Cendekiawan Islam: 22 Bahman Adalah Simbol Perlawanan dan Keteguhan
https://parstoday.ir/id/news/world-i185308-cendekiawan_islam_22_bahman_adalah_simbol_perlawanan_dan_keteguhan
Pars Today - Sejumlah cendekiawan, elit, dan intelektual dari dunia Islam menekankan dalam sebuah pesan bahwa 22 Bahman tidak hanya milik bangsa Iran, tetapi merupakan hari bersejarah dan menginspirasi bagi seluruh umat Islam.
(last modified 2026-02-11T15:52:33+00:00 )
Feb 11, 2026 22:49 Asia/Jakarta
  • Syeikh Khaled Al-Mulla, Ketua Asosiasi Ulama Sunni Irak
    Syeikh Khaled Al-Mulla, Ketua Asosiasi Ulama Sunni Irak

Pars Today - Sejumlah cendekiawan, elit, dan intelektual dari dunia Islam menekankan dalam sebuah pesan bahwa 22 Bahman tidak hanya milik bangsa Iran, tetapi merupakan hari bersejarah dan menginspirasi bagi seluruh umat Islam.

Dalam pesan itu, Syeikh Khaled Al-Mulla, Ketua Asosiasi Ulama Sunni Irak, Syeikh Ghazi Hanina, Ketua Dewan Pengawas Majelis Ulama Muslim Lebanon, Syeikh Hussein Qassim, Ketua Dewan Ulama Palestina dan sejumlah ulama dan intelektual lain dari dunia Islam menekankan bahwa 22 Bahman tidak hanya milik bangsa Iran, tetapi merupakan hari bersejarah dan menginspirasi bagi seluruh umat Islam.

Menurut mereka, 22 Bahman merupakan simbol keteguhan, tekad, dan ketekunan umat Islam di hadapan kesombongan global. Mereka menekankan bahwa Revolusi Islam Iran pada 22 Bahman mengandung pelajaran besar bagi umat Islam dan semua pencinta kebebasan di dunia. Pelajaran yang menunjukkan bahwa hanya melalui keteguhan dan perlawananlah seseorang dapat menjaga dan melindungi identitas Islam yang autentik serta kehormatan dan kemuliaan Islam yang dicintai di dunia yang tercemar dan hegemonik saat ini, serta memperkenalkannya kepada dunia.

Para cendekiawan dan elit ini menggambarkan Revolusi Islam Iran sebagai contoh hidup perlawanan yang sukses, dan mengidentifikasi 22 Bahman sebagai titik balik dalam sejarah kebangkitan Islam dan inspirasi bagi gerakan-gerakan pencari kebebasan di dunia Islam.

Mohammad Farooq Hussain, seorang peneliti Banglades

Ulama Banglades: Imam Khamenei Simbol Persatuan dan Keberanian

Sementara itu, Mohammad Farooq Hussain, seorang peneliti Banglades, mengatakan, “Sejak kemenangan Revolusi Islam lebih dari empat dekade lalu, Amerika Serikat, rezim Zionis, dan beberapa sekutu Barat mereka telah berusaha melemahkan Republik Islam Iran dengan menggunakan berbagai alat seperti sanksi ekonomi, tekanan politik, perang psikologis, dan skema keamanan, tapi langkah-langkah ini tidak mencapai hasil yang diinginkan dan selalu gagal.”

Dia menambahkan, “Imam Khamenei bukanlah sekadar figur individu. Ia adalah simbol Revolusi Islam, kehendak bangsa Iran, dan suara rakyat tertindas dan pencari kebebasan di seluruh dunia.”

Ulama Banglades itu menekankan bahwa ancaman, sanksi, dan tekanan tidak pernah mampu menghentikan jalan kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, tindakan-tindakan itu selalu memperkuat solidaritas dan ketahanan Front Perlawanan.”

Mamosta Mulla Mohammad Mohamadi, Imam Jumat kota Rawandsar

Mamosta Mohamadi: Revolusi Islam Hidup dan Menginspirasi Dunia

Dalam hal ini, Mamosta Mulla Mohammad Mohamadi, Imam Jumat kota Rawandsar di provinsi Kermanshah, Iran barat, mengatakan, “Kebencian kekuatan-kekuatan arogan terhadap Iran berasal dari sifat inspiratif Revolusi Islam dan tantangannya terhadap sistem dominasi.”

Dalam peringatan 22 Bahman, ia menggambarkan Revolusi Islam sebagai transformasi fundamental dalam sistem intelektual dan identitas, serta dalam keseimbangan kekuatan global, menekankan bahwa Revolusi Islam bukanlah peristiwa historis dan terbatas, melainkan proses yang hidup, dinamis, dan berkelanjutan berdasarkan iman, kemerdekaan, dan pengejaran keadilan.

Mamosta Mohammadi mengatakan, “Revolusi Islam membuktikan bahwa agama dapat menjadi dasar bagi pemerintahan dan kemajuan masyarakat.”

Ia menggambarkan permusuhan berkelanjutan kekuatan arogan global terhadap Republik Islam Iran sebagai hal yang mendalam, dan menyatakan, “Alasan utama permusuhan ini adalah sifat inspiratif Revolusi Islam dan tantangannya terhadap sistem hegemonik, bukan masalah sementara.”

Mamosta Qadri, Imam Jumat kota Paveh di Provinsi Kurdistan

Mamosta Qadri: Tak Ada Kekuatan Dapat Menghentikan Iradah Bangsa Iran

Dalam hal ini, Mamosta Qadri, Imam Jumat kota Paveh di Provinsi Kurdistan, Iran Barat, mengatakan, “Revolusi Islam merupakan titik balik dalam sejarah Iran. Rakyat, yang bersatu dan solid, bangkit melawan penindasan dan korupsi rezim sebelumnya, dan membuktikan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan kehendak bangsa.”

Dia menambahkan, “Empat puluh tujuh tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ketaatan terhadap kepemimpinan, wawasan, dan kehadiran aktif di lapangan adalah kunci kesuksesan dan pelestarian pencapaian Revolusi Islam Iran.”(sl)