Mengapa Mayoritas Warga Amerika Menentang Pencaplokan Greenland?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184154-mengapa_mayoritas_warga_amerika_menentang_pencaplokan_greenland
Jajak pendapat baru menunjukkan penolakan luas masyarakat Amerika terhadap upaya pengambilalihan Greenland.
(last modified 2026-01-15T07:04:13+00:00 )
Jan 15, 2026 13:54 Asia/Jakarta
  • Mengapa Mayoritas Warga Amerika Menentang Pencaplokan Greenland?

Jajak pendapat baru menunjukkan penolakan luas masyarakat Amerika terhadap upaya pengambilalihan Greenland.

Menurut laporan Pars Today, hasil sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa hanya 17 persen warga Amerika yang mendukung upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland, sementara mayoritas signifikan dari Partai Demokrat dan Republik menentang penggunaan kekuatan militer untuk mencaplok pulau tersebut.

Hasil jajak pendapat dua hari Reuters/Ipsos yang dirilis pada Rabu, 14 Januari, menunjukkan bahwa sekitar 47 persen responden menentang upaya Trump untuk mengambil alih Greenland, dan 35 persen menyatakan “tidak yakin.” Satu dari lima orang mengatakan bahwa mereka belum pernah mendengar tentang rencana Amerika Serikat untuk menguasai Greenland.

Hanya empat persen warga Amerika yang mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk memisahkan Greenland dari Denmark adalah “ide yang baik,” sementara 71 persen menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer terhadap Greenland adalah ide yang buruk. Selain itu, 66 persen responden—91 persen dari Partai Demokrat dan 40 persen dari Partai Republik—mengatakan bahwa mereka khawatir pengambilalihan Greenland akan merusak hubungan Amerika Serikat dengan Eropa dan NATO.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Selasa, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan verbal antara Amerika dan negara-negara Eropa, menyatakan bahwa NATO harus membuka jalan bagi Washington untuk memperoleh Greenland, sebuah pulau yang berada di bawah kedaulatan Denmark.

Presiden Amerika kembali mengklaim bahwa jika Amerika Serikat tidak menguasai wilayah tersebut, Rusia atau China akan melakukannya, dan hal itu tidak boleh terjadi. Trump mengklaim bahwa jika Greenland berada di tangan Amerika Serikat, NATO akan menjadi jauh lebih kuat dan efektif, dan bahwa apa pun yang kurang dari itu tidak dapat diterima.

Pada hari Rabu, Trump juga menulis di media sosial Truth bahwa Amerika membutuhkan Greenland demi tujuan keamanan nasional. Ia menyebut bahwa hal ini penting bagi “kubah emas” yang sedang dibangun Amerika. Proyek kubah emas tersebut direncanakan menjadi sebuah sistem berlapis yang mencakup wilayah dari orbit bumi hingga infrastruktur lokal di Amerika Serikat. Trump menegaskan bahwa sistem tersebut bukan hanya kumpulan rudal pencegat, tetapi juga mencakup jaringan luas satelit, radar, sistem anti-drone, dan bahkan mungkin senjata berenergi terarah.

Terlepas dari tekanan dan ancaman Washington, para pejabat Greenland menegaskan bahwa wilayah tersebut akan tetap menjadi bagian dari Denmark. Dalam hal ini, Jens-Frederik Nielsen, Perdana Menteri Greenland, menyatakan keinginannya untuk mempertahankan status politik pulau yang hampir otonom tersebut di bawah kedaulatan Denmark. Ia berkata: “Jika kami harus memilih antara Denmark dan Amerika Serikat, pilihan kami adalah Denmark.”Sebelumnya, negara-negara Eropa juga secara terbuka menyatakan penolakan terhadap keputusan Amerika mengenai pengambilalihan Greenland.

Mette Frederiksen, Perdana Menteri Denmark, pada hari Selasa mengecam apa yang ia sebut sebagai “tekanan yang tidak dapat diterima” dari “beberapa sekutu yang sangat dekat.”Penolakan tegas negara-negara Eropa bersama Denmark terhadap keinginan Trump untuk mengambil alih Greenland sejalan dengan penolakan serupa di dalam negeri Amerika.

Pada kenyataannya, mayoritas besar warga Amerika, berdasarkan jajak pendapat dua hari Reuters/Ipsos, menentang upaya pengambilalihan Greenland, dan penolakan ini berakar pada sejumlah faktor politik, historis, etis, dan strategis. 

Berdasarkan jajak pendapat tersebut, hanya sekitar 17 persen warga Amerika yang mendukung upaya presiden untuk memperoleh Greenland, dan mayoritas dari Partai Demokrat maupun Republik menentangnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap gagasan tersebut bukan isu partisan, melainkan konsensus nasional.Salah satu alasan utama penolakan tersebut adalah sensitivitas opini publik Amerika terhadap penggunaan kekuatan atau ancaman untuk mengambil alih wilayah negara lain. Jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas kedua partai menentang penggunaan kekuatan militer untuk mencaplok Greenland.

Hal ini berakar pada pengalaman sejarah Amerika dan pandangan publik terhadap perang-perang yang mahal dan berkepanjangan. Secara umum, masyarakat Amerika semakin skeptis terhadap keterlibatan militer di luar negeri, dan setiap tindakan yang terkesan sebagai intervensi atau ekspansionisme akan memicu reaksi negatif.

Faktor penting lainnya adalah penghormatan terhadap sekutu tradisional Amerika. Greenland adalah wilayah otonom Denmark, dan Denmark merupakan anggota kunci NATO serta salah satu sekutu terdekat Washington. Ancaman untuk menekan Denmark atau menciptakan ketegangan dengan negara tersebut dianggap tidak perlu dan bahkan merugikan oleh banyak warga Amerika.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap rusaknya hubungan dengan Denmark merupakan salah satu alasan utama penolakan luas tersebut.Selain itu, banyak warga Amerika memandang gagasan membeli atau mengambil alih sebuah wilayah sebagai sesuatu yang berasal dari era kolonial.

Di abad ke-21, tindakan semacam itu dianggap tidak dapat diterima secara moral dan politik oleh sebagian besar masyarakat Amerika. Pandangan ini juga bertentangan dengan nilai-nilai yang diklaim Amerika mengenai hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa.Lebih jauh lagi, meskipun Greenland memiliki kepentingan geopolitik, bagi warga Amerika pada umumnya isu tersebut jauh dari kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran mengenai biaya pembangunan infrastruktur, pengelolaan wilayah yang luas dan bersuhu dingin, serta dampak ekonominya bagi pembayar pajak turut memperkuat penolakan.

Tampaknya penolakan luas warga Amerika terhadap pengambilalihan Greenland mencerminkan kombinasi antara realisme politik, sensitivitas moral, kekhawatiran ekonomi, dan keinginan untuk menjaga hubungan stabil dengan sekutu. Jajak pendapat baru Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa masyarakat Amerika merespons secara hati-hati dan rasional terhadap gagasan-gagasan petualangan Trump dalam kebijakan luar negeri, khususnya terkait penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Greenland atau membelinya dari Denmark.(PH)