Amerika Tinjauan dari Dalam 18 Desember 2021
Dinamika Amerika Serikat selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya sikap pejabat AS mengenai perundingan nuklir di Wina.
Selain itu, Rusia menanggapi rencana pengiriman pasukan AS ke Eropa Timur, Kongres AS menyatakan bahwa Korut berusaha melumpuhkan sistem anti-rudal AS, dan AS berniat mengirim peralatan militer dari Afghanistan ke Ukraina.
Menlu AS: Diplomasi, Opsi Terbaik untuk Hadapi Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan, Washington akan melanjutkan diplomasi dengan Iran, karena ini merupakan salah satu opsi terbaik yang ada.
Antony Blinken, Selasa (14/12/2021) dalam pidatonya di Universitas Indonesia, Jakarta menuturkan, "AS saat ini tengah menyiapkan opsi-opsi alternatif jika perundingan nuklir dengan Iran, gagal."
Seperti dikutip Reuters, Blinken menjelaskan bahwa Amerika Serikat secara aktif melakukan negosiasi dengan sekutu-sekutunya terkait opsi-opsi alternatif ini.
Sebelumnya Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jalina Porter mengatakan, sekarang terlalu cepat untuk menilai apakah strategi Iran sudah semakin konstruktif atau tidak.
Ia menambahkan, "Akan tetapi saya akan mengatakan bahwa prioritas kami adalah menghidupkan secara konstruktif perundingan nuklir dengan seluruh pihak yang berusaha kembali ke komitmen kesepakatan nuklir JCPOA."

AS Berunding dengan Anggota JCPOA Tanpa Iran
Delegasi anggota kelompok empat plus satu dan Uni Eropa bertemu wakil AS pada Minggu malam di tengah upaya untuk menghidupkan kembali JCPOA.
Para peserta pertemuan yang diadakan tanpa kehadiran Iran ini membahas status terakhir perundingan Wina.
Mikhail Ulyanov, kepala negosiator Rusia kepada wartawan sebelum pertemuan mengatakan, "Anda harus menyadari bahwa upaya menghidupkan kembali JCPOA adalah proses yang mencakup banyak pertemuan formal dan informal di berbagai tingkat dan format,".
"Pertemuan-pertemuan ini saling melengkapi dan memastikan kemajuan pekerjaan," ujar Ulyanov.
Diplomat senior Rusia ini menilai pencapaian terbesar dari pertemuan terbaru adalah kelanjutan dari pembicaraan Wina dan kembalinya ke rutinitas diplomatik normal.
"Iran memiliki hak untuk menyajikan ide-ide baru dan kami memiliki kewajiban untuk mempertimbangkannya," tegas Ulyanov.
Putaran baru perundingan Wina dilanjutkan Kamis lalu dengan dimulainya pertemuan Komisi Gabungan JCPOA.
Setelah pertemuan berakhir, para delegasi mulai memfokuskan pada teks-teks bersama dan berusaha mengurangi perbedaan yang ada saat ini.
Pada hari Minggu, untuk pertama kalinya, pertemuan ahli ketiga yang disebut Kelompok Kerja Tindakan Eksekutif diadakan dalam rangka dua negosiasi baru dengan partisipasi ahli dari kelompok 4 + 1, Uni Eropa dan Iran.

