Mengapa Aksi Protes terhadap Pembunuhan Wanita di Minneapolis Meluas di AS?
Kota Minneapolis kembali menjadi perhatian publik negara AS.Pasalnya, pada 7 Januari terjdi aksi penembakan yang dilakukan polisi Kantor Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) terhadap perempuan muda negara ini.
Tehran, Parstoday- Ribuan orang di berbagai kota turun ke jalan mengecam aksi kekerasan yang kembali dilakukan oleh polisi ICE. Para demonstran meneriakan slogan protes "Keadilan untuk Perempuan" dan "Hentikan Kekerasan Pemerintah". Gelombang protes tidak hanya terjadi di Minneapolis, tapi merambah ke Chicago, Portland hingga New York. Peristiwa ini mengingatkan kembali kekerasan yang dilakukan polisi AS terhadap George Floyd di tahun 2020.
Kota yang sama, kembali menjadi saksi aksi pembunuhan yang dilakukan polisi terhadap warga Amerika Serikat. Insiden ini dengan jelas menunjukkan kebobrokan etika polisi Minneapolis, yang memicu gelombang protes dari warga Amerika Serikat.
Peningkatan wewenang personil federal, terutama bagi ICE di era Trump meningkatkan aksi represi terhadap warga AS, lebih khusus kepada para imigran. Dalam kondisi demikian, aksi penembakan yantg dilakukan personil polisi bersenjata kepada seoerang wanita dengan jarak yang dekat menyulut banjir protes yang meluas di negara ini.
Polisi ICE berdalih dirinya melakukan pembelaan diri. Tapi walikota Minneapolis menyebut klainnya tidak benar dan menghina. Ia menyerukan penarikan segera pasukan federal dari wilayahnya. Walikota Minnesota menuntut dilakukannya penyelidikan independen terhadap kasus tersebut.
Sementara itu, pemerintah federal AS, termasuk Donald Trump justru memberikan dukungan pembelaan terhadap aksi yang dilakukan polisi ICE. Trump di media sosial, Trunth Social menulis,"Personil ICE mempertaruhkan dirinya demi membela nyawa para sejawatnya dari ancaman".
Tentu saja, sikap tersebut memicu reaksi keras dari berbagai kalangan di AS sendiri. Mereka mengkritik sikap Trump yang menjadikan personil pemerintah menjadi pasukan yang membunuh warganya sendiri.
Berdasarkan laporan Center for America Progress, insiden Minneapolis menunjukkan bahwa kebijakan imigrasi Trump berada di luar kendali dan yang terjadi adalah kekerasan dan tanpa kontrol. Kelanjutan aksi ini akan menyebabkan kepercayaan terhadap lembaga federal semakin tergerus dan runtuh.
Media AS, New York Times mengungkapkan bahwa masyarakat AS saat ini menghadapi kesenjangan sosial yang dalam antara keamanan nasional dan keadilan sosial. Berbagai lembaga sosial di AS memandang peristiwa terbaru di Minneapolis menunjukkan reproduksi rasisme kelembagaan.
Urban Institute dan ACLU mengkhawatirkan kelanjutan aisi ini yang berdampak buruk bagi AS. Mereka menilai pemusatan wewenang melebihi batas terhadap personil imigrasi federal tanpa mempertimbangkan tuntutan publik akan mengancam demokrasi di AS.