Eropa Timur vs Eropa Barat; Veto Paket Sanksi ke-15 Uni Eropa terhadap Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i169910-eropa_timur_vs_eropa_barat_veto_paket_sanksi_ke_15_uni_eropa_terhadap_rusia
Upaya Uni Eropa untuk mencapai konsensus dalam penerapan paket sanksi ke-15 terhadap Rusia tidak berhasil, karena veto Latvia dan Lithuania.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 09, 2024 07:24 Asia/Jakarta
  • Eropa Timur vs Eropa Barat; Veto Paket Sanksi ke-15 Uni Eropa terhadap Rusia

Upaya Uni Eropa untuk mencapai konsensus dalam penerapan paket sanksi ke-15 terhadap Rusia tidak berhasil, karena veto Latvia dan Lithuania.

Tehran, Parstoday-Menyusul veto paket sanksi Uni Eropa ke-15 terhadap Rusia yang dilakukan Latvia dan Lituania, negosiasi antara anggota Uni Eropa untuk memberikan tekanan lebih besar pada Moskow ditunda ke tanggal lain.

Uni Eropa telah menyetujui serangkaian sanksi terhadap Moskow sejak tahun 2022 dan setelah perang di Ukraina untuk mendukung Ukraina dan memberikan tekanan pada Rusia.

Paket sanksi ini lebih fokus pada sektor energi Rusia guna meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia. Terkait hal ini, negara-negara Eropa berupaya meningkatkan lingkaran tekanan terhadap Rusia dalam beberapa pekan terakhir dengan menyiapkan paket sanksi baru yang menyasar armada kapal tanker minyak Rusia.

Berdasarkan rancangan paket sanksi bartu Uni Eropa, Brussels berupaya memasukkan lebih banyak kapal tanker ke dalam daftar hitam, sehingga totalnya menjadi 75 kapal. Namun paket ini tidak disetujui dalam pertemuan anggota Uni Eropa, karena adanya tentangan dari dua anggotanya, Latvia dan Lithuania.

Setelah lebih dari dua tahun perang Rusia-Ukraina, embargo minyak dan gas Rusia menjadi salah satu faktor meningkatnya tekanan Eropa terhadap Rusia di satu sisi, dan di sisi lain semakin memperparah perpecahan dan perselisihan internal  Uni Eropa dalam masalah energi.

Negara-negara Eropa, yang selama beberapa dekade menerima pasokan sebagian besar kebutuhan minyak dan gas mereka dari Rusia, dengan dimulainya perang Ukraina ditekan supaya mengikuti permintaan Amerika dengan memberikan sanksi kepada sektor energi Rusia dalam beberapa tahap yang menyebabkan negara-negara Eropa sendiri kesulitan.

Hal tersebut semakin menimbulkan kerugian bagi negara-negara Eropa Timur, sehingga sejak awal sanksi, negara-negara seperti Republik Ceko, Slovakia dan Hongaria dibebaskan dari larangan sanksi Uni Eropa yang jatuh tempo hingga ketidakmampuan untuk menemukan pemasok alternatif. Namun kini para pejabat Eropa percaya bahwa pengecualian ini telah membuka jalan bagi kelanjutan hubungan dengan Rusia; Oleh karena itu, dalam paket sanksi baru, dilakukan upaya untuk membatalkan pengecualian terhadap negara-negara tersebut, yang menyebabkan kegagalan perundingan.

Faktanya, ketika negara-negara Eropa berupaya menerapkan lebih banyak sanksi dan mempererat hubungan perdagangan dengan Rusia, terlepas dari semua tekanan yang ada, pendapatan ekspor Rusia dari penjualan energi justru meningkat.

Dalam konteks ini, Peter Szijjarto Menteri Luar Negeri Hongaria mengatakan beberapa waktu lalu bahwa tindakan pembatasan Uni Eropa terhadap Rusia tidak akan membantu mengakhiri konflik di Ukraina dengan cara apa pun dan akan lebih merugikan perekonomian Eropa daripada Rusia. Dia menekankan bahwa Budapest menganggap kebijakan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia sebagai kegagalan total.

Negara-negara Eropa yang selama puluhan tahun sejak berdirinya Uni Eropa telah berusaha membuktikan konvergensi dan kesatuan pendapat para anggota organisasi ini dalam mengambil keputusan mengenai permasalahan dalam dan luar negerinya dalam beberapa tahun terakhir, tidak hanya mengenai isu sanksi terhadap Rusia, tetapi juga mengenai isu-isu penting lainnya seperti imigran, keputusan tentang perang Gaza, dan juga kasus-kasus lain, termasuk krisis Ukraina, memiliki perbedaan pendapat yang kuat. Penentangan negara-negara seperti Latvia terhadap paket sanksi baru embargo minyak Rusia adalah kasus terbaru dalam bidang ini.

Tampaknya perbedaan pendapat di dalam Uni Eropa semakin meningkat dibandingkan sebelumnya, dan beberapa negara Eropa sudah tidak mau lagi mengorbankan kepentingan nasionalnya demi kepentingan dan tujuan Uni Eropa.

Kini, dengan tidak adanya kesepakatan kedua negara anggota Uni Eropa mengenai alokasi paket sanksi ke-15, paket tersebut akan dibahas kembali pada pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa berikutnya pada 16 Desember. Di sisi lain, hal ini akan mempersempit lingkaran sanksi terhadap Rusia, sebuah permintaan yang tampaknya tidak mungkin terjadi.(PH)