WP: Keluar dari JCPOA, AS Harus Terima Iran sebagai Negara Nuklir
Surat kabar Amerika Serikat mengatakan, karena AS sudah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA, maka ia terpaksa harus belajar hidup berdampingan dengan Iran sebagai sebuah negara nuklir.
Washington Post dalam artikel yang ditulis Max Boot, Senin (13/12/2021) menilai keputusan mantan Presiden AS Donald Trump keluar dari JCPOA sebagai kesalahan kalkulasi paling mengerikan dalam kebijakan luar negeri AS setelah agresi militer ke Irak tahun 2003.
Menurut Max Boot, berkat kesepakatan nuklir JCPOA, Iran memangkas 97 persen cadangan bahan bakar nuklirnya, dan meningkatkan kapasitas pengayaan uraniumnya hingga 3,67 persen.
"Keluarnya AS dari kesepakatan nuklir JCPOA memberi kesempatan kepada Iran untuk menghidupkan kembali program nuklirnya. Tahun lalu Badan Energi Atom Internasional, IAEA melaporkan cadangan uranium Iran, 12 kali lipat lebih besar dari batas yang diizinkan JCPOA. Selain itu, Iran sudah menaikan kapasitas pengayaan uraniumnya sampai 60 persen," imbuhnya.
Max Boot menegaskan, bahkan para pejabat keamanan Israel yang sebagian besar menentang kesepakatan nuklir JCPOA di masa Presiden Barack Obama, sekarang mengakui keputusan keluar dari JCPOA memberikan dampak yang kontraproduktif.
Rusia Tanggapi Rencana Pengiriman Pasukan AS ke Eropa Timur
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menganggap pernyataan Gedung Putih tentang rencana pengiriman pasukan AS ke Eropa Timur jika situasi di Ukraina memburuk, sebagai sinyal provokatif.
"Tidak jelas mengapa pemerintah AS melakukan ini, alih-alih berfokus pada cara alternatif untuk memperkuat keamanan, yang ditawarkan oleh Rusia dalam bentuk jaminan," kata Ryabkov seperti dikutip IRNA, Rabu (15/12/2021).
Ia akan bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS Karen Donfried di Moskow pada Rabu malam untuk membahas gagasan jaminan keamanan.
"Kami akan mendengarkan apa yang mereka katakan kepada kami dalam bentuk apa. Kami berharap bahwa niat serius akan ditunjukkan terhadap proposal jaminan keamanan yang diajukan Rusia," kata Ryabkov.
Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki sebelumnya mengatakan, Washington sedang mempertimbangkan untuk mengirim pasukan AS ke Eropa Timur jika situasi di Ukraina memburuk.
"Jika Anda melihat apa yang terjadi pada tahun 2014, banyak mitra NATO telah meminta dukungan, meningkatkan kehadiran, atau mengerahkan pasukan tambahan secara bergilir," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan NATO telah meningkatkan kehadiran militernya di dekat perbatasan Rusia dengan dalih adanya ancaman dari Moskow terhadap Barat.
Moskow menekankan bahwa kehadiran militernya di perbatasannya dengan Ukraina sebagai tindakan yang wajar, tetapi Washington dan sekutunya mengesankan situasi di perbatasan Rusia-Ukraina sedang bergejolak.
Kongres: Korut Berusaha Lumpuhkan Sistem Anti-Rudal AS
Lembaga riset Kongres Amerika Serikat mengabarkan kemajuan program rudal balistik Korea Utara dalam mengembangkan kemampuan melumpuhkan atau mereduksi kekuatan pertahanan rudal AS yang ditempatkan di kawasan Asia Timur.
Dikutip kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Selasa (14/12/2021), lembaga riset Kongres AS mengklaim, Korea Utara sedang berusaha melawan atau melumpuhkan program pertahanan rudal AS di kawasan Asia Timur.
Laporan ini dirilis setelah Korea Utara melakukan serangkaian uji coba rudal jarak pendek dan jarak menengah selama tahun 2021 ini.
"Sepertinya kemajuan terbaru dalam program uji coba rudal balistik Korut dilakukan untuk mengembangkan kemampuan mengalahkan atau mengurangi kekuatan pertahanan rudal AS di kawasan termasuk rudal Patriot, sistem pertahanan rudal balistik Aegis dan THAAD," paparnya.
Ditegaskannya, selain itu kemajuan Korut di bidang rudal balistik yang bisa ditembakan dari kapal selam, menunjukkan upaya untuk menghadapi sistem pertahanan rudal THAAD yang dipasang di permukaan melalui serangan laut dan di luar jangkauan radar.

AS Berniat Kirim Peralatan Militer dari Afghanistan ke Ukraina
Pemerintahan Joe Biden sedang mempertimbangkan rencana untuk mengirim peralatan militer AS yang pernah dipakai di Afghanistan ke Ukraina.
The Wall Street Journal dalam sebuah laporan pada Jumat (17/12/2021) menulis, para pejabat Kiev meminta Gedung Putih untuk mengirim helikoper Mi-17 buatan Rusia dan peralatan militer lainnya, yang pernah dialokasikan untuk militer Afghanistan, ke Ukraina.
Pejabat Ukraina juga melobi pemerintah AS untuk pengiriman sistem pertahanan udara, termasuk rudal permukaan-ke-udara Stinger, yang akan membantu mereka mempertahankan negara.
AS selalu mencari cara untuk menekan Rusia sebagai rivalnya di Timur. Washington sekarang menuduh Moskow telah meningkatkan kehadiran pasukannya di dekat perbatasan Ukraina.
Namun, Rusia menegaskan kehadiran pasukan di perbatasannya dengan Ukraina sebagai langkah yang wajar, tetapi AS dan sekutunya berusaha mengesankan situasi di perbatasan kedua negara sedang memanas.(PH)