Arab Saudi, Mitra Unggulan Amerika, dengan Label “Sapi Perah”
https://parstoday.ir/id/news/world-i188190-arab_saudi_mitra_unggulan_amerika_dengan_label_sapi_perah
Pars Today - Presiden Amerika Serikat menunjukkan bahwa dalam menghadapi Arab Saudi dan negara‑negara Arab lainnya di Timur Tengah, ia memiliki pandangan yang sepenuhnya merendahkan dan eksploitatif sepihak.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Apr 02, 2026 09:30 Asia/Jakarta
  • Mohammed bin Salman dan Donalt Trump
    Mohammed bin Salman dan Donalt Trump

Pars Today - Presiden Amerika Serikat menunjukkan bahwa dalam menghadapi Arab Saudi dan negara‑negara Arab lainnya di Timur Tengah, ia memiliki pandangan yang sepenuhnya merendahkan dan eksploitatif sepihak.

Menurut laporan Pars Today mengutip FNA, perang yang dipaksakan oleh koalisi Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran memiliki semacam latar belakang regional. Dua negara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam latar belakang perang ini memiliki peran yang menonjol, tetapi negara‑negara ini menanggung kerugian terbesar dalam menghadapi pembelaan terhadap rezim Zionis.

Dalam perang ini, baik tanah maupun uang negara‑negara tersebut digunakan oleh Amerika untuk membela rezim Zionis. Dan sekarang Trump dengan nada yang sepenuhnya menghina berbicara tentang Mohammad bin Salman, putra mahkota Arab Saudi.

Baru‑baru ini Donald Trump, presiden Amerika, dalam sebuah acara publik, menghina dan merendahkan putra mahkota Saudi, Mohammad bin Salman.

Ia, yang sedang berpidato dalam sebuah forum investasi yang didukung oleh Arab Saudi, dengan menggunakan bahasa yang vulgar dan kasar, berkata, “Dia (bin Salman) tidak menyangka akan datang untuk mencium pantat saya, dia benar‑benar tidak percaya itu… dan sekarang dia harus bersikap baik kepada saya… lebih baik dia bersikap baik kepada saya, dia harus melakukan itu…”.

Trump sebelumnya menyebut Arab Saudi sebagai “sapi perah”, yang menampilkan suatu jenis diskursus politik terhadap negara‑negara yang menganggap diri mereka sebagai sekutu Washington, tetapi Amerika hanya memerah susu negara‑negara ini untuk tujuan sendiri.

Apa yang diperlihatkan Trump terhadap Arab Saudi lebih dari sekadar perubahan nada atau ketegangan politik sementara. Perubahan ini dari metafora ekonomi “sapi perah” hingga penghinaan langsung dan terang‑terangan terhadap Mohammad bin Salman mengungkapkan suatu realitas struktural dalam hubungan Washington dengan sekutu regionalnya.

Dalam pandangan ini, negara‑negara Teluk Persia tidak pernah memiliki posisi lebih dari sekadar “alat”. Mereka menjadi alat untuk mendanai perang, menampung pangkalan militer, membeli senjata mahal, dan memastikan kepentingan strategis Amerika.

Ketika alat‑alat ini bergerak sesuai dengan definisi yang ditetapkan Washington, mereka akan dipuja dengan panggilan yang menipu seperti “sekutu strategis dan utama”, dan ketika menunjukkan sedikit penyimpangan atau bahkan independensi suara, mereka akan dihina dengan tangan yang sama yang pernah mendukung mereka.

Semua alat ini sebenarnya digunakan untuk membela rezim Zionis.

Dalam kenyataannya, dalam piramida kekuasaan negara‑negara Arab, meskipun mereka mengeluarkan biaya finansial terbesar, mereka berada di posisi paling bawah, sementara Amerika dan Israel berada di puncak piramida tersebut.

Aliansi dengan Amerika bagi negara‑negara kawasan bukanlah sebuah pilihan yang seimbang, melainkan memasuki sebuah persamaan yang tidak simetris, di mana biayanya (menjadikan ketegangan nuklir dengan Iran, pemboman bandara dan instalasi minyak, serta penghinaan terang‑terangan terhadap para pemimpinnya) ditanggung oleh mereka, dan keuntungannya (penyediaan keamanan yang dianggap ada serta pemberian legitimasi internasional) tetap berada dalam genggaman Washington dan Tel Aviv.

Pengungkapan kontradiksi ini di depan umum oleh presiden Amerika, yang dengan keterusterangan yang belum pernah terjadi sebelumnya menyingkap hakikat kolonial dari hubungan ini, barangkali merupakan titik balik untuk mendefinisikan ulang perhitungan strategis di Riyadh dan Abu Dhabi.

Pertanyaan historis ini kini lebih dari sebelumnya berada di hadapan sekutu‑sekutu tradisional Barat: apakah mereka masih bersedia membayar harga keamanan dan kehormatan mereka dengan “pemerasan susu” tanpa akhir dan menanggung penghinaan terang‑terangan, ataukah sudah tiba waktunya untuk mendefinisikan ulang tatanan kawasan yang independen dari kehendak orang asing, berdasarkan poros kedekatan (tetangga) dan kerja sama yang nyata?(sl)