Mantan Menhan AS Peringatkan: Perang Iran akan Jadi 'Vietnam' bagi Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i191014-mantan_menhan_as_peringatkan_perang_iran_akan_jadi_'vietnam'_bagi_trump
Pars Today - Mantan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, memperingatkan bahwa perang melawan Iran berubah menjadi perang ala Vietnam bagi Presiden Donald Trump.
(last modified 2026-06-06T07:43:48+00:00 )
Jun 06, 2026 14:41 Asia/Jakarta
  • Mantan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta
    Mantan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta

Pars Today - Mantan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, memperingatkan bahwa perang melawan Iran berubah menjadi perang ala Vietnam bagi Presiden Donald Trump.

Dilansir Pars Today, 6 Juni 2026, dalam wawancara dengan CNN, Panetta menyatakan, "Perang ini secara serius berubah menjadi perang ala Vietnam bagi Trump. Di Vietnam, kami bernegosiasi, tetapi pada akhirnya, Vietnam Utara tetap memegang kendali penuh."

"Tidak peduli kesepakatan apa yang kita buat dengan sistem Iran yang keras kepala, mereka akan tetap menguasai Selat Hormuz, dan mereka akan terus melakukan pengayaan uranium semampu mereka," tegasnya.

Mantan menteri tersebut mengungkapkan bahwa Trump, berdasarkan jaminan dari Israel, mengira bahwa dengan membunuh para pemimpin Iran, rezim akan runtuh dalam beberapa hari.

"Itu adalah kalkulasi yang salah secara fatal. Sistem Iran yang keras kepala tetap berkuasa. Dan selama mereka berkuasa, kesepakatan apa pun yang kita tandatangani akan bersifat sementara," pungkas Panetta.

Pasar Saham AS Terjun Bebas

Media AS melaporkan bahwa pasar saham AS mengalami hari terburuknya sejak Oktober 2025. Indeks S&P 500 jatuh 2,6 persen, Dow Jones turun 695 poin (1,4 persen), dan Nasdaq merosot 4,2 persen akibat aksi jual besar-besaran di saham-saham teknologi raksasa.

Panetta, seorang Demokrat senior yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan di bawah Obama, kini menggemakan apa yang sudah lama dikatakan oleh para kritikus: perang ini adalah bencana. Baik secara finansial, politik, dan militer, AS tidak bisa menang. Satu-satunya pilihan adalah mengakui bahwa kekuatan Iran tidak dapat dihancurkan, dan Hormuz akan tetap menjadi ranah kedaulatan mereka.

Dulu ada Vietnam. Kini ada Iran. Polanya sama: percaya pada janji-janji palsu, meremehkan ketahanan musuh, dan berakhir dengan kegagalan. Panetta, yang dulu mendukung perang, kini menjadi nabi bagi kebenaran yang tak diinginkan. Di Vietnam, AS kalah. Di Iran, ceritanya sama. Hanya kostum dan namanya yang berbeda.(Sail)