Pembubaran Knesset dan Masa Depan Politik Rezim Zionis
Parlemen Israel dibubarkan pada 22 Desember lalu, yang berbuntut pembubaran kabinet dan penyelenggaraan pemilu parlemen keempat pada 23 Maret 2021.
Pemilu keempat ini akan berlangsung dalam situasi ketika Netanyahu dan Gantz mungkin menjadi pecundang utamanya.Netanyahu menjadi faktor utama kebuntuan politik yang melilit Israel saat ini. Partai Likud juga terpecah antara dukungannya terhadap Netanyahu dan Gideon Saar yang berjalan bersama beberapa sekutu meninggalkan partainya. Mereka juga menyatakan akan mencalonkan diri secara terpisah dalam pemilu mendatang dan tidak akan memilih Netanyahu sebagai perdana menteri.
Sebagaimana pemilu April dan September 2019, juga Maret 2020, Gantz tidak memiliki peluang untuk memenangkan pemilu Maret 2021. Sebab, langkah Gantz menjalin aliansi dengan Netanyahu secara efektif telah merusak citra politiknya setelah pemilu Maret 2020.
Para pakar politik rezim Zionis menilai pecundang terbesar dalam pembubaran Knesset dan penyelenggaraan pemilu adalah Partai Biru dan Putih yang dipimpin oleh Benny Gantz setelah berkoalisi dengan Partai Likud. Pasalnya, partai Likud saat ini tidak memiliki nilai di kancah politik rezim Zionis.
Naftali Bennett, pemimpin partai sayap kanan partai Jewish Home yang juga memegang posisi penting di kabinet Netanyahu seperti Menteri Pendidikan dan Menteri Pertahanan sebelum dibubarkan, termasuk salah satu kritikus utama Netanyahu dari sayap kanan.
Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan partai yang dipimpin Bennett akan memenangkan 22 kursi di Knesset untuk pertama kalinya. Tapi, para analis menilai Bennett tidak akan bisa mencalonkan diri sebagai perdana menteri.
Direktur Mossad, Yossi Cohen baru-baru ini mengumumkan dirinya mengakhiri masa jabatannya sebelum enam bulan berakhir dan dia berpeluang menjadi salah satu opsi perdana menteri rezim Zionis. Ada rumor yang muncul mengenai kemungkinan Netanyahu akan mencalonkan Cohen, dengan mempertimbangkan kedekatan hubungan keduanya.
Gideon Saar juga menjadi salah satu kandidat Perdana Menteri rezim Zionis setelah meninggalkan Likud, tetapi peluangnya lebih kecil daripada yang lain.
Terlepas dari siapa yang menjadi perdana menteri Israel berikutnya, bubarnya parlemen dan kabinet yang terjadi berulangkali mengirimkan pesan penting bahwa situasi politik Israel saat ini lebih rapuh daripada Maret 2020.
Kebuntuan politik tampaknya semakin meningkat setelah pemilu keempat. Sebab, Netanyahu maupun Gantz tidak memiliki status quo, dan penerusnya tidak dapat membangun koalisi untuk membentuk kabinet. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan umur parlemen yang akan dibentuk pasca pemilu Maret 2021 akan singkat. Tampaknya nasib knesset dan kabinet baru akan seperti sindiran pakar Zionis, Ariel Sander yang mengatakan bahwa berada Knesset lebih singkat daripada menghadiri sebuah pesta.(PH)