Mengapa Pakistan Mengritik Sikap Trump Terkait Kerusuhan di Iran?
-
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif
Pars Today – Pakistan mengkritik sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kerusuhan di Iran.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif, yang selalu mengkritik keterlibatan Amerika dengan rezim Zionis dalam genosida terhadap warga Palestina, sebagai tanggapan atas campur tangan Amerika Serikat dalam urusan internal Iran, menyerukan Trump untuk melakukan intervensi nyata di Gaza demi mencegah kejahatan Israel.
Khawaja Muhammad Asif, yang merupakan penentang keras kebijakan intervensi Amerika Serikat di kawasan, bereaksi terhadap pendekatan ganda Presiden AS Donald Trump dalam membahas Iran dan terus mendukung rezim Zionis.
Ia menulis di akun X resminya, yang secara implisit merujuk pada kemunafikan Trump tentang perdamaian dan membantu menghentikan perang, bahwa Presiden AS dapat melakukan intervensi di Gaza dan mencegah pembantaian warga Palestina.
Menteri Pertahanan Pakistan menambahkan, "Seluruh dunia bersatu melawan genosida terhadap warga Palestina dan agresi Israel, tetapi alih-alih campur tangan dan menghentikan kejahatan ini, mereka malah terus memberikan senjata kepada Israel dan membantu pembantaian di Gaza."
Minggu lalu, Menteri Pertahanan Pakistan menganggap rezim Zionis sebagai penjahat paling dibenci dalam sejarah dan mengatakan, "Amerika mungkin telah tertipu oleh kebohongan Netanyahu, atau keduanya mungkin terlibat dalam tindakan anti-Iran."
Ia menekankan bahwa Perdana Menteri rezim Zionis selalu berbohong tentang program nuklir damai Iran dan tujuannya adalah untuk melegitimasi agresi terhadap Iran di masa depan.
Selain itu, banyak pakar, masyarakat, dan pejabat Pakistan, yang mengamati peristiwa terkini di Iran, dan mengatakan, "Tehran tidak akan pernah menyerah pada kebrutalan Eropa dan Amerika, dan kali ini pun mereka akan menggagalkan konspirasi Barat dan Israel."
Di antara mereka, Sirajul Haq, mantan Ketua Jamaat-e-Islami Pakistan mengkritik pendekatan ganda Trump terhadap pembantaian warga Palestina dan dukungannya terhadap kerusuhan di Iran.
Ia menulis, "Sementara Donald Trump melanjutkan dukungan politik dan militer Washington yang komprehensif untuk Tel Aviv dengan secara resmi menyambut pelaku utama pembantaian warga Palestina dan jagal Gaza, Netanyahu, ke Gedung Putih, ia secara bersamaan mencoba memperkenalkan dirinya sebagai pembela hak asasi manusia dengan memperbesar aksi demonstrasi beberapa orang di Iran. Pendekatan ini merupakan tamparan bagi standar dan nilai-nilai global."
Tampaknya kritik Pakistan terhadap posisi Donald Trump terhadap kerusuhan di Iran berakar pada serangkaian pertimbangan geopolitik, keamanan, dan diplomatik. Posisi Trump, termasuk ancaman "intervensi" dan peringatan keras terhadap Teeran, secara alami telah membangkitkan sensitivitas negara-negara tetangga Iran, termasuk Pakistan.
Alasan pertama kritik Pakistan adalah kekhawatiran tentang ketidakstabilan regional. Setiap peningkatan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dapat memiliki implikasi keamanan langsung bagi Pakistan.
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa bahkan kemungkinan serangan AS atau tekanan militer terhadap Iran akan menempatkan Islamabad dalam posisi sulit. Seperti pada tahun 2025, Pakistan memperingatkan tentang serangan AS terhadap fasilitas nuklir damai Iran, dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Oleh karena itu, sikap keras Trump pada Januari 2026 juga dilihat oleh Pakistan sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.
Alasan kedua adalah kekhawatiran tentang konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi. Pakistan telah berulang kali menyatakan dalam beberapa tahun terakhir bahwa krisis apa pun di Iran dapat mengganggu perdagangan lintas batas dan menyebabkan tekanan ekonomi.
Laporan menunjukkan bahwa Pakistan telah memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu ke Iran karena kerusuhan dan pemadaman internet di Iran. Ini menunjukkan bahwa Islamabad menganggap kerusuhan di Iran sebagai ancaman langsung terhadap keamanan warganya dan khawatir akan eskalasi oleh AS dan rezim Zionis.
Alasan ketiga adalah prinsip-prinsip kebijakan luar negeri Pakistan. Islamabad selalu menekankan non-intervensi dalam urusan internal negara-negara regional.
Kritik terhadap sikap Trump juga dapat dianalisis dalam konteks ini, terutama dalam situasi di mana hubungannya dengan Tehran sangat penting untuk keamanan perbatasan bersama. Selain itu, Pakistan telah berulang kali mengkritik posisi AS dalam mendukung rezim Zionis atas genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Alasan keempat adalah pertimbangan domestik. Rakyat Pakistan dan banyak politisi di negara itu telah berulang kali menyatakan dukungan mereka kepada Iran melawan kebijakan dan tindakan agresif dan ilegal AS terhadap Iran. Selain itu, pengalaman reaksi keras Iran terhadap pernyataan intervensionis Trump dan para pejabat pemerintahannya menunjukkan bahwa Tehran menganggap setiap dukungan terhadap tekanan asing sebagai campur tangan dalam urusan internalnya.
Secara umum, kritik Pakistan terhadap sikap Trump pada Januari 2026 disebabkan oleh kombinasi kekhawatiran keamanan, ekonomi, prinsip-prinsip kebijakan luar negeri, dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan regional. Faktor-faktor yang telah memaksa Islamabad untuk mengambil sikap kritis terhadap nada agresif Washington.(sl)