Tantangan Mencari Solusi Damai untuk Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i9844-tantangan_mencari_solusi_damai_untuk_suriah
Kementerian Luar Negeri Suriah pada Senin (23/5/2016) menyatakan bahwa negara-negara pendukung teroris telah mendorong berlanjutnya kejahatan di Suriah dengan dukungan yang mereka berikan untuk aksi-aksi teror.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 24, 2016 12:14 Asia/Jakarta
  • Tantangan Mencari Solusi Damai untuk Suriah

Kementerian Luar Negeri Suriah pada Senin (23/5/2016) menyatakan bahwa negara-negara pendukung teroris telah mendorong berlanjutnya kejahatan di Suriah dengan dukungan yang mereka berikan untuk aksi-aksi teror.

Pernyataan itu dirilis setelah tujuh ledakan bom mengguncang kota Tartous dan Jableh di barat Suriah dan merenggut nyawa sedikitnya 150 orang.

 

Kemenlu Suriah dalam surat terpisah kepada sekjen PBB dan ketua periodik Dewan Keamanan, menegaskan bahwa kebijakan pasif terhadap aksi negara-negara pendukung teroris seperti Arab Saudi, Qatar, dan Turki, merupakan lampu hijau bagi teroris untuk meneruskan kejahatannya terhadap rakyat Suriah.

 

"Para pendukung teroris di Suriah dengan memanfaatkan isu terorisme sebagai instrumen untuk menekan dan memeras, ingin mengejar tujuan-tujuan kotornya di mana perkara ini membahayakan keamanan dan perdamaian kawasan dan dunia," tegas pernyataan tersebut.

 

Kota Tartous dan Jableh di barat Suriah pada Senin menyaksikan tujuh ledakan bom yang menewaskan sedikitnya 150 orang. Kelompok teroris Daesh mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

 

Sekjen PBB Ban Ki-monn dan sejumlah pemimpin dunia mengecam serangan tersebut dan menganggap insiden tragis itu sebagai bukti lain atas esensi sadis dan anti-kemanusiaan kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah.

 

Aksi teror di Tartous dan Jableh disebut sebagai serangan yang paling mematikan oleh kelompok Daesh di Suriah dalam lima tahun terakhir. Serangan ini terjadi ketika para perwakilan pemerintah Suriah dan pemberontak bersenjata – selain Daesh dan Front al-Nusra – sedang terlibat perundingan untuk menciptakan gencatan senjata permanen di Suriah.

 

Meskipun gencatan senjata di Suriah telah berlangsung sekitar tiga bulan lalu menyusul kesepakatan antara Amerika Serikat dan Rusia, namun kelompok-kelompok teroris takfiri Daesh dan Front al-Nusra telah memanfaatkan kondisi itu untuk mengintensifkan serangannya dan membunuh ratusan rakyat Suriah.

 

Para pejabat Damaskus percaya bahwa teroris Daesh dan Front al-Nusra – yang didukung Arab Saudi, Qatar, dan Turki – sengaja melakukan kejahatan luas sehingga upaya internasional untuk mengakhiri krisis Suriah secara damai menjadi gagal.

 

Di pihak lain, Arab Saudi dan AS berkali-kali mengkritik proses perundingan damai di Suriah dan menegaskan jika pandangan-pandangan mereka tidak diakomodir, tekanan dan perang terhadap pemerintah Suriah akan ditingkatkan.

 

Kelompok teroris dan para pendukungnya – setelah kegagalan konspirasinya terhadap pemerintah dan rakyat Suriah – terus berupaya mengobarkan kejahatan di berbagai kota dan meningkatkan tekanan politik terhadap Damaskus untuk memperkuat posisinya dalam transformasi Suriah.

 

Namun, beberapa indikasi mencatat bahwa skenario penggulingan pemerintah Bashar al-Assad tidak akan mudah dilakukan karena dukungan-dukungan di dalam negeri kepada militer dan pemerintah Suriah. Negara-negara pendukung teroris pada akhirnya tidak punya jalan lain kecuali menerima proposal internasional untuk memulai perundingan dengan pihak-pihak Suriah. (RM)