Bagaimana Trump Mengubah Amerika Latin Jadi Arena Kebijakan Hegemonik AS?
-
Presiden AS Donald Trump
Parstoday- Seorang analis Amerika mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat terhadap negara-negara Amerika Latin dan mengatakan bahwa Donald Trump telah menunjukkan sifat dominan dalam kebijakan luar negeri Washington.
Greg Grandin, profesor sejarah di Universitas Yale menulis dalam sebuah analisis di situs New Arab, "Presiden Amerika Serikat, tanpa cadar, telah menunjukkan sifat hegemonik kebijakan luar negeri negara ini di halaman belakang tradisionalnya. Dalam waktu kurang dari setahun sejak kembali ke Gedung Putih, Trump telah menculik presiden terpilih Venezuela, menjatuhkan sanksi ilegal terhadap negara-negara merdeka seperti Kuba dan Nikaragua, mengancam Meksiko dengan “invasi” dan Kolombia dengan “kudeta”. Mereka menargetkan Brazil dengan tarif yang sangat tinggi, mengirim pencari suaka tunawisma ke penjara-penjara yang ditakuti di El Salvador, dan secara terbuka mencampuri kedaulatan nasional negara-negara seperti Panama, Honduras, dan Guatemala, telah secara efektif mendefinisikan kembali teori “halaman belakang” dengan gaya fasis."
Menurut Grandin, Pendekatan ini merupakan kelanjutan logis dari tradisi panjang imperialisme Amerika. Selama krisis struktural kapitalisme, badan penguasa Amerika Serikat selalu menyerang negara tetangga yang lebih lemah untuk mengkonsolidasikan dominasinya dan mengalihkan opini publik ke arah “musuh asing”. Dari kudeta berdarah di abad ke-20 hingga “Perang Melawan Narkoba” dan “Doktrin Monroe”, Amerika Latin selalu menjadi laboratorium hegemoni Washington.
Analisis ini menyatakan, "Trump, sebagai simbol imperialisme kontemporer yang paling ekstrem, bahkan tidak lagi melihat perlunya kasus hak asasi manusia dan demokratisasi palsu yang dilakukan pendahulunya. Dia dengan jelas mengedepankan prinsip "Might is Right" dan dengan mengejek kedaulatan nasional suatu negara, dia membuktikan kepada dunia bahwa tatanan internasional liberal hanyalah alat untuk membenarkan kekerasan. "
Analis Amerika ini menekankan, "Sejarah akan membuat keputusan akhir. Sama seperti Franklin Roosevelt, salah satu presiden Amerika, setelah Resesi Besar, melakukan pembangunan kembali neo-kolonialisme dengan kedok "kebijakan tetangga yang baik", saat ini Trump memajukan proyek yang sama dengan wajah yang lebih keras. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa saat ini, masyarakat Amerika Latin dan gerakan anti-kolonial global telah menemukan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengungkap dan menghadapi konspirasi ini."(sl)