Transformasi Asia Barat, 9 Januari 2021
-
Raja Arab Saudi dan Emir Qatar
Transformasi Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai perdamaian antara Arab Saudi dan Qatar.
Selain itu tentang keputusan pengadilan Irak mengeluarkan surat penangkapan Trump, Hashd Al Shaabi siap menuntut balas kematiam Syahid Soleimani dan Israel masuk target, petinggi Israel shock melihat kekerasan di Kongres AS, turis Israel menyelundupkan narkoba ke UEA, rudal perlawanan Palestina mengubah kalkulasi rezim Zionis, dan rezim Saudi melanjutkan penangkapan ulama.
Arab Saudi Berdamai dengan Qatar
Sidang Dewan Kerja Sama Teluk Persia, PGCC, hari Selasa (5/1/2021) di kota Al Ula, Arab Saudi, digelar untuk secara resmi mengakhiri blokade sejumlah negara Arab atas Qatar.
Pertama, Saudi untuk mencapai kesepakatan dengan Qatar mengabaikan tiga negara Arab lain yang sama-sama memboikot Qatar, yaitu Mesir, Bahrain dan Uni Emirat Arab. Tidak ada satupun dari ketiga negara Arab itu ikut menghadiri sidang tingkat tinggi PGCC di Al Ula, Saudi.
Hal ini menunjukkan bahwa level ketegangan dengan Qatar masih tinggi, dan sampai saat ini di tubuh PGCC, polarisasi kekuatan masih terasa cukup kuat.
Kedua, UEA adalah pihak yang paling dirugikan dari Deklarasi Al Ula. Dalam beberapa bulan terakhir UEA bersitegang dengan Turki, di sisi lain Ankara menjalin hubungan erat dengan Qatar. Pada saat yang sama, UEA mengklaim diri sebagai pemain berpengaruh di kawasan Asia Barat, bahkan Dunia Islam.
Akan tetapi Saudi pada Deklarasi Al Ula,secara praktis mengabaikan keberadaan UEA. Oleh karena itu Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Ketiga, Deklarasi Al Ula membuktikan keunggulan strategi pemerintah Qatar dalam menghadapi tekanan maksimal Saudi dan tiga negara Arab lainnya. Selama tiga tahun terakhir, Saudi dan tiga negara Arab lain menerapkan blokade dan boikot untuk memaksa Qatar mengubah garis kebijakan luar negerinya.
Keempat, Deklarasi Al Ula membuktikan tanda-tanda berakhirnya rezim despotik dukungan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat. Empat tahun lalu, Presiden Amerika Donald Trump menganggap sistem yang berlaku di kawasan Asia Barat sebagai sistem yang kacau.
Pengadilan Irak Keluarkan Surat Penangkapan Trump
Pengadilan al-Rusafa Irak yang menangani berkas teror dan pembunuhan terhadap Komandan Muqawama, Syahid Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, mengeluarkan surat penangkapan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Seperti dilaporkan kantor berita Irak Waa', hakim pengadilan al-Rusafa mengatakan, setelah laporan penggugat dicatat dan penyidikan pertama rampung, surat perintah penangkapan Trump dikeluarkan pada hari Kamis (7/1/2021).
Menurut laporan ini, penyidikan untuk mengidentifikasi seluruh pelaku yang terlibat, baik warga Irak maupun warga asing dalam kejahatan ini akan terus dilanjutkan.
Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Letjen Soleimani dan Wakil Ketua Hashd Al Shaabi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, bersama delapan pengawal mereka gugur dalam serangan udara pasukan AS di dekat bandara Baghdad, ibu kota Irak pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020.
Pembunuhan tersebut dilakukan atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump. Letjen Soleimani berkunjung ke Irak atas undangan resmi dari pemerintah Baghdad.
Hashd Al Shaabi Siap Menuntut Balas, Israel Masuk Target
Salah seorang komandan Hashd Al Shaabi mengatakan, semua kelompok perlawanan di kawasan sudah siap menuntut balas, dan kehancuran rezim Zionis Israel adalah salah satu bagiannya.
Fars News (4/1/2021) melaporkan, Ahmed Al Mousawi Al Maksusi memuji ketokohan Letjend Syahid Qasem Soleimani dan Abu Mahdi Al Muhandis.
Dalam wawancara dengan situs berita Al Ahed, ia menuturkan, musuh tidak akan bisa melunturkan nilai-nilai perjuangan Soleimani dan Al Muhandis.
Ia menambahkan, hari ini rakyat Irak memendam rasa marah layaknya gunung berapi, khususnya pasca teror dan serangan di sebuah kota berdaulat yaitu Baghdad.
Komandan Hashd Al Shaabi itu menegaskan, semua kelompok perlawanan di kawasan sudah siap menuntut balas, rakyat Irak dan kelompok perlawanan siap menuntut balas.
"Kehancuran Israel merupakan bagian dari pembalasan ini," pungkasnya.
Petinggi Israel Shock Melihat Kekerasan di Kongres AS
Menteri Peperangan Israel, Benny Gantz mengatakan bahwa ia shock dan terkejut menyaksikan kerusuhan dan kekerasan di gedung Kongres AS.
"Saya tidak percaya saya akan melihat gambar-gambar seperti itu dari Amerika," kata Gantz seperti dilaporkan televisi al-Mayadeen, Kamis (7/1/2021).
Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar apapun terkait kekerasan di Amerika.
Setidaknya empat orang tewas setelah pendukung Trump menyerbu gedung Kongres di Washington pada Rabu.

Turis Rezim Zionis Selundupkan Narkoba ke UEA
Beberapa media berbahasa Ibrani melaporkan terjadinya aksi penyelundupan narkoba ke Uni Emirat Arab (UEA) oleh turis Israel.
Televisi Channel 12 rezim Zionis memberitakan sekitar 8.000 turis Israel melakukan perjalanan ke Dubai untuk merayakan Tahun Baru, dan menyelundupkan ganja dan berbagai jenis narkoba lainnya ke dalam bungkus rokok dan kaus kaki mereka.
Sebelumnya, media massa rezim Zionis melaporkan bahwa Dubai menjadi salah satu destinasi liburan dan prostitusi bagi para turis Israel.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth juga menulis dalam sebuah laporan hari Selasa bahwa turis Israel mencuri semua yang bisa mereka ambil dari hotel UEA.
UEA menjadi negara Arab pertama di Teluk Persia yang secara resmi mengumumkan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis pada 13 Agustus 2020 melalui mediasi Presiden AS Donald Trump.
Palestina: Rudal Perlawanan Ubah Kalkulasi Rezim Zionis !
Juru bicara Komite Perlawanan Palestina menyatakan bahwa rudal perlawanan di Gaza telah mengubah kalkulasi rezim Zionis.
Mohammad Al-Barim Jumat malam menyinggung latihan bersama pertama yang dilakukan kelompok-kelompok Palestina di Jalur Gaza menunjukkan otoritas penuh dan kekuatan Palestina dalam menghadapi rezim Zionis.
"Kekuatan gerakan perlawanan, termasuk rudalnya dan persatuan nasional Palestina mengubah kalkulasi rezim Zionis," ujar Al-Barim.
Sebelumnya, Mohammed Al-Barim hari Senin (28/12/2020) mengatakan sebanyak 12 kelompok perlawanan Palestina berpartisipasi dalam latihan perang di Gaza yang dinamai Al-Rukn Al-Shadid.
Berbagai brigade faksi perlawanan Palestina dari batalyon Al-Qassam, sayap militer Hamas; batalyon Al-Muqawamah Al-Wataniyah, sayap militer Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP); Saraya al-Quds, sayap militer Jihad Islam; batalyon Abu Ali Mustafa, sayap militer Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (FPLP), dan batalyon Al-Aqsa, yang berafiliasi dengan gerakan Fatah, berpartisipasi dalam latihan perang gabungan di Gaza.
Rezim Saudi Lanjutkan Penangkapan Ulama
Sumber informasi di Arab Saudi melaporkan penangkapan sejumlah ulama dan Imam Shalat Jumat bersama sejumlah jemaahnya di wilayah Al-Baha oleh pasukan keamanan rezim Al-Saud.
Harian Saudi Okaz hari Minggu (3/1/2021) melaporkan tujuh Imam Jumat dan jemaahnya di wilayah Al-Baha ditangkap karena dianggap mengabaikan instruksi kementerian urusan Islam dan dakwah mengenai Ikhwanul Muslimin yang dilarang di negara ini.
Pada tanggal 14 Juli, Kementerian Urusan Islam Saudi memerintahkan interogasi terhadap 100 penceramah dan imam masjid Mekkah dan Al-Qassim karena mengabaikan masalah peringatan tentang Ikhwanul Muslimin.(PH)