Kerjasama Iran-Rusia dan Sikap Usil AS
Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa lalu menyatakan bahwa pesawat pembom jarak jauh Rusia lepas landas dari pangkalan udara di Iran untuk melakukan serangan terhadap basis teroris Daesh dan Front al-Nusra (Fath al-Sham) di Suriah.
Mereaksi tindakan Rusia ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner mengatakan pengerahan jet-jet tempur Rusia di pangkalan Iran bisa melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.
Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan kehadiran jet-jet tempur negaranya di Iran tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan.
Rusia sekitar satu tahun lalu meluncurkan serangan udara terhadap basis Daesh di Suriah atas permintaan resmi pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Kapal perang Rusia pada Oktober 2015 juga melepaskan 26 rudal jarak jauh ke posisi Daesh di wilayah Suriah dari Laut Kaspia, yang melintasi zona udara Iran.
Para pengamat percaya bahwa sejauh ini kita belum bisa berbicara tentang kerjasama strategis skala penuh antara Iran dan Rusia, namun krisis Suriah mungkin dapat menjadi sebuah pengecualian.
Faktanya sekarang adalah bahwa Iran dan Rusia melalui pemahaman kolektif tentang ancaman-ancaman di kawasan khususnya Suriah, mampu mencapai sebuah kerjasama strategis di negara Arab itu.
Meski demikian kerjasama militer pada tingkat ini tidak bisa dibawa ke semua bidang lain. Rusia dan Iran memiliki perbedaan pandangan terkait perundingan damai Timur Tengah dan isu Palestina, begitu juga dengan pembahasan rezim hak-hak Laut Kaspia. Dalam transformasi di Kaukasus Selatan, Iran juga tidak terlibat langsung dalam proses perundingan damai Karabakh dan meskipun Rusia menjadi salah satu pemimpin Grup Minsk, tetapi tidak ada sinyal-sinyal dari kerjasama antara Tehran dan Moskow dalam konflik di kawasan itu.
Kepala Pusat Studi Strategis Dewan Penentu Kebijakan Iran, Ali Akbar Velayati mengatakan kerjasama pertahanan Iran dan Rusia tidak mengejutkan. Menurutnya, memiliki hubungan strategis dengan Moskow menutut kerjasama-kerjasama seperti perang anti-terorisme.
"Pandangan Republik Islam Iran terhadap hubungan dengan Rusia adalah strategis dan komprehensif serta berada pada level kerjasama politik, pertahanan, dan ekonomi," jelas Velayati.
Dia menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Tehran dan Moskow telah menandatangani berbagai perjanjian untuk melawan agresi transregional di negara-negara berdaulat. Kedua pihak menandatangani pakta pertahanan dan mengadopsi kerjasama komprehensif dan strategis.
Tehran, tegas Velayati, tidak menerima penafsiran Washington atas kerjasama Iran-Rusia. Menurutnya, interpretasi AS tidak dapat diterima, karena mereka hanya mengejar kepentingannya sendiri, tetapi Iran bergerak sejalan dengan hukum dan aturan internasional.
Atas dasar hubungan strategis tersebut, sekarang kapasitas militer, intelijen, dan wilayah berada dalam konteks kerjasama ini. Jelas langkah ini mengundang reaksi negatif dari AS dan rezim Zionis Israel serta memunculkan interpretasi sepihak dari Washington.
Washington dan Tel Aviv tampaknya menyadari kedudukan penting kerjasama Tehran-Moskow dan mereka mengetahui bahwa masalah ini bisa memiliki implikasi sampai pada tingkat global.
Sejumlah pengamat menilai kunjungan terbaru Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif ke Ankara bertujuan untuk menjajaki pembentukan kerjasama trilateral antara Iran, Turki, dan Rusia guna menyelesaikan krisis dan menciptakan stabilitas di Suriah.
Semua perkembangan tersebut membawa pesan yang jelas untuk AS dan beberapa negara regional terutama Arab Saudi. Turki mulai mengubah orientasi politiknya dalam memandang Barat. Presiden Recep Tayyib Erdogan sekarang memprioritaskan solusi politik untuk krisis Suriah.
Ada tanda-tanda bahwa peristiwa mengejutkan akan terjadi di kawasan khususnya Suriah dalam waktu dekat ini. Perimbangan internasional dan regional sedang berubah dengan cepat dan menurut Velayati, para politisi senior sekalipun tidak dapat membaca arah perkembangan politik dalam situasi saat ini selama beberapa pekan ke depan. (RM)