Luar Negeri Saudi tidak dilakukan secara cerdas dan efektif. Ibrahim Al-Assaf adalah mantan menteri keuangan Arab Saudi sekaligus anggota dewan direksi perusahaan minyak Aramco yang pernah ditahan selama kampanye atas nama "perang melawan korupsi" yang dilancarkan Mohammed bin Salman pada 5 November dan dalam kurun waktu tidaik lama mendekam di "penjara mewah" hotel bintang lima Ritz-Carlton Riyadh bersama puluhan tokoh terkemuka keluarga kerajaan dan pengusaha negara Arab ini. Al-Assaf kemudian dibebaskan dan secara tiba-tiba diangkat menjadi menteri luar negeri tanpa kemampuan diplomatik sama sekali.

Kini, Pangeran Faisal menjadi menteri luar negeri Arab Saudi setelah hanya delapan bulan menjabat sebagai duta besar Arab Saudi untuk Jerman, penasihat senior di kedutaan Saudi di Washington, serta anggota dewan direksi industri militer Saudi, ketua dewan direksi Al-Salam Airlines, dan dewan kerajaan Saudi. Ia juga tidak memiliki latar belakang diplomatik yang matang.

Secara umum, individu yang berpengalaman sebagai diplomat seperti Adel Al-Jubir tidak bertahan lama karena pandangannya tidak sesuai dengan kebijakan dan perilaku ambisius Mohammed bin Salman, sedangkan menteri yang tidak berpengalaman seperti Ibrahim al-Assaf dan Pangeran Farhan justru mengisi jabatan tersebut.(PH)