Mengapa Plot Trump untuk Mengganti Rezim di Iran akan Gagal?
https://parstoday.ir/id/news/world-i183708-mengapa_plot_trump_untuk_mengganti_rezim_di_iran_akan_gagal
Jaringan Al Jazeera English dalam sebuah artikel membahas alasan kegagalan rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melakukan perubahan rezim di Iran.
(last modified 2026-01-06T07:14:32+00:00 )
Jan 06, 2026 14:11 Asia/Jakarta
  • Mengapa Plot Trump untuk Mengganti Rezim di Iran akan Gagal?

Jaringan Al Jazeera English dalam sebuah artikel membahas alasan kegagalan rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melakukan perubahan rezim di Iran.

Al Jazeera English menulis bahwa pernyataan Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat akan “siap menembak” jika aparat keamanan Iran menargetkan para demonstran damai merupakan pernyataan bernada keras.

Kurang dari 24 jam setelah pernyataan tersebut, pasukan khusus Amerika Serikat melancarkan operasi di Caracas, menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro dari kediamannya, dan membawanya ke New York untuk diadili.

Menurut laporan Parstoday, dengan menunjukkan bahwa pemerintahannya mampu merealisasikan ancaman di Venezuela, Trump berupaya meningkatkan tekanan psikologis terhadap Republik Islam Iran. Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menyebut pernyataan Trump sebagai tindakan “sembrono dan berbahaya”.

Meski jelas bahwa pemerintah Iran telah menerima peringatan tersebut, Iran bukanlah Venezuela. Apa yang terjadi di Caracas pada kenyataannya tidak dapat terjadi di Teheran.

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) telah beroperasi selama enam bulan di Caracas untuk mempersiapkan operasi tersebut. Badan intelijen ini memiliki seseorang yang dekat dengan Maduro yang membantu melacak keberadaannya.

Pada dini hari Sabtu, jet-jet tempur Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap target-target militer di dalam dan sekitar Caracas. Setelah itu, satu tim pasukan khusus Amerika Serikat dikerahkan untuk menculik Maduro dari tempat tinggalnya. Faktor utama keberhasilan operasi ini adalah kondisi militer Venezuela yang berada dalam keadaan kacau.

Namun enam bulan sebelumnya, Iran secara tegas telah menyampaikan kepada Amerika Serikat dan Israel bahwa perubahan rezim di Iran bukanlah target yang mudah. Hal ini dibuktikan Iran selama konflik 12 hari dengan Israel pada bulan Juni. Meskipun Israel melancarkan serangan mendadak yang menyebabkan gugurnya sejumlah komandan Korps Garda Revolusi Islam dan ilmuwan nuklir Iran, serta disertai operasi psikologis yang mengancam para pejabat dan perwira tinggi militer Iran, Republik Islam Iran tidak menyerah.

Serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran dengan menggunakan bom penghancur bunker juga tidak menggoyahkan sistem Republik Islam. Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran mampu meluncurkan ratusan rudal, menembus sistem pertahanan Kubah Besi Israel, dan menghantam sasaran-sasaran militer.

Iran memiliki sekitar satu juta personel militer aktif dan cadangan, menjadikannya angkatan bersenjata terbesar di kawasan. Korps Garda Revolusi Islam sendiri mengomandoi sedikitnya 150 ribu personel, yang banyak di antaranya telah berpengalaman dalam pertempuran. Selain itu, Iran juga memiliki pasukan Basij yang terdiri dari ratusan ribu anggota aktif dan cadangan.

Menyerang Iran tidak semudah menyerang Venezuela. Dengan bentang alam pegunungan dan wilayah perkotaan yang luas, operasi militer di Iran bahkan tidak dapat dibandingkan dengan Irak.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran memang menyaksikan sejumlah protes yang dipicu oleh masalah ekonomi. Namun kondisi ini belum tentu menjadi peluang sebagaimana yang dibayangkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Sejarah menunjukkan bahwa agresi asing cenderung mendorong persatuan sosial, bukan perpecahan. Hal ini terlihat jelas pada musim panas lalu, ketika rakyat Iran tidak terpengaruh oleh provokasi Israel terhadap pemerintah mereka.

Pemerintah Iran, berkat kerangka institusionalnya yang kuat dan mampu melewati masa-masa sulit, telah berhasil bertahan menghadapi empat dekade sanksi dan tekanan ekonomi Barat.

Pada akhirnya, Trump dan para jenderalnya tidak akan mampu mengendalikan dan mengubah negara yang kompleks seperti Iran. Setiap proyek semacam itu hampir pasti akan memicu kekacauan dan pertumpahan darah di kawasan, yang dampaknya akan jauh lebih parah dan lebih berkepanjangan dibandingkan Irak.(PH)