Arab Saudi: Ancaman terhadap Iran Tidak Dapat Diterima
Menyusul meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat dan eskalasi ancaman Israel di kawasan, telah terbentuk gelombang sikap dukungan dan peringatan dari negara-negara Islam dalam membela Republik Islam Iran.
Menyusul meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat dan eskalasi ancaman Israel di kawasan, telah terbentuk gelombang sikap dukungan dan peringatan dari negara-negara Islam dalam membela Republik Islam Iran.
Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, dalam percakapan telepon dengan Masoud Pezeshkian, Presiden Republik Islam Iran, menyatakan bahwa Riyadh menganggap segala bentuk ancaman dan ketegangan terhadap Iran sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima serta siap bekerja sama dengan Iran dan negara-negara kawasan demi perdamaian yang berkelanjutan.
Menurut laporan Pars Today, bin Salman mengatakan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah darat maupun ruang udaranya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Republik Islam Iran. Ia juga menegaskan dukungan Arab Saudi terhadap setiap upaya penyelesaian perbedaan melalui dialog guna memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan. Dalam percakapan telepon tersebut, Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam dan menegaskan bahwa perundingan hanya dapat diterima dalam kerangka hukum internasional serta dengan tetap menjaga hak-hak bangsa Iran.
Firas al-Yasser dari Dewan Politik Al-Nujaba
Al-Nujaba: Respons terhadap serangan terhadap Iran akan segera dilakukanDalam kaitan ini, Firas al-Yasser dari Dewan Politik Al-Nujaba memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat terhadap Iran akan menyeret kawasan ke dalam konfrontasi luas, dan perlawanan Irak akan bertindak sejak saat-saat pertama. Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, juga menyatakan bahwa perang terhadap Iran dapat membakar seluruh kawasan dan Hizbullah tidak akan bersikap netral terhadap kemungkinan agresi.
Maulana Fazlur Rahman, Ketua Jamiat Ulema-e-Islam Pakistan
Peringatan Pakistan mengenai dampak ancaman Israel terhadap IranDi sisi lain, Maulana Fazlur Rahman, Ketua Jamiat Ulema-e-Islam Pakistan, dalam parlemen negara tersebut memperingatkan bahwa ancaman Israel terhadap Iran dapat membawa dampak langsung terhadap keamanan Pakistan dan kawasan. Ia menyatakan bahwa kelanjutan tren ini akan mengancam stabilitas negara-negara tetangga, termasuk Pakistan, dan negara-negara Arab akan menjadi sasaran pertama.
Ulama Syiah dan Sunni Afghanistan utara dalam sebuah pertemuan di Mazar-e Sharif
Pernyataan solidaritas ulama Syiah dan Sunni Afghanistan dengan IranSementara itu, para ulama Syiah dan Sunni di Afghanistan utara dalam sebuah pertemuan di Mazar-e Sharif menyatakan solidaritas dengan rakyat dan sistem Republik Islam serta menekankan persatuan umat Islam. Hujjatul Islam wal Muslimin Hussein Ali Bayani, Ketua Dewan Ulama Syiah Provinsi Balkh, dalam acara tersebut mengecam tindakan koersif Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dan mengatakan bahwa media-media yang tidak memiliki nilai kemanusiaan dan keislaman, dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan Israel, beroperasi melawan bangsa-bangsa Muslim khususnya bangsa Iran, serta melalui rumor dan kebohongan berupaya menguasai opini publik dunia. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh tertipu oleh media-media tersebut.
Velayati: Trump akan segera menyerah karena takut kalah
Pada saat yang sama, Ali Akbar Velayati, Sekretaris Jenderal Majelis Dunia Kebangkitan Islam, dalam sebuah pernyataan yang ditujukan kepada Pemimpin Revolusi Islam menyatakan bahwa Majelis Dunia Kebangkitan Islam mengikuti strategi Wali Fakih dalam bidang perlawanan. Ia mengatakan bahwa Trump, sebagaimana ia rakus terhadap kekuasaan dan materi, apabila merasa bahwa langkah yang telah dimulainya berpotensi berujung pada kekalahan, akan dengan cepat mengangkat tangan dan menyerah.
Kesiapan penuh Iran untuk mempertahankan keutuhan wilayahnya
Selanjutnya, Mohammadi, pakar hubungan internasional, dalam program “Goftogu-ye Vijeh Khabari” di televisi Iran, menggambarkan konfigurasi militer Amerika Serikat di kawasan sebagai sangat kompleks dan menyatakan bahwa analisis yang menyederhanakan persoalan tidak dapat menjelaskan realitas. Ia menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan sejumlah pihak lain memiliki kehendak politik untuk menciptakan ketegangan di Asia Barat, namun Donald Trump masih menghadapi “keraguan serius”.
Menurut Mohammadi, musuh tengah mengonsolidasikan kapabilitasnya untuk berbagai skenario ancaman, tetapi pada saat yang sama juga dihadapkan pada ketakutan dan keraguan yang signifikan.(PH